Peluang bagi Pariwisata Spiritual


Anand Krishna*
Radar Bali, Senin 4 Pebruari 2008









"Baik, baik, kirim e-mail saja... Nanti akan saya buka lewat
Blackberry saya... Ya,ya, ya, nanti lewat Blackberry ya...." Pemilik
Travel Biro di India itu tengah bicara dengan agennya di kota lain lewat
telepon genggam. Dan, semestinya informasi yang diinginkannya itu dapat
diperolehnya langsung lewat telepon. Bahkan, barangkali sudah
diperolehnya. Tidak perlu dikirimkan lagi  lewat e-mail. Tapi, apa boleh
buat.... dia tak mampu mengendalikan keinginannya untuk pamer. Kita,
kliennya, mesti tahu bila ia memiliki telepon genggam bermerek
Blackberry.



Kejadiannya di New Delhi, kebetulan saat itu saya sedang berkunjung ke
India bersama beberapa teman.



Keluh-kesah kita tentang kekurangajaran agennya selama kita berada di
Kashmir tenggelam dalam lautan hatinya yang begitu luas dan hendak
berpamer. Ceritanya – dalam perjalanan menuju daerah yang lebih
tinggi dari Srinagar, Ibu Kota Kashmir, semestinya ban kendaraan
dilapisi rantai. Dan, saat meninggalkan Srinagar, saya pun sudah
bertanya kepada sang pemandu. "Oh, itu gampang... nanti di
Tangmarg," desa sebelum tujuan kita, yaitu Gulmarg, "kita akan
ganti kendaraan."



Baik, kita menerima saja.
Namun, di Tangmarg dia tidak melakukan apa yang dijanjikannya itu. Kita
tetap menggunakan kendaraan yang sama. Tanpa rantai pada ban. Saya
menanyakan kembali. Dan, dengan santai ia pun menjawab, "Tidak
menjadi soal. Supir kita yakin tidak menjadi masalah."



Namun, masalah tetaplah terjadi.
Kendaraan kita yang tanpa rantai itu berulang kali mengalami slip.
Sungguh sangat berbahaya. Demi penghematan uang beberapa ratus rupees,
tidak lebih dari 100-an ribu rupiah, mereka mengambil resiko yang sangat
tinggi dan berbahaya.



Tour Operator, para Pemandu Wisata, bahkan barangkali Dinas Pariwisata
di India pun tidak sadar bila para wisman yang datang ke India semata
karena daya magis India. Pelayanan yang mereka berikan jelas tidak
sesuai dengan harapan. Keluhan ini bukanlah dari saya saja yang sudah
berulang kali ke India, namun juga dari para wisman lain yang kebetulan
saya temui di sana. Baik dari Amerika, Australia, Eropa, maupun Asia
– seperti Thailand, Taiwan dan lainnya.



Orang Buddhis kesana untuk melakukan ziarah ke tempat-tempat suci yang
terkait dengan Agama Buddha. Orang Hindu ke sana untuk hal yang sama.
Banyak orang Muslim pun berkunjung karena peninggalan sejarah yang
terkait dengan Masa Jaya Islam dan Makam para Sufi yang dikeramatkan.
Semuanya itu telah menambah daya magis India. Di luar itu, para
tour-operator, pemandu wisata, boleh dibilang seluruh industri
pariwisata India tidak memiliki daya magis apa pun jua.



Saya mendengar sendiri bagaimana para pemandu wisata di sana
memperlakukan para tamu dari luar negeri sebagai "benda", paling
banter sebagai "sapi perah". Adalah komisi dari belanja saja
yang mereka harapkan. Selain itu, mereka tidak tertarik dengan apa pun
jua. Mereka tidak akan mengambil satu pun langkah ekstra untuk memuaskan
para wisman.



"Incredible India" - demikian bunyi slogan pariwisata. Dengan
cara itulah mereka melakukan branding. Incredible berarti sesuatu yang
sulit dijelaskan.... Tetapi, Compact Thesaurus Oxford juga mejelaskan
Incredible sebagai "doubtful" – yang meragukan. Mind Blowing
dan Mind Boggling – Menakjubkan, tidak masuk akal....



Di tempat lain, saya pun mendengar tentang para guru yoga di sana yang
lebih suka meraba-raba badan para siswi bule daripada mengajarkan yoga.
Banyak padepokan yang mengaku spiritual lebih sibuk mengurusi materi.
Materi memang dibutuhkan, tetapi spiritualitas juga tidak boleh
dikomersilkan. Adalah komersialisasi spiritual yang saat ini terjadi
disana.



Dalam bahasa Hindi populer ada sebuah pepatah yang kurang-ajar,
"Hansi to Phansi" – bila seorang cewek tersenyum, maka
anggaplah dia mau sama kamu.



Hmmmm, bagaimana dengan orang kita yang memang murah senyum? Ada kalanya
si pemandu dan supir berpikir bahwa saya tidak memahami bahasa mereka.
Maka, mereka pun secara bebas berdiskusi tentang betis seorang teman.
India, seperti inilah wajah wargamu saat ini!



Cerita lain pada kunjungan sebelumnya: Seorang anak muda yang baru gede,
baru lulus kuliah dan kebetulan memperoleh pekerjaan di perusahaan
multinasional, sepanjang perjalanan di kereta menelpon teman-temannya
untuk memberitahu bila ia berada dalam gerbong kelas satu.



Saya mengajak dia bicara, "Bagaimana pendapatmu tentang
perusahaan-perusahaan multinasional yang telah banyak mengambil porsi
pengusaha nasional?"



Bagi dia, "Tidak menjadi soal.... Adanya perusahaan-perusahaan
multinasional ini yang membuat anak-anak muda seperti saya gampang
memperoleh pekerjaan."



"Baik, tapi bagaimana dengan deregulasi yang telah merugikan rakyat
kecil, petani khususnya?" Dia tidak mau tahu.



Kesimpulan saya: Indonesia memiliki peluang yang besar sekali, khususnya
Bali, untuk menjamu para wisman yang telah mengalami disillusion dengan
India. Mereka yang sudah jenuh dan kecewa berat dengan India.



Peninggalan sejarah, budaya, dan agama di Indonesia tidak kalah dari
India. Borobudur, Prambanan dan Bali, seluruh pulau Bali –
sesungguhnya memiliki daya magis yang sama seperti India.



Saatnya kita berbenah diri. Saatnya kita mengolah kepariwisataan kita
secara bijak dan lebih baik lagi.... Indonesia mesti tetap hijau, supaya
kita memiliki nilai tambah, supaya kita berada di atas India, yang
dengan segala kemajuannya di bidang sains dan teknologi masih tetap
berdebu dan panas. Heat and Dust masih menjadi identitas India.



Indonesia yang Hijau, Taman Sari Bali di mana pepohonan dibiarkan tumbuh
sesuai dengan kodrat mereka – jauh lebih menarik daripada India.
Seribu kali lebih menarik adalah desa-desa kita dengan alam yang masih
asri. Keindahan Alam ini mesti dijaga dan dilestarikan.



Dan, lebih dari itu adalah penting sekali bagi para tour-operators kita,
bagi para pemandu wisata kita untuk mengenal Budaya Nusantara. Sehingga
kita bisa menjelaskan dengan bangga kepada setiap tamu asing bahwa Merah
dan Putih itu mewakili nilai-nilai apa? Kenapa Merah diatas dan Putih di
bawah, kenapa tidak sebaliknya?



Apa maksud Mandala Borobudur, dan kenapa pula Giri Bangun dibangun oleh
Presiden Kedua RI menyerupai Mandala? Apa maksudnya? Kenapa Pemakaman
Bung Karno di Blitar pun semestinya dipugar dan dibuat seperti Mandala?



Dinas Pariwisata, khususnya di Bali memiliki peluang yang luar biasa
untuk setidaknya memindahkan wisman yang saat ini sudah mulai bosan dan
jenuh dengan India karena pelayanan yang semakin tidak memuaskan. Mereka
adalah pemerhati budaya yang dapat menjadi pengunjung setia setiap
tahun.



Bagaimana caranya?



Pertama: Memberi program singkat tentang Budaya Nusantara dan Nilai
Filosofis di baliknya  kepada para pemandu wisata. Sehingga, mereka
tidak sekedar menjelaskan sejarah tempat-tempat yang dikunjungi, tetapi
juga nilai-nilai yang dapat dipelajari dari sejarah. Seorang pemandu
mesti menjadi Duta Budaya Bangsa.



Ia tidak mempelajari semuanya itu semata untuk mencari nafkah, tetapi
karena memang mencintai budaya dan sejarahnya sendiri. Sehingga.....



Kedua: Dengan sendirinya ia menjadi lebih sopan, lebih santun terhadap
para wisman dan wisnu. Dan, tidak melulu mengharapkan komisi dari
pembelanjaan.



Ketiga: Lebih cerdas dalam hal pemilihan tema untuk menarik wisman. Tema
yang digunakan sekarang, yaitu memperingati 100 tahun Kebangkitan
Nasional cukup menarik bagi wisatawan dalam negeri, tetapi tidak bunyi
bagi para pelancong dari luar negeri. Mereka membutuhkan tema yang lebih
internasional dan universal. Apalagi warna-warna yang kita gunakan untuk
iklan resmi pun terasa menyontek dari iklan Malaysia.



Padahal, kita memiliki alam nan indah dan asri sebagai daya tarik.
Apalagi bila dikaitkan dengan isu Pemanasan Global dan Perubahan Iklim.



Sesungguhnya, masih banyak yang kita miliki yang dapat mendobrak sektor
kepariwisataan kita.... Tetapi, ruang ini membatasi saya, maka sekian
dulu....





* Aktivis Spiritual (www.anandkrishna.org <http://www.anandkrishna.org/>
, www.californiabali.org <http://www.californiabali.org/> ,
www.aumkar.org <http://www.aumkar.org/> )

Kirim email ke