"Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat" (1Sam 16:1-13; Mrk 2:23-28)
"Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" Jawab-Nya kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu -- yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam -- dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?" Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."(Mrk 2:23-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Para pakar manajemen atau mereka yang pernah belajar manajemen secara khusus pada umum dalam cara kerja atau kebijakan ketika yang bersangkutan menjadi pemimpin atau atasan bertindak begitu yuridis dan kaku serta kurang peka terhadap kenyataan konkret. Maklum pada umumnya mereka jarang 'turba', turun ke bawah, melainkan hanya duduk di kursi kebesarannya sambil mengendalikan program kerja maupun mengatur para pembantu atau bawahannya. Mereka pada umumnya lupa atau sengaja mengesampingkan apa yang menjiwai aneka aturan atau hukum yaitu 'cintakasih'. Hemat saya aneka aturan atau hukum dibuat sebagai salah satu cara untuk mewujudkan cintakasih, dengan kata lain aturan atau hukum adalah sarana bukan tujuan utama. Tujuan utama dari aturan atau hukum tidak lain adalah demi kebahagiaan atau keselamatan mereka yang termasuk dalam wilayah aturan atau hukum tersebut, maka ketika sebagai sarana tidak memadai lagi dengan situasi konkret kiranya sarana tersebut harus direlativir dan yang diutamakan adalah cintakasih. "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat", demikian sabda Yesus, aturan atau hukum diadakan untuk manusia bukan manusia untuk aturan atau hukum. Maka baiklah kita senantiasa menghayati aturan dan hukum dengan dan dalam cintakasih, sehingga ketika ada situasi atau kasus-kasus yang tak terjangkau oleh hukum atau aturan tersebut berdasarkan cintakasih kita berani dan dapat bertindak 'melanggar' atau 'mengatasi' aturan atau hukum tersebut. Pengecualian berdasarkan cintakasih dan mungkin di luar aturan atau hukum dapat terjadi, tentu saja hal tersebut lebih terarahkan kepada mereka yang berkekurangan, sakit atau menderita, yang sungguh membutuhkan uluran cintakasih secara nyata. Ingat dan sadari bahwa pelaksanaan aturan atau hukum secara de facto sebenarnya juga tidak terus menerus kita hayati dalam kehidupan konkret, dan rasanya aturan atau hukum baru berarti atau 'berbicara' ketika ada kasus-kasus adalah masalah berat yang melanggar cintakasih. Ingatlah dan hayatilah bahwa masing-masing dari kita dapat hidup dan tumbuh berkembang seperti saat ini terutama karena cintakasih bukan karena aturan atau hukum. · :"Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."(1Sam 16:7), demikian firman Tuhan kepada Samuel. Kutipan ini rasanya layak dan baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Banyak orang bermental duniawi atau materialistis di masa kini dan pada umumnya mereka melihat dan menyikapi sesama manusia juga secara duniawi dan materialistis saja, dengan kata lain manusia sering disejajarkan dengan mesin produksi. Orang yang bersangkutan pada umumnya bangga, senang dan puas ketika dengan kerjanya dapat memperoleh uang atau harta benda yang banyak, tetapi pada umumnya juga pelit alias kurang atau tidak sosial. Jika ada bencana alam atau musibah yang menimbulkan banyak korban manusia, mereka juga kurang tanggap. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk melihat dan menyikapi segala sesuatu, terutama sesama manusia dengan dan dalam iman, dengan cara Allah melihat dan menyikapinya, yaitu.lebih melihat 'hati' daripada 'paras atau perawakan'. Kerajaan Allah atau kerajaan hidup beriman adalah kerajaan 'hati'. Ada pepatah ":dalamnya laut dapat diduga dalamnya hati siapa tahu'. Kiranya yang dapat mengetahui dalamnya hati adalah orang yang sungguh memiliki hati artinya memperhatikan segala sesuatu dalam iman atau dalam Tuhan, orang yang hatinya siap sedia untuk dibuka dan terluka karena cintakasih sebagaimana telah terjadi dalam Diri Yesus, Penyelamat Dunia. Ingatlah dan sadarilah serta hayati bahwa.hati kita telah berfungsi sejak kita masih berada dalam kandungan ibu/mama dan terus berfungsi sampai mati, sementara otak, mata, telinga dan hidung/penciuman lebih terbatas dan kemudian fungsinya. "Dia pun akan berseru kepada-Ku: 'Bapaku Engkau, Allahku dan gunung batu keselamatanku.' Aku pun juga akan mengangkat dia menjadi anak sulung, menjadi yang mahatinggi di antara raja-raja bumi." (Mzm 89:27-28) Jakarta, 22 Januari 2008

