"Kalau Engkau mau Engkau dapat mentahirkan aku." (1Sam 4:1-11; Mrk 1:40-45)
"Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru" (Mrk 1:40-45), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Antonius, Abas, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Seorang dokter spesialis bedah otak pada suatu hari dengan rendah hati berkata kepada saya: "Romo, peran saya sebagai dokter untuk penyembuhan pasien hanya 50% , 50% yang lain tergantung dari pasien yang bersangkutan serta perawatan post operasi". Mendengar pengakuan itu saya tanggapi:"Tidak pak dokter, menurut saya peran dokter 100%, peran pasien 100% dan perawatan juga 100%". Menurut saya peran pasien sungguh menentukan penyembuhan, yaitu penyerahan diri kepada dokter maupun perawat serta tentu saja kepada Tuhan, sebagaimana dimohon oleh seorang yang sakit kusta kepada Yesus :"Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku". Jika kita jujur mawas diri kiranya kita semua saat ini sedang menderita sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh, dan kiranya kita juga butuh penyembuhan agar tetap hidup sehat wal'afiat serta segar bugar. Maka marilah kita meneladan si penyakit kusta tersebut: marilah dengan rendah hati membuka hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita untuk disembuhkan oleh Tuhan melalui partisipasi sesama dan saudara-saudari kita. Sebagaimana Yesus menanggapi si kusta :"Aku mau, jadilah engkau tahir", marilah kita dengarkan, resapkan dan cecap dalam-dalam apa yang dikatakan oleh saudara dan sesama kita, entah itu nasehat, pujian, kritikan, ejekan, cemoohan dst.. Yakini dan imani bahwa apapun yang dikatakan dan dilakukan oleh saudara atau sesama kita terhadap diri kita yang lemah dan rapuh ini adalah perwujudan kasih Allah. Jika mereka tidak mengasihi kita tak mungkin mereka mengritik, mengejek, mencemooh atau memuji. Bukankah sebelum mereka memuji, mengejek, mengkritik dst.. berarti sudah sekian lama mereka memperhatikan kita, alias memberi hati dan kasih kepada kita. Maka hendaknya senantiasa menanggapi aneka perkataan dan perbuatan sesama dan saudara-saudari kita dengan kata 'terima kasih', artinya kita telah menerima kasih, apapun yang dikatakan dan dilakukan adalah kasih. · "Allah mereka telah datang ke perkemahan itu," (1Sam 4:7), demikian kata orang-orang Filistin ketika melihat 'tabut perjanjian Tuhan' hadir di antara orang-orang Ibrani yang mereka diperangi. "Tabut perjanjian Tuhan" merupakan kekuatan dan bentuk kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka, kehadiranNya dapat menaklukkan segala sesuatu. St.Antonius yang kita rayakan hari ini adalah orang yang sungguh berbakti kepada Tuhan; ia terkesan dengan sabda Yesus : "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."(Mat 19:21) Sabda Yesus tersebut telah mengalahkan berbagai keinginan dan kerinduan akan harta benda, pangkat/kedudukan/jabatan atau kehormatan. Ia menjadi pertapa dan banyak orang datang kepadanya serta bergabung dengannya di padang gurun untuk 'bertapa'. Allah hadir dan berkarya di padang gurun dan dimana-mana. Maka marilah kita imani kehadiran Allah dalam hidup kita sehari-hari, antara lain dalam bentuk perjanjian yang pernah kita ikrarkan: janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul membiara, janji pelajar atau pegawai dst. Jika kita setia pada janji-janji tersebut, percayalah kita pasti akan dapat mengalahkan berbagai macam godaan setan atau roh jahat, dan para penjahat atau orang berdosa akan berkata seperti orang Filistin: "Allah mereka telah datang ke perkemahan itu. "Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu.Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun."(1Sam 4:7-8) · "Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus! Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu dan melupakan penindasan dan impitan terhadap kami?" (Mzm 44:24-25) Jakarta, 17 Januari 2008 .

