“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Yes 1:11-17; Mat 10:34-11:1) "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya. Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.”(Mat 10:34-11:1), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Perkembangan dan kemajuan berbagai macam sarana-prasarana teknologi telah mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak manusia luar biasa. Didukung oleh tersedianya dana dan kesempatan, entah pribadi/perorangan maupun keluarga atau organisasi, mendatangkan ke kamar/rumah/kantornya aneka perlengkapan sarana-prasarana elektronik yang dibutuhkan untuk hidup dan bekerja setiap hari. Tanpa sadar dampaknya banyak orang sangat tergantung pada aneka macam-sarana prasarana eletronik dan tanpa sarana prasarana tersebut tidak dapat hidup dan bekerja. Mereka telah menjadikan ‘aneka produksi manusia alias harta benda’ menjadi ‘tuan’ dan ‘junjungan’ mereka serta cenderung untuk hidup dan bertindak menurut keinginan dan kehendak sendiri, bukan menurut tatanan atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas perutusan. Maka tidak mengherankan pada suatu saat mereka akan kehilangan segala sesuatu yang mereka kumpulkan dan banggakan itu.”Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya”, demikian sabda Yesus. “Kehilangan nyawanya karena Tuhan” berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan: tubuh, harapan, cita-cita, dambaan, keluh kesah, suka-duka, dst.., sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan: setia pada panggilan dan tugas perutusan serta menghayati atau melaksanakan aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas perutusan. Dengan demikian kita akan memperoleh keselamatan dan kebahagiaan sejati yang lebih besar. Maka marilah kita persembahkan diri kita kepada Tuhan melalui sesama dan saudara-saudari kita, lebih-lebih mereka yang miskin, kecil dan serba berkekurangan. · “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat,belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!”(Yes 1:16-17). Kutipan ini kiranya baik dan layak menjadi permenungan, refleksi serta acuan dan pedoman hidup dan cara bertindak kita. Marilah kita berhenti berbuat jahat dalam bentuk apapun dan kemudian belajar berbuat baik. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara universal, dimana saja, kapan saja dan bagi siapa saja. Apa yang diingatkan melalui Yesaya di atas ini rasanya up to date dan mendesak untuk kita hayati pada masa kjni: mengusahakan keadilan, mengendalikan berbagai macam kekejaman seta membela hak anak-anak yatim dan memperjuangkan perkara janda-janda. Keadilan yang mendasar hemat saya adalah hormat terhadap harkat martabat pribadi manusia, sebagai ciptaan Allah terluhur di dunia ini; dengan kata lain ketika terjadi kekejaman terhadap sesama manusia, ada anak-anak terlantar serta hak janda jurang diperhatikan atau dirampas berarti terjadi ketidakadilan, pelecehan terahadap harkat martabat manusia, pelanggaran hak azasi manusia. Kekejaman terjadi di sana-sini dan yang cukup memprihatinkan terjadi di kalangan remaja putri sebagaimana terjadi di Pati. Mungkin yang terjadi di Pati dengan Gang Nero tersebut hanya salah satu dan di tempat lain juga terjadi. Marilah keadilan pertama-tama kita hayati dan sebarluaskan dalam lingkungan terkecil, yaitu keluarga, yang menjadi inti hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara maupun menggereja. "Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya." (Mzm 50:23) Jakarta, 14 Juli 2008

