"Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat" (1Sam 17:32-33.37.40-51; Mrk 3:1-6)
"Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya.Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!" Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja. Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia"(Mrk 3:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. . Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Dalam suatu lokarkarya pastoral (antar beberapa komisi di tingkat keuskupan) untuk merefleksi dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan pastoral yang telah dilaksanakan serta membuat program kegiatan yang akan datang, ada dua kelompok setelah mempresentasikan program kegiatan yang bagus serta konkret mengakhiri presenatasinya dengan berkata: "Untuk melaksanakan program kegiatan ini, kami harus terlebih dahulu minta rekomendasi dari Bapak Uskup". Ketika saya, yang pada waktu itu hadir mewakili komisi di KWI, dimintai tanggapan atas rencana program kegiatan tersebut antara lain saya berkata:"Lho mau berbuat baik kok harus minta rekomendasi uskup, atasan. Saya duga yang dimaksudkan adalah minta bantuan dana atau uang untuk kegiatan tersebut". Hemat saya untuk berbuat baik tidak perlu minta izin atau rekomendasi dari siapapun, demikian juga untuk bekerja atau berbuat baik di hari libur atau waktu istirahat. Hari Sabat atau hari yang dikhususkan bagi Tuhan adalah hari untuk memuji, menghormati, mengabdi dan memuliakan Tuhan alias hari untuk berbuat baik bagi sesama. Pada hari dimana orang dibebaskan dari ikatan aturan bekerja tersebut kiranya justru memiliki kebebasan secara leluasa untuk berbuat baik sesuai dengan kerinduannya yang digerakkan oleh Tuhan. Memang, sekali lagi, orang yang bersikap legalistis pada umumnya jarang berbuat baik kepada sesama yang sungguh membutuhkan. Kita sebagai orang beriman dipanggil, tanpa pandang hari, waktu, SARA, usia dst.., untuk senantiasa berbuat baik dimana ada kesempatan atau bisikan/sentuhan untuk berbuat baik. Kesempatan, sentuhan/bisikan untuk berbuat baik hemat saya terjadi setiap waktu, dimana saja dan kapan saja, maka marilah kita tanggapi secara positif kesempatan, bisikan atau sentuhan tersebut, sebagai perwujudan iman kita kepada Tuhan. Biarkanlah, anggap angin berlalu, aneka macam kritik atau komentar atas perbuatan baik kita, yang muncul dari keirihatian atau kemalasan atau kesombongan. · "Segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."(1Sam 17:47), demikian kata Daud kepada orang Filistin, prajurit yang kuat dan gagah perkasa serta berpengalaman dalam pertempuran. Apa yang dikatakan oleh Daud ini mengingatkan kami akan peristiwa revolusi rakyat Filipina untuk menggulingkan presiden Marcos maupun demo mahasiswa di gedung DPR-Senayan, Jakarta, yang didukung oleh rakyat untuk menggulingkan presiden Suharta. Senjata, tank serta kekuatan tentara dilawan dengan doa rosario para ibu/wanita (di Manila-Filipina) atau gerakan anti kekerasan para mahasiswa (di Jakarta-Indonesia). Tuhan menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing, bukan dengan senjata yang mematikan atau keperkasaan tank dengan tentaranya. Tuhan hidup dan berkarya di dalam diri umat beriman, hamba-hambaNya yang sungguh mengandalkan diri atau mempersembahkan diri kepada Tuhan, dengan kata lain orang-orang yang masih terbuka hati, jiwa, akal budi dan tubuhnya terhadap perubahan dan pembaharuan. Maka marilah kita meneladan Daud dalam hidup sehari-hari kita. Ketika kita harus menghadapi aneka macam bentuk kekerasan, marilah kita hadapi dengan rendah hati dan lemah lembut sambil berdoa. Percayalah sekeras-keras penampilan orang kami yakin mereka juga memiliki hati, jiwa, akal budi yang baik, marilah kita bangkitkan dan berdayakan apa yang mereka miliki tersebut. Biarkanlah mereka akhrinya melucuti diri dari aneka macam senjata yang mematikan tersebut dan kemudian juga mempersembahkan diri kepada Tuhan, kepada Penyelenggaraan Ilahi. Kasih pengampunan pasti akan dapat mengalahkan aneka macam kekerasan, cintakasih pasti akan mengalahkan aneka macam balas dendam dan kebencian. "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Mat 5:44), demikian sabda Yesus. . · "Ya Allah, aku hendak menyanyikan nyanyian baru bagi-Mu, dengan gambus sepuluh tali aku hendak bermazmur bagi-Mu, Engkau yang memberikan kemenangan kepada raja-raja, dan yang membebaskan Daud, hamba-Mu"(Mzm 144:9-10) Jakarta, 23 Januari 2008

