"Angkatan ini adalah angkatan yang jahat”
(Yun 3:1-10; Luk 11:29-32)
 
“Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah 
angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak 
akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda 
untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda 
untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit 
bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini 
datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang 
ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe 
akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab 
orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, 
dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!"(Luk 11:29-32), 
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
·   “Polisi tidur”atau “polisi puasa”, itulah salah satu cara mengusahakan agar 
para pengemudi/sopir berhati-hati alias tidak menjalankan kendaraan seenaknya 
sehingga menimbulkan kecelakaan ataupun korban manusia. Jalan mulus dipasang 
penghambat berupa ‘tanggul beton’ karena para pengemudi tidak mentaati atau 
tidak peka terhadap aneka rambu-rambu lalu lintas, demikian pula di beberapa 
tempat dipasang ‘patung polisi’, yang dari kejauhan dapat dilihat oleh para 
pengemudi, untuk menakut-nakuti pengemudi (maklum rambu-rambu lalu lintas juga 
dilanggar begitu saja, tetapi ketika melihat polisi baru hati-hati). Jika 
tanda-tanda atau rambu-rambu lalu lintas yang terpampang jelas saja tidak 
dihiraukan, maka kiranya mereka juga tidak peka terhadap tanda-tanda atau 
gejala-gejala buah karya Roh atau isyarat-isyarat halus di dalam tubuh mereka 
sendiri maupun dalam pergaulan dengan sesamanya. Maka menanggapi sabda Yesus 
hari ini marilah kita mawas
 diri: sejauh mana kita peka melihat dan mengimani tanda-tanda kehadiran dan 
karya Roh  di dalam diri kita, sesama kita maupun kebersamaan kita, agar kita 
tidak dituduh sebagai ‘angkatan yang jahat’? Marilah kita lihat dan imani karya 
Roh dalam pertumbuhan dan perkembangan ciptaan-ciptaan Allah di dunia ini, 
entah dalam binatang, tanaman maupun manusia. KaryaNya sungguh nampak dalam 
kegairahan dan kegembiraan hidup ciptaan-ciptaanNya, meskipun dalam pertumbuhan 
dan perkembangan harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan. Untuk itu 
memang kita harus senantiasa pertama-tama bersikap positif (positive thinking) 
terhadap segala sesuatu yang kita hadapi, dengan membuka hati, jiwa, akal budi 
dan tubuh kita terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi. Marilah kita 
bersikap seperti ini: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya 
rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu”(Rat 3:22-23) 
·   “Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik 
dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang 
telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya” 
(Yun 3:10). Pertobatan atau penyesalan atas dosa-dosa membuahkan damai dan 
keselamatan, yang dianugerahkan oleh Allah, sebagaimana telah dihayati oleh 
orang-orang Ninive: “masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan 
dari kekerasan yang dilakukannya.”. Jika kita jujur mawas diri kiranya kita 
juga sering atau setiap hari melakukan kejahatan atau kekerasan terhadap sesama 
dan saudara-saudari kita, entah pada tingkat hati, jiwa, akal budi atau tubuh, 
yang menimbulkan ketidak hangatan atau kemesraaan dalam hidup bersama, tetapi 
permusuhan atau saling mendiamkan. Marilah mengadakan pemeriksaan batin dengan 
benar dan cermat setiap hari untuk mengenali dan mengakui kejahatan dan 
kekerasan yang telah kita
 lakukan dan kemudian bertobat, berbalik dari tingkah laku yang jahat dan 
kekerasan. Marilah dengan bantuan rahmat Allah kita berusaha berbuat baik 
kepada sesama  dan saudara-saudari kita dengan lemah lembut dan rendah hati. 
Lemah lembut dan rendah hati berarti senantiasa menghormati dan menjunjung 
tinggi yang lain alias senantiasa membahagiakan dan mensejahterakan yang lain. 
Kita hadapi aneka macam bentuk kekerasan dengan lemah lembut dan rendah hati, 
bahkan ketika kita sendiri mengalami kekerasan marilah tidak balas dendam 
melainkan berterima kasih. Orang Jawa sering berpedoman ‘ditekake wae’ = 
biarkan/diamkan saja, maksudnya jangan dibantah atau dilawan orang yang marah 
dan bertindak keras, nanti pasti akan merasa lelah dan berhenti sendiri. 
Mendiamkan di sini memang berarti mengasihi dan mengampuni, memberi kesempatan 
untuk bertobat dan memperbaharui diri. 
 
“ Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang 
teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu 
yang kudus dari padaku” (Mzm 51:12-13)
 
Jakarta, 13 Februari 2008


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke