RULE OF THUMB
Rule of Thumb adalah praktek penentuan pandangan atau jalan pikiran tentang sesuatu obyek dengan cara paling sederhana. Semua orang memakai Rule of Thumb. Itu bukanlah stereotip, melainkan sesuatu yang, karena sudah dialami berulang-ulang kali, maka akan dijalani dengan sendirinya. Yang paling sering memakai Rule of Thumb adalah dokter umum, pengendara kendaraan, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Dengan kata lain, ya kita semua inilah. Contoh Rule of Thumb: kalau kita melihat banyak taksi kosong berderet-deret menunggu penumpang, maka kita mengambil kesimpulan bahwa saat itu tidak sedang jammed; bukan waktu sibuk. Kalau kita melihat bahwa banyak orang tiba-tiba membagi-bagikan zakat dengan murahnya, maka kita berkesimpulan bahwa rezeki sedang mengalir lancar. Kalau kita melihat bahwa kotak sumbangan bencana alam muncul dengan begitu banyaknya di sepanjang jalan tanpa kejelasan, maka kita berkesimpulan bahwa ada penurunan kualitas manusia yang bertanggung-jawab atas sumbangan yang terkumpul (Rule of Thumb bilang bahwa isi kotak sumbangan itu sebagian besar akan masuk kantong orang lain yang tak berhak, dan bukan korban bencana yang membutuhkan). Kalau ada orang yang menulis tidak ada habis-habisnya tentang hal-hal spiritual, dan senang sekali dipanggil sebagai seorang spiritual, maka kita bisa berkesimpulan hampir pasti bahwa spiritualitas orang itu selevel dengan kanak-kanak. Semakin banyak kata "pencerahan" yang dipakai oleh orang itu, maka orang itu akan semakin jauh dari pencerahan yang sesungguhnya. Kenapa? Karena orang yang benar-benar tercerahkan (enlightened) akan sama sekali tidak akan memakai kata "pencerahan". Kata itu, menurut Rule of Thumb, hanya akan digemari oleh mereka yang ingin dianggap mendekati tingkat kerohanian seorang Buddha Sakyamuni (Siddharta Gautama), padahal Buddha yang didekati olehnya bukanlah Buddha sesungguhnya, melainkan Buddha souvenir seperti yang bisa dibeli dengan mudahnya di berbagai toko buku di Jakarta. Atau di berbagai art galleries di Bali dan Yogyakarta. Fenomena ini tidak perlu diherankan. Kita cukup melihat ke dalam diri kita sendiri dan bertanya apakah pengamatan saya ini benar atau tidak. Kalau ternyata ada yang belum bisa melihatnya, ya berarti dia memang belum mampu. Belum mampu untuk membedakan spiritualitas (kebatinan, kerohaniahan) yang sesungguhnya dengan perkataan-perkataan klobotisme spiritual. Klobotisme adalah sesuatu yang seperti rokok klobot yang dulu laris di pedesaaan di Jawa. Bunyinya berisik, tetapi isinya tidak ada. Tembakaunya bukan Virginia, jadi cuma bikin mabuk tetapi tidak membawa kenikmatan sejati dari tembakau kelas tinggi. Memang bisa mabuk juga, tetapi vulgar. Nah, spiritualisme jenis klobot adalah yang memabukkan, tetapi vulgar. Vulgar dalam arti mencari pembenaran dan peninggian diri sendiri... Tapi ada yang suka juga lho!. Ada yang suka memuji-muji orang yang dianggap spiritualitasnya tinggi. Dan ada orang yang suka dipuji sebagai spiritualitasnya tinggi. Tetapi, kedua-duanya sama-sama menipu diri sendiri. Ada Schizophrenia jenis ringan disini. Ada delusionisme jenis ringan. Tidak terlalu berbahaya. Cuma agak lucu saja, sebab mereka ini akan beperilaku sebagai pemberi pencerahan bagi seisi dunia, padahal kehadiran mereka hanya menambah gelap dunia ini saja. Dan yang memberi pencerahan sebenarnya adalah Anda dan saya yang memang agak mual untuk menggunakan kata "pencerahan"; dan sangat anti menggunakan kata "Awloh" dan "diridhoi". +++++++++++++ [Leo seorang praktisi Psikologi Transpersonal; no HP: 0818-183-615. Untuk bergabung dengan Milis SI, click: <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>. NOTE: Except mine, all names used in the YM / email conversations are PSEUDONYMS.] Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

