DISKUSI 10 SURO, 1429 H

Dear Friends, Berikut diskusi 10 Suro di milis SI
<http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.
Semoga bermanfaat bagi rekan2 lainnya. (Leo)


+++


Mas MN di Yogyakarta pertama kali menulis:

Bulan Muharam sering disebut pula sebagai bulan Suro.
itu karena dalam bulan Muharam ada satu hari yang
dianggap penting dan bersejarah yaitu tgl 10 Muharam.
Nama Suro sendiri diambil dari bahasa arab Asyuro,
artinya sepuluh. 

Berikut beberapa sejarah penting yang terjadi pada 10
Muharam, sehingga menjadikannya istimewa.

1. Setelah berdoa selama 40 tahun, akhirnya Allah
menerima taubatnya Nabi Adam karena memakan Buah
Terlarang.

2. Kapal Nabi Nuh mendarat di bukit Judy, setelah
berbulan-bulan terapung di atas bencana banjir maha
dahsyat, yang juga menenggelamkan putranya, Kan'an.

3. Nabi Ibrahim keluar dengan selamat dari kobaran api
Namrud setelah dibakar hidup2 selama berhari-hari.

4. Si Tampan, Nabi Yusuf, diselamatkan oleh musafir
dari lubang sumur akibat perbuatan saudara2 tirinya.

5. Nabi Ayyub sembuh dari penyakit kulit yang
diterimanya sebagai ujian KEPASRAHAN dan KEIKHLASAN
setelah seluruh harta, rumah, anak2 dan istrinya
hilang. 

6. Nabi Yunus keluar dari perut ikan yang menelannya
hidup2 sebagai peringatan dari Allah karena beliau
meninggalkan kaumnya sebelum ada wahyu untuk pergi.

7. Sepuluh Suro tahun 1429 H, MAHASISWA 'GILA'
berbekal onta tua nekat pergi dari belakang Plaza
Ambarukmo sampai Pantai Parangkusumo.

Sebenarnya yang membuat semua kejadian tersebut
istimewa adalah semuanya bisa dan mungkin hanya bisa
terjadi setelah mereka menghaturkan SHOLAWAT kepada
Nabi Muhammad Saw.

.:ambarukmo-parangkusumo, 10 Suro 1429 H:. (MN)


+++


Yg lalu ditanggapi oleh Pakdhe WS, sbb:

Salam, Mohon penjelasan mengenai ad 1, Nabi Adam itu
bangsa apa? Apa dia bangsa Arab atau Eskimo? Kalau ia 
bangsa Jawa, saya setuju dia manusia pertama di dunia.
Ad 2, Nabi Nuh tentu sudah punya mikroskop untuk dapat
melihat jenis kelamin binatang kecil (semut dsb) atau
mikro dan sudah naik jet ke Australia untuk
mengumpulkan Koala, Kangguru dsb. Dan juga sudah ke
Amerika Selatan. Mengenai hal2 lain, saya tidak
interested tentang dongeng2 orang Yahudi meskipun
sangat unik dan menarik. Wasalam, (WS)


+++


Mas J memberikan tanggapannya tentang Adam, sbb:

Sharing sedikit tentang hal ini, Ibn 'Arabi - Syaikh
al Akbar mengatakan pernah bertemu puluhan ribu Adam
yang pernah ada di muka bumi. Juga ada teman spiritual
sempat melihat sosok Adam dalam bentuk orang China.
Menurut pendapatku memang ada banyak Adam di muka bumi
bukan cuma Adamnya orang Arab saja. 

Dalam banyak budaya di bumi mereka mengaku nenek
moyang mereka berasal dari langit. Orang Yahudi, Arab,
Orang China, orang India, orang Negro, orang
Kalimantan, orang Jawa dsb adalah manusia2 ciptaan
Dewa yang diciptakan sesuai wujud dan citra Dewa
masing2. 

Di dalam Triloka ada seratus lebih surga yang dipimpin
Raja surga / Tatagatha masing2 -pemahaman Dafa adalah
demikian. 

Agama itu memang cuma ciptaan manusia, ketika Isa
datang apakah Dia katakan ini adalah agama Kristen? 
Bahkan seorang kawan dari golongan Islam yang keras
tidak memakai istilah agama karena menurutnya itu
hanya bikinan manusia dia lebih memakai istilah Din
yang berarti jalan. 

Ini serupa dengan Tao yang berarti jalan atau tarekat.
Buddha dan Tao juga bukanlah agama tapi manusia
membuatnya menjadi agama. Kembali ke diri berarti
mengenali bagaimana sejarah bermetamorfosa 
menjadi hal2 yang demikian kita kenal sekarang. 

Maaf hanya mencoba MELURUSKAN saja - agar jangan ada
yang merasa Tuhan merekalah yang memiliki surga
satu2nya di alam semesta ini. Salam, (J) 


+++


Yang lalu aku komentari, sbb:

Hmmm hmmm hmmm... Thanks untuk sharingnya yah, Mas MN,
dan juga komentar dari rekan2 lainnya. Buat temen2
yang belom tahu, MN ini mahasiswa jurusan Komunikasi
di UGM, Yogya. Belom pernah ketemu aku secara fisik,
tapi berkali-kali ketemu di YM sejak, hmmm hmmm
hmmm... possibly bulan Mei tahun lalu. 

Well, belief system Yahudi kata Pakdhe WS... Lha
memang iya, Kristen dan Islam itu kan basic-nya memang
Agama Yahudi. Syariat Islam itu contekan dari Hukum
Taurat yang ditulis oleh Nabi Musa ribuan tahun
sebelumnya. Mungkin disini sudah oke kalau aku bilang
bahwa agama2 samawi itu aslinya Yahudi. So what, gitu
lho ! Itu kan SIMBOL2 saja. Yang penting kan SPIRITUAL
EXPERIENCE. Mau dibungkus dengan simbol apapun,
Pengalaman Batin (Spiritual Experience) itu sifatnya
UNIVERSAL,... bisa dan memang dialami oleh semua
orang. Sedangkan agama sendiri MEMANG buatan manusia
as clearly stated by Mas J.

Belief Systems (termasuk disini segala narasi yang
diambil dari agama2 dan tradisi) cuma ALAT BANTU saja
untuk menjelaskan Spiritual Experience itu. Belief
Systems cuma PEMBUNGKUS saja untuk mengkomunikasikan
yang essensial (hakekat) itu which is Pengalaman
Batin. So, actually I enjoy reading such experiences;
dibungkus dengan simbol apapun, aku ini bisa ikut
merasakan what you feel. And it's wonderful, indeed.

Ngomong2 tentang Parangkusumo, aku jadi inget
pengalaman Bulan Suro juga, tahun 2004 M, ketika aku
pergi kesana bersama-sama dengan teman2 dari kelompok
Kejawen. Di Parangkusumo itu ada sepasang batu kembar
yang dinamakan Batu Gilang. Letaknya memang di pinggir
pantai, dan sekelilingnya ditembok. Jadi, ada semacam
tempat ritual di Parangkusumo yang berpusat di Batu
Gilang itu. Waktu itu kami mungkin ada sekitar 20-an
orang. Dari Jakarta ke Srandil, dan dari Srandil ke
Parangkusumo, dalam rangka Bulan Suro juga.

Kami sampai di Parangkusumo sore hari, lalu santai2
saja karena ritualnya itu tengah malam menjelang pagi.
Jadi, ada yang merangkai segala macam kembang2 yang
akan dilarung setelah ritual.

Maybe ritual itu dimulai jam 2 pagi sampai menjelang
jam 5 pagi hari. Penuh asap kemenyan dan dupa, of
course. Yang tua2 pakai baju adat (kain, sorjan, dan
blangkon; kain dan kebaya, etc.). Aku sendiri, karena
merasa diri masih muda, gak mao pake begituan. Tapi
memang pake pakaian hitam2 plus blangkon hitam.

Lalu kami duduk di depan Batu Gilang di dalam kompleks
itu. Lalu ritual dimulai. Well, ritual Kejawen itu
cuma meditasi biasa saja di depan sesajen dan dupa
itu. Duduk bersila beberapa baris. Pria dan wanita GAK
DIPISAHIN. Jadi duduknya nyampur.

Yang lucu, minyak wanginya itu lho. Sebelum ritual
dimulai, minyak wangi itu disemprotin ke wajah dan
dada. Semuanya pake, jadinya wanginya gak nahanin
(asyik buat diciumin yah, kalo abis ritual, because
wangiiii banget).

Trus, setelah meditasi ada juga yang ndawuh; ndawuhnya
pake bahasa Kromo Inggil. Kalo aku mikir dan mencerna
kata2nya satu persatu, wis jelas GAK BAKAL NGERTI.
Tapi kalo aku diam, dan gak mikir, dan meneng saja,
aku kok bisa ngerti. Bisa langsung ngerti. Well,
ndawuh model Kejawen itu cuma pepatah pepitih tentang
bagaimana negri itu udah caur maur, dan bagaimana
harus eling, things like that. Gak ada yang istimewa,
tapi karena namanya ritual, ya didengerin aja.
Didengerin sampe selesai walopun bisa satu jam buat
dengerin yang begituan saja.

Terus, kembang2 itu disebar di atas Batu Gilang. Kedua
batu itu memang energinya GEDE BANGET. Tangan aku itu
bisa rasain energi, dan di tempat itu energinya memang
seabrek-abrek.

Udah gitu, setelah selesai ritual, sesajen musti
dibawa kelaut. Laut itu persis di depannya. Lalu aku
nawarin diri buat ikut MELARUNG ke laut, soalnya ada
Romo yang udah tua banget yang mimpin acara larungan
itu. Nah, aku yang muda kok diem aja, gak pantes kan.
So, akhirnya aku nawarin diri buat ikut melarung di
Laut Kidul itu.

Ternyata melarung itu gak segampang buang sesajen ke
laut. Gak dibuang begitu saja, melainkan harus tunggu
OMBAK yang oke punya. Dan harus di tengah juga, gak
bisa dipinggir-pinggir doang. So, akhirnya beberapa
orang yang ikut melarung itu berjalan masuk ke dalam
air laut. Makin ke tengah, dan makin ke tengah.

Udah di tengah, waktu air sudah hampir sedada, sesajen
itu BELUM juga boleh dilepaskan, jadi dipegangin aja
tetampahnya di atas kepala, dan belom boleh kena air.
Musti tunggu ombak yang oke punya. Menurut kepercayaan
Kejawen, ombak itu SAMBUTAN dari Kanjeng Ratu Kidul.
So, musti tunggu sambutan yang bener2 oke yang berarti
OMBAK GEDE.

Nah, ketika ombak gede itu kelihatan udah dateng, si
Romo bilang siap2. Kita harus lompat ketika ombak itu
datang. Dan ketika berada di ATAS OMBAK, sesajen2 itu
harus dilepaskan sekaligus. Dilemparkan begitu aja.

So,... akhirnya ombak gede dateng, dan lompatlah kami
ke atas ombak,... dan dilemparlah sesajen itu.
Byuuurrrrrr.....

Waktu itu pukul empat pagi lewat. Matahari dari Timur
sudah kelihatan, VERY BEAUTIFUL...

Terus kembang2 yang bertebaran di atas air laut itu
(Kantil, Melati, Mawar, Kenanga, etc...) ternyata
direbutin oleh orang2 yang nungguin disana. Ada orang2
yang ngumpulin, ada berkahnya maybe. Itu pengalaman
Suro aku di Parangkusumo.

Dari Parangkusumo kami ke Astana Imogiri. Nah, disana
memang harus pake baju adat lengkap. Tapi aku gak ikut
masuk ke tempatnya Eyang Sultan Agung di puncak Astana
Imogiri, cuma diluarnya saja. Bayangin lho, itu makam
begitu sempit, dan tertutup rapet, pintu masuknya aja
cuma segede jendela. Dan pada masuk sempit2an ke dalem
sana. Aku diluarnya aja deh, masih bisa napas deh ~!

Dari situ terus ke tempatnya Eyang Sambernyowo, dan
entah berapa banyak eyang2 lagi. Eh, sampe Jakarta
diteriakin MUSYRIK ! MUSYRIK !

Terus aku bilang aja: Emang musyrik, so what gitu lho,
hmmm hmmm hmmm... (Leo)


+++


Lalu Mas MN menulis lagi:

Makasih mas tanggapannya, sebenarnya keinginan ke
Parangkusumo itu munculnya tiba-tiba. Malam sebelumnya
sempat terbersit buat melewatkan tanggal 10 Suro di
pantai, paginya kok keinginan itu semakin menguat, gak
tau kenapa, padahal hari itu saya lagi puasa. Dasar
udah kadung pengin, ya udah apapun yang terjadi saya
harus nyampe sana hari itu.

Berangkat dari kos jam 8 pagi, naek sepeda sendirian,
hanya ditemani mp3 player di telinga. Perjalanan
menuju ke sana lancar-lancar saja. Sampe sana jam
10-an.

Di Parangkusumo, awalnya saya hanya menyusuri pantai
sambil nuntun sepeda, terlihat ada 2 orang yg sedang
semedi, tapi yang seorang lebih tepat kalo dikatakan
tidur dalam kondisi sila. Di depannya ada beberapa
batang hio yang udah hampir habis.

Melihat mereka berdua, saya jadi ingin ikut2an
meditasi. Kira2 15 menit saya meditasi sambil dengerin
Dance of Sarasvati-nya Kitaro. Setelah itu saya
bermain air. Ngomong2 ttg OMBAK yg katanya sbg
sambutan, saya juga mengalaminya, meskipun ga guedhe2
banget, tapi dalam hati mantep aja kalo ombak yg tiba2
datang agak gedhe itu balasan dari salam saya.
"eee...ombaknya ngajak main-main nih", pikir saya,
"makasih udah disambut", secara sadar saya ucapkan itu
ketika mau mentas dari air. Mungkin orang yg ngeliat
saya waktu itu mikir ada orang gila baru, tapi
untungnya Parangkusumo lagi sepi.

Jam 11.15 saya naik ke daratan, berniat hendak pulang
ke Jogja, tapi seperti ada yg nyuruh dalam hati, saya
berhenti sejenak untuk ziarah ke makam Syaikh Maulana
Maghribi yg terletak di atas bukit, indah sekali
Pantai Selatan dilihat dari atas.

Akhirnya saya sampai kos lagi jam 2, yang tersisa
tinggal capek, pegel di kedua lutut, laper, kulit
gosong dan perih. Teman2 kos yang tahu, komentarnya ya
"dasar bocah gemblung", "bocah stress" de el el.

Whatever they said, entah spiritual entah bener2 gila,
but i enjoy this journey, kapan-kapan mau ke makamnya
Syaikh Bela-belu yg juga di daerah Parangtritis.

Mas Leo, kok malah jadi banyak ya nulisnya?! hehe..
Senyum_dari_ djogja, (MN)


+++


Dan terakhir dikomentari oleh Mas K di Bontang,
Kaltim:

Heks.. heks.... Suuueeegeeeerrrr tenan neng awak
bangun tidur sore tadi.. eh buka mail, Mas Leo lagi
guyonan sama Mas MN, melu guyon ah... tentang
Parangkusumo walau belon pernah kesana seh. Tapi aku
jadi sempet "manggut-manggut" baca ceritanya Mas Leo
saat membuang "SESAJI ing Segoro", lah.. lah... itu
kan juga SIMBOL yah Mas... Orang Kejawen paling banyak
sekali pake simbol-simbol dengan menggunakan buah dan
tumbuh2an yang terkadang ditaruk di encek setiap
melakukan RITUAL mau hajatan atau peringatan hari
besar. Lah waktu saya masih sekolah juga sering ke
pantai NGIYEP (Malang Selatan) jalan kaki 45 km loh...
Klu pas Suroan begini ya ampun rame banget orang
berkunjung ke sana. 

Yah... ritualnya gak jauh beda wong intine juga LARUNG
SESAJI. Dan, percis apa yang seperti mMas Leo lakukan.
Buang sesaji tadi harus menunggu datangnya Ombak Besar
baru dilempar Wuuuurrrr... Byuuurrr langsung klelep
diuntal ombak.

Yang menarik neh bicara masalah SEMEDI, MEDITASI
nya... Dalam komunitas Jawa, Semedi kan mengandung
MAKNA dan HARAPAN sekaligus wujud Syukur kepada sang
Hyang Moho Tunggal. Sehingga dalam prakteknya dalam
kehidupan bermasyarakat diharapkan bisa menjadi
manusia yang penuh KEARIFAN, BIJAK dan KASIH SAYANG
terhadap sesama makhluk dalam segala tindakan dan
perbuatannya.

Jadi inget salah satu serat yang berkaitan dengan
SEMEDI, begini nih isinya: Klu terjemahan dalam bahasa
Indonesianya salah tolong dibenerke yo dulur-dulur ?

Kang sinedyo tineken Hyang Widi... (Yang diinginkan
dikabulkan oleh Tuhan)

Kang kinasara dumadakan keno... (Yang dikehendaki
tiba-tiba didapat)

Tur sisihan Pangerane... (dan dikasihi oleh Tuhan)

Nadyan tan weruh iku... (Meskipun dirinya tidak tahu)

Lamun nedyo muja semedi... (Akan tetapi ketika dia
hendak melakukan semedi)

Sesaji neng segoro... (Dia memberikan sesajian di
Samudera/ Hati/Qalbu)

Dadya ngumbaraku... (Jadilah pengembaraan itu)

Dumadi sariro tunggal... (Untuk menjadi SATU DIRI)

Tunggal jati swara aowr ing Hartati... (Satu
kesejatian suara yg ada dalam QALBU)

Kang aran Sekar Jempina... (Itulah yang disebut Bunga
Jempina)

Yah.. yah.. orang yang dijaga oleh Tuhan sudah tentu
semua kehendak akan dikabulkan-Nya. Yang dijaga oleh
Tuhan adalah orang-orang yang dapat mengendalikan daya
nafsu yang ada dalam dirinya. Daya nafsu tersebut
hanya dikendalikan saja bukan untuk dibasmi...!! 
Membasmi daya nafsu sama dengan menyalahi KODRAD
manusia itu sendiri.

Halah... halah... mblarah.... MUSYRIK, SYIRIK, KAFIR,
SESAT....???!! Lariiii... kabuuurrrr diuber-uber
rombongan pak Petinggi Agomo. Mlayu sipat kuping....
njur numpak Gethek... kriyet... kriyet... sambil
ngidhung ah.. Sigro Milir... minggir Joko Tingkir mo
lewaaaat.... Gedubrag... jatuh dari kasur... halah...
MIMPI to tadi aku...? Salam, (K)


+++++++++++++

[Leo seorang praktisi Psikologi Transpersonal dan bisa
dihubungi di no HP: 0818-183-615. Untuk bergabung
dengan Milis Spiritual-Indonesia, please click:
<http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia/join>.
NOTE: Except mine, all names used in the YM / email
conversations are PSEUDONYMS.]

























Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke