Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kepada saya pernah dinasihatkan; jangan sampai kamu membiarkan 
hatimu menjadi buta, tuli, dan bisu. Mungkin nasihat itu terasa 
seperti sekedar basa-basi. Tetapi jika kita coba cermati, ternyata 
memang; hati manusia itu menentukan segala tindakan dan 
perbuatannya. Baik kepada diri sendiri, maupun orang lain. Orang-
orang yang hatinya buta, tidak dapat melihat dampak merugikan yang 
ditimbulkan dari perilakunya yang buruk. Orang-orang yang hatinya 
tuli, tidak bisa mendengar jerit tangis orang lain. Dan orang-orang 
yang hatinya bisu, tidak mampu mengatakan bisik kebajikan bahkan 
sekedar kepada dirinya sendiri. Jadi, sungguh berbahaya jika manusia 
sampai membiarkan hatinya menjadi buta, tuli, dan bisu. Sebab jika 
sudah demikian, kita yang menganggap diri sebagai mahluk mulia ini 
tidak akan malu lagi untuk melakukan apa saja. Seburuk apapun itu. 
Karena kita pada dasarnya; tidak lagi memiliki hati nurani.

Saya ada sesi presentasi CRM dihadapan sekitar 50 orang sales force 
hari Jum'at kemarin. Dalam perjalanan menuju lokasi presentasi, 
radio mobil saya tuned in di sebuah stasiun. Setelah memutarkan 
beberapa lagu, penyiar bercerita tentang proses penggusuran sebuah 
pasar bunga yang sudah sejak jaman dahulu hadir disalah satu sudut 
kota Jakarta. Kemudian dia mengatakan bahwa diseberang telepon sudah 
tersambung seorang pedagang bunga sekaligus pemilik satu dari 108 
buah kios yang dirobohkan budozer aparat pemerintah. 

Ketika mendengar hal itu, hati saya biasa-biasa saja. Mungkin karena 
sudah terlampau sering saya mendengar kabar, membaca dikoran, atau 
menyaksikan lewat pesawat televisi; peristiwa-peristiwa penggusuran 
semacam itu. Isak tangis ibu-ibu pemilik gubuk atau kios. Kemarahan 
para lelaki yang tertindas. Semuanya sudah menjadi biasa. Jadi, saya 
tidak lagi merasakan itu sebagai sesuatu yang perlu dipedulikan. 
Semuanya, biasa-biasa saja. 

Pagi itu, tangan saya terasa enggan untuk sekedar memencet remote 
control agar berita tak bernilai itu tidak lagi terdengar ditelinga 
saya. Bosan rasanya. Tapi, mengapa tangan ini sama sekali tidak 
kuasa untuk meraih remore control itu? Seolah memaksa diri saya 
untuk mendengar percakapan radio itu. Baiklah, saya dengarkan saja. 

"Pak Cahya," demikian sang penyiar radio menyebut lelaki diseberang 
telepon. "Apa yang saat ini sedang terjadi disana?"
"Ya, disini aparat pemerintah sedang membumihanguskan kios-kios 
kami," dia bercerita.
"Lalu apa yang anda dan rekan-rekan lakukan?" lanjutnya. 
"Kami berbaris saja didepan pasar dengan damai sambil menyaksikan 
para petugas yang digaji dari retribusi yang kami bayar setiap hari 
itu merusak semua milik kami." katanya. Telinga saya mulai 
terkesiap. Seperti telinga seekor anjing yang mendengar suara 
gemerisik ditengah kesunyian malam. "Sementara kami tidak kuasa 
menyaksikan mereka menginjak-injak kaum perempuan dan ibu-ibu."
"A-apa yang Bapak maksudkan menginjak-injak kaum perempuan?"
"Dibarisan paling depan ada ibu-ibu yang duduk dengan damai sambil 
memegang bunga, lalu para petugas ...."

Saya tidak lagi dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan 
pemilik kios bunga itu. Sebab, tiba-tiba saja saya merasakan mata 
ini berkaca-kaca. Ah, mengapa harus cengeng! Begitu hati saya 
memberontak. Tetapi, semakin dia melawan, semakin terang-terggambar 
dalam imajinasi saya suasana yang tengah terjadi dipasar bunga yang 
terusir itu. Saya memang beberapa kali menyaksikan proses 
penggusuran pasar dan rumah warga di berita-berita televisi. Dan, 
saat ini; tayangan demi tayangan itu berputar-putar diotak saya. Dan 
semakin kuat hati saya memberontak, semakin samar pandangan saya 
oleh air mata yang kini sudah meleleh dipipi kiri dan kanan.

Hey! Sudah sangat lama saya tidak menitikkan air mata. Mengapa hari 
ini saya melakukannya? Masihkah kamu seorang lelaki bersuara lantang 
itu? Kemana gerangan ketegaran dirimu pergi? Saya tidak tahu. Saya. 
Tidak. Tahu. Yang saya tahu, dada saya tidak kuasa lagi menahan 
gejolak. Aneh, telinga saya mendengar suara seseorang yang tengah 
terisak. Padahal, didalam mobil itu hanya ada saya sendirian. Jadi, 
suara siapakah gerangan itu?  

Sekitar jam delapan kurang lima belas menit, mobil yang saya 
kendarai melintasi pasar Jatinegara menuju ke arah Matraman. Ketika 
saya berhenti diperempatan yang tertahan oleh lampu merah, saya 
mendapati diri saya sudah menangis seperti seorang pencinta yang 
ditinggal pergi kekasih hatinya. Orang-orang yang menyeberang 
melintasi mobil mungkin mengira saya memang tengah patah hati. Para 
pengendara motor yang berjejer dikanan dan kiri menanti lampu hijau 
terheran-heran; mengapa ada lelaki berdasi yang tengah mengendari 
mobil sambil menangis? Tapi, ah. Biarkan saja. Mereka tidak mengerti 
apa yang saat ini tengah saya rasakan dalam hati ini. Saya biarkan 
saja hujan setempat itu terus mengguyur. Toh ada kertas tissue yang 
bisa digunakan untuk menyekanya kemudian. 

Gerimis pagi itu mulai mereda ketika melintasi pasar kenari. Semua 
perasaan gundah itu hilang begitu saja. Aneh. Semuanya sirna kecuali 
kaca spion yang memantulkan bentuk mata sembab saya seolah tidak 
tidur selama berhari-hari. "Hey, kamu itu mau melakukan presentasi." 
saya berbisik sendiri. "Bagaimana bisa, dengan mata semacam itu?" 
Ah, tidak apa-apa. Mata ini akan segera pulih kembali. Sebab, air 
mata yang baru saja dikeluarkannya itu memang untuk membasuh hati 
yang sudah buram ini. Sekarang, hati saya terasa ringan. Dan tiba-
tiba saja, dia bisa melihat lebih terang. Mendengar lebih jelas. Dan 
berkata dengan suara yang lebih jernih. Saya sudah menemukan hati 
itu kembali.

Ketika saya menyeka wajah dihadapan cermin di toilet; saya melihat, 
mata itu sudah kembali seperti mata yang biasanya. Sama sekali tidak 
nampak disana sisa-sisa kegundahan. Yang ada, hanyalah perasaan 
lega. Karena hari ini, saya kembali diingatkan bahwa; hati tidak 
boleh dibiarkan mati.

Pagi itu, sebelum sesi presentasi dimulai, saya berkata kepada rekan 
yang bertugas menyiapkan slide-slide kami; "Tolong tambahkan satu 
slide lagi."
"Isinya apa, Pak?" kata sahabat saya.
"Tuliskan disana: Bekerja Dengan Hati" kata saya. "Lalu, tolong 
carikan gambar hati, dan simpan di slide itu." Kemudian sahabat saya 
melakukannya.
"Tolong jadikan itu sebagai slide pertama saya untuk presentasi pagi 
ini...." begitu saya menambahkan.

Ketika sesi itu tiba tepat jam sembilan pagi, saya memulainya dengan 
sebuah slide berisi gambar hati. Sungguh relevan dengan materi 
presentasi saya pagi ini, yaitu; memuliakan pelanggan. Memuliakan 
orang-orang disekitar kita. Dan memang benar. Langkah pertama yang 
harus kita lakukan untuk apapun adalah; membawa serta hati kita.

Bayangkan jika kita bisa membawa serta hati terhadap setiap 
pekerjaan yang kita lakukan. Apakah itu pekerjaan yang berhubungan 
dengan CRM seperti yang saya bawakan dipagi itu. Ataukah pekerjaan 
lain yang sehari-hari kita geluti. Pastilah, kita akan dengan ikhlas 
melakukannya. Benar, kita masih mengharapkan bayaran. Tidak apa-apa. 
Sebab begitulah hukum pelayanan dalam konteks pekerjaan. Kita 
melayani. Dan orang yang kita layani memberikan bayarannya. Namun, 
dengan menyertakan hati kedalam pekerjaan; pastilah kita bersedia 
melakukan segala hal terbaik, untuk orang-orang yang kita layani. 
Tidak akan pernah terlintas dalam pikiran kita untuk melakukannya 
asal-asalan. Apalagi merugikan orang lain. Menipu. Menindas. 
Memperdayai. Menjerumuskan. Tidak. 

Dengan membawa hati nurani; kita tidak hanya sekedar bekerja demi 
mendapatkan keuntungan pribadi. Dengan membawa hati nurani; kita 
pasti selalu bisa memberi nilai manfaat kepada diri kita sediri. 
Kepada orang lain. Kepada perusahaan yang mempekerjakan kita. Dan, 
yang terlebih penting lagi adalah; kepada saat dimana kita harus 
berhadapan dengan sang pemberi hidup. Yaitu, saat dimana Dia 
bertanya kepada kita; Apa yang telah kamu lakukan dengan hidup yang 
kuanugerahkan kepada dirimu?.

Hore,
Hati Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Hati. Sudah saatnya kita menempatkan hati sebagai penasihat utama 
atas setiap tindakan dalam perjalanan mengarungi samudera kehidupan 
kita.

Buku "Belajar Sukses Kepada Alam" klik disini:
http://www.dadangkadarusman.com/books/belajar-sukses-kepada-alam/  

Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email, 
klik disini: http://www.dadangkadarusman.com/contact-us/email-alert/ 


Kirim email ke