salam,

hmm... artikel yg bagus jg...

marah itu apa yaa.. knapa bs marah..

kt orang beragama dan ahli spritual, bs jd karena ada setan/jin yg mengganggu 
stabilitas hati...

kt orang ilmuwan biologi krn peredaran/sirkulasi darah di nadi dan vena yg 
tidak 
lancar sehingga kadar O2 dan CO2 ga imbang dan terhambat lemak, sedikit protein
dan proses metabolisme... (hmm, bener ga sih huuh...)

kt orang kyk sy, aah.. biasa aja namanya jg manusiawi/hewani.. hi..hi...

salam,


subhan


  ----- Original Message ----- 
  From: Erwin Arianto 
  To: Rofiko Rahayu Kabalmay 
  Sent: Tuesday, April 01, 2008 11:28 Subhan
  Subject: [Mayapada Prana] Mengapa Harus Marah!!



  Mengapa Harus Marah!! 



  Mengapa Harus Marah!!

  Siapapun kita, bisa belajar untuk menjadi orang yang kuat dengan mencoba 
untuk bisa menahan amarah setiap kali ada perasaan yang membuat kita jengkel 
atau kecewa. Menang, amarah itu manusiawi, kerap kita mengalaminya. Hanya saja, 
kita perlu mengelola dan mengendalikan amarah kita agar tidak terlalu keluar. 
Mengapa..? karena dengan ?hobi? marahnya kita, justru akan membuat citra yang 
buruk tentang diri kita. Mana ada pemarah menjadi idola, atau sosok yang 
menyenangkan. Dimana-mana seorang pemarah itu dibenci oleh orang-orang 
disekitarnya. Bahkan kerap dicap sebagai biangkerok dan pengacau.

  Setiap orang mungkin pernah marah. Hanya saja model marahnya itu 
berbeda-beda. Ada yang meluapkan amarahnya dengan meledak-ledak, mengungkapkan 
kata-kata kasar sambil melempar dan membanting sesuatu, atau ada yang meluapkan 
amarahnya cukup dengan sikap diam saja.

  Satu hal yang pasti, dalam ilmu kesehatan, marah itu bisa mengundang dan 
mudah terkena penyakit. Di dalam darah orang yang sedang marah terkandung 
banyak hormon adrenalin, hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal ini akan 
dilepaskan ke dalam darah ketika ada rangsangan emosi. Akibatnya adalah denyut 
jantung akan bertambah cepat dan tekanan darah meninggi, keadaan ini yang 
mengakibatkan penyakit mudah datang. Ini sedikit efek marah yang saya ketahui 
dari beberapa bacaan kesehatan.

  Saya sendiri pernah marah secara meledak-ledak. Tapi, menurut pengalaman 
saya, marah yang meledak-ledak itu kadang memang lebih banyak berdampak buruk. 
Bagi diri kita, dari sisi psikologis, tentu mempertaruhkan citra akan 
kepribadian yang jelek Bagi orang lain, jelas, ketika meluapkan amarah terlalu 
berlebihan, seringkali begitu menyakitkan bahkan berujung pada dendam. Kadang 
dendam ini juga menjadi awal bagi orang lain untuk melakukan pembalasan. Banyak 
kan kita baca disurat kabar atau berita televisi, ada orang yang melakukan 
pembunuhan atas dasar dendam karena pernah disakiti.

  Dalam kehidupan keluarga, mudah ditemui orang tua yang marah besar dipicu 
oleh kesalahan biasa yang dilakukan anaknya, suami yang secara emosional 
menganiaya istrinya hanya dipicu masalah-masalah kecemburuan dan pertengkaran 
rumah tangga. Suami atau istri yang marah kepada pasangannya dan tega 
melampiaskan kemarahannya dengan menganiaya pasangannya, bahkan anaknya 
sendiri. Dalam pekerjaan, ada pimpinan yang marah-marah besar hanya dipicu oleh 
kesalahan kecil bawahannya. Dalam kehidupan sehari-hari, mudah ditemui orang 
yang marah-marah dijalanan karena dipicu oleh sikap pengguna lalu lintas yang 
kurang disiplin atau saling baku hantam hanya gara-gara saling tersinggung.

  Mengapa belakangan ini semakin banyak orang yang mudah sekali dipicu emosi 
amarah ? Mengapa mereka seakan tidak memiliki hati nurani kemanusiaan, padahal 
sebagian dari mereka adalah orang-orang berpendidikan atau bahkan aparat 
keamanan pengayom masyarakat ?

  Sahabat semua, memiliki emosi amarah adalah manusiawi dan merupakan hal yang 
wajar, sejauh itu dapat dikelola dengan benar, tepat waktu dan tepat sasaran 
sehingga tidak merusak orang lain. Karena emosi amarah adalah salah satu watak 
dasar manusia. Menjadi hal yang aneh bila ada seseorang yang mengatakan tidak 
punya rasa marah. Karena sesungguhnya rasa marah merupakan bentuk kekayaan 
bathin kita sebagai manusia. Namun bagi mereka yang tidak mendengarkan suara 
hati nuraninya, akan mudah dikendalikan nafsu amarahnya. Mereka menjadi budak 
nafsu dari amarahnya.

  Berbeda dengan mereka yang memiliki kecerdasan hati nurani, memiliki 
kepribadian cerdas dan tenang, mereka dapat mengendalikan reaksinya agar tidak 
menjadikan kemarahan sebagai tindakan yang agresif, merusak danmenimbulkan 
kebenciaan. Kemampuan seseorang untuk menguasai diri, kemampuan untuk 
menghadapi badai emosional dengan kesabaran, kemampuan mengendalikan dorongan 
hati yang dikuasai emosi dan bukannya membiarkan dirinya dikendalikan atau 
menjadi "budak nafsu" merupakan salah satu kunci rahasia kebijaksanaan. 
Kemampuan seperti ini dijunjung tinggi sejak zaman nabi Adam sampai dengan nabi 
akhir zaman Muhammad saw dan selalu dibawa dalam setiap pajaran beliau.

  Kalau dalam istilah Yunani kuno dikenal dengan istilah "sophrosyne" atau 
"hati-hati dan cerdas dalam mengatur kehidupan, keseimbangan dan kebijaksanaan 
yang terkendali", sebagaimana diterjemahkan oleh Page Du Bois yang dikutip oleh 
Daniel Goleman. Tujuannya adalah keseimbangan emosi, bukan menekan emosi. 
Karena setiap perasaan memiliki nilai dan makna. Sebagaimana yang diamati oleh 
Aristoteles, bahwa yang dikehendaki adalah emosi yang wajar, keselarasan antara 
perasaan dan lingkungan.

  Mengendalikan emosi berarti dapat menjaga keselarasan antara perasaan dan 
lingkungannya. Kemampuan seperti ini memiliki nilai sangat penting bagi 
peningkatan kualitas kepribadian seseorang. Demikian pentingnya dalam 
mengendalikan amarah ini, maka ketika Muhammad Rasulullah saw didatangi oleh 
seorang sahabatnya yang memintanya untuk memberikan nasehat, wasiat beliau 
adalah, ''Janganlah kamu melampiaskan amarah.'' Dan kata-kata itu diulanginya 
lebih dari satu kali.

  Makna dari nasehat ini bukanlah maksud beliau untuk melarang memiliki rasa 
marah. Karena rasa marah itu bagian dari watak dasar manusia yang pasti ada. 
Makna dari nasehat Muhammad saw ini adalah berusahalah menguasai diri ketika 
muncul rasa marah. Supaya emosi kemarahan itu tidak menimbulkan dampak yang 
merugikan orang lain maupun diri sendiri. Inilah inti dari nasehat dalam meraih 
kebijaksanaan hidup.

  seorang pemimpin yang mudah tersulut nafsu marahnya, tidak akan mampu 
memberikan jalan keluar bagi rakyatnya. Justru, ia akan senantiasa memunculkan 
permusuhan di masyarakatnya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang tidak 
memiliki ketenangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. 
Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil 
pasangannya.

  Bagaimana dengan emosi amarah yang ada dalam diri Anda sendiri ? Apakah sudah 
dikelola dengan baik? Bagaimana mengekspresikan emosi kemarahan yang tanpa 
menimbulkan sakit hati ? Bagaimana mengelola emosi dalam diri agar mencapai 
kebijaksanaan…

  Makanya, kalau terpaksa marah, sekedarnya saja. Saya sendiri berusaha memilih 
diam ketika sedang marah kepada seseorang. Kalau ada teman yang saya diamkan, 
kadang bertanya sesuatu saya cuekin saja, itu tandanya saya sedang marah. Dan 
ternyata, ini seni marah yang jitu. Kadang teman saya pelan-pelan mengerti 
maksud sikap saya melakukan itu. Kalau diluapkan secara berlebih, kadang malah 
membuat suasana menjadi rumit, ribet dan panas. Ah, semoga saja kita semua bisa 
belajar mulai dari sekarang untuk bisa mengelola amarah agar bisa menjadi 
seorang yang kuat. dengan marah, kita melakukan pengambilan pada saldo rekening 
bank emosi kita, yang akan menyebabkan kerenggangan hubungan kita dengan orang 
laian. (Ea0

  "Orang kuat itu bukan orang yang badannya besar dan kekar. Orang kuat adalah 
orang yang bisa menahan amarahnya"

  "Anda tidak dihukum karena kemarahan anda, anda dihukum oleh kemarahan anda"

  Orang yang berdoa tetapi tidak berusaha adalah seperti orang yang menembakkan 
panah tanpa tali busur. (Ali Bin Abi Thalib R.A.)

  "Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskannya (melampiaskannya), 
maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. 
Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." (HR. Abu Dawud - 
At-Tirmidzi)

  "Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan 
kotor." (HR. Turmudzi).

  "amarahah adalah pencuri yang mencuri saat-saat manis anda." (Joan Lunden)

  Ia yang bijak akan merasa malu, jika kata-katanya lebih baik daripada 
tindakannya. (Kung Fu-Tze)

  Depok, 31 oktober 2007



  -- 
  Best Regard
  Erwin Arianto,SE
  エルイン アリアント (内部監査事務局)
  -------------------------------------
  SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY 

   

Kirim email ke