"Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah 
tempat tidur"

(2Sam 7:18-19.24-29; Mrk 4:21-25)

 

"Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya 
ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya 
ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak 
akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. 
Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" Lalu Ia 
berkata lagi: "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk 
mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi 
kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang 
tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya."(Mrk 
4:21-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St. Yohanes Bosco, 
imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yohanes Bosco dijuluki sebagai 'bapak kaum muda', karena perhatiannya 
terhadap pendidikan anak-anak dan kaum muda. Latar belakang masa kecilnya 
sebagai penggembala ternak di ladang rumput atau di alam bebas kiranya juga 
menjiwai hidupnya dalam mendidik dan mendampingi anak-anak dan generasi muda. 
Pengalaman rohaninya yang mendalam bagaikan 'pelita' yang menyinari banyak 
anak-anak dan generasi muda. "Siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, 
tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil 
daripadanya", demikian sabda Yesus. Maka bercermin pada sabda Yesus hari ini 
maupun berrefleksi atas pengalaman hidup dan kerasulan Yohanes Bosco, kami 
mengajak dan mengingatkan siapapun yang bekerja atau berpartisipasi dalam karya 
pendidikan atau pembinaan anak-anak dan generasi muda, entah para guru, 
Pembina/pendamping maupun para orangtua. Sebagai guru, Pembina atau pendamping 
atau orangtua kiranya lebih memiliki pengalaman daripada anak-anak atau peserta 
didik, maka hendaknya pengalaman tersebut diteruskan kepada anak-anak atau 
peserta didik dengan rendah hati. Ingatlah bahwa ilmu, keterampilan, 
pengetahuan atau pengalaman semakin diberikan atau 'disinarkan' kepada orang 
lain tidak akan berkurang melainkan justru semakin mendalam dan bertambah. Hal 
yang sama juga terjadi pada keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan 
seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, 
kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23) semakin dihayati dan 
disebarluaskan kepada orang lain akan semakin kuat, mendalam dan bermakna. Maka 
kami berharap dan menghimbau kepada mereka yang merasa kaya (harta benda, uang, 
pengalaman, ilmu, keterampilan, dst..) hendaknya jangan menjadi pelit melainkan 
bersosiallah, bagikan kekayaan anda kepada orang lain atau sesama, lebih-lebih 
mereka yang miskin dan berkekurangan sebagaimana telah dihayati oleh Yohanes 
Bosco. 

·   "Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah Allah dan segala firman-Mulah kebenaran; Engkau 
telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu.Kiranya Engkau sekarang 
berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk 
selama-lamanya. Sebab, ya Tuhan ALLAH, Engkau sendirilah yang berfirman dan 
oleh karena berkat-Mu keluarga hamba-Mu ini diberkati untuk 
selama-lamanya."(2Sam 7:28-29), demikian kutipan doa Daud.  Kutipan ini kiranya 
baik menjadi bahan refleksi untuk para guru, pendidik, Pembina, pendamping 
maupun orangtua. Doa Daud tersebut mungkin baik menjadi doa kita dalam 
mengawali tugas mengajar atau membina serta mendidik, atau doa pagi hari begitu 
bangun dari tidur. Kiranya kita semua berharap agar kebersamaan hidup dan kerja 
kita dimanapun dan kapan pun senantiasa dalam Tuhan atau baik adanya, maka 
marilah kita sadari dan hayati penyelenggaran karya Tuhan dalam hidup dan kerja 
kita setiap hari. Segala sesuatu, pekerjaan, hidup dan yang menyertai hidup 
kita atau kita miliki adalah anugerah Tuhan, maka marilah kita sikapi dan 
fungsikan di dalam Tuhan, sesuai dengan kehendak Tuhan. Secara konkret hal itu 
antara lain berarti kita senantiasa mentaati dan melaksanakan aneka tatanan dan 
aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas perutusan kita 
masing-masing. Aneka tatanan dan aturan dibuat untuk membantu kita dalam 
melaksanakan kehendak Tuhan, agar kebersamaan hidup dan kerja kita senantiasa 
diberkati oleh Tuhan. Tuhan hadir dan berkarya dimana saja dan kapan saja, 
marilah kita sadari dan hayati kehadiranNya agar kita senantiasa dapat hidup 
bersembah-sujud pada semua ciptaanNya di dunia ini, melayani dan membahagiakan 
sesama, ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya di dunia ini. 

 

"Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu; jika anak-anakmu 
berpegang pada perjanjian-Ku, dan pada peraturan-peraturan-Ku yang Kuajarkan 
kepada mereka, maka anak-anak mereka selama-lamanya akan duduk di atas 
takhtamu." Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat 
kedudukan-Nya: "Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak 
diam, sebab Aku mengingininya"

(Mzm 132:11-14)

 

Jakarta, 31 Januari 2008

Kirim email ke