Syari'at Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan
akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik
kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun kehidupan kolektif dengan substansi
yang bervariasi seperti keimanan, ibadah ritual (spiritualisme), karakter
perorangan, akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah
non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi,
administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban
warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang
teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana,
damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem peradilan dan apresiasi
hukum serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq.
Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal
- Iman dan Ilmu.
one liner 22/8-2008
insya-Allah akan diposting hingga no.800
no.terakhir 841
********************************************************************
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
145. Manuver Enterprise Tahap Kedua,
Menembus Lorong Waktu Adalah Science Fiction
Abu alHasan 'Ali alAsy'ari (873 - 935) peletak dasar Ilmu Kalam (theology)
golongan Ahlussunnah membangun metode pendekatan beralatkan mata pisau analisis
yang mengerat substansi dan fenomena ke dalam tiga klasifikasi: wajib, mungkin,
mustahil. Kita akan meminjam pisau analisis Asy'ari tersebut dalam pembahasan
judul di atas, untuk memenuhi janji akan membahas manuver Enterprise tahap
kedua pada hari ini.
Adapun tahap kedua manuver Enterprise adalah memanfaatkan medan gravitasi yang
sangat kuat dari dawai (tali halus) kosmis. Menurut Teori Relativitas, rentang
waktu tergantung pula pada medan gravitasi. Dengan demikian manuver kedua ini
tujuannya memperlambat waktu untuk menghemat pemakaian bahan bakar. Dawai
kosmis ini adalah suatu benda hipotesis yang diciptakan Allah pada saat
dimulaiNya penciptaan alam syahadah. Menurut pakar fisika nuklir dan kosmologi
George Gamow (1904 - ?) pada saat permulaan penciptaan itu terjadi "big bang",
ledakan dahsyat. Maka terlemparlah jutaan gumpalan kabut plasma (dukhan) yang
akan menjadi galaxy. Turut pula terlempar benda hipotesis dawai tersebut. Teori
big bang dan dawai ini dalam klasifikasi menurut pisau analisis Asy'ari
termasuk dalam kategori mungkin. Dengan demikian kita dapat melangkah setapak
dengan asumsi. Yaitu diasumsikan jika dawai itu ada, maka itulah yang menjadi
penyebab terjadinya black hole (lubang gelap) yang telah ditangkap oleh
teleskop. Apa saja yang melintas dalam kawasan medan gravitasinya, termasuk
cahaya, akan disedotnya, sehingga dalam kawasan medan gravitasinya menjadi
gelap, yang dideteksi oleh teleskop sebagai lubang gelap.
Lubang gelap yang akan dituju oleh Enterprise itu letaknya nun jauh di sana, di
luar galaxy Milky Way tempat tata-surya bermukim, di luar super galaxy Local
Group tempat Milky Way bermukim. Lubang gelap itu jauhnya jutaan tahun cahaya.
Maka Enterprise akan diperhadapkan pada dua pilihan: menghemat bahan bakar
dengan kelajuan jauh di bawah laju cahaya, atau memperlambat waktu dengan
kecepatan mendekati laju cahaya. Pilihan yang pertama membawa konsekwensi
jutaan tahun baru sampai ke tujuan, yang berarti astronaut itu sudah mati
semua. Pilihan yang kedua tidak lain adalah manuver tahap pertama seperti yang
telah dibahas hari Ahad yang lalu, astronaut akan mengecil secara tidak
proporsional yang akan membawa ajalnya, dan pula Enterprise akan kehabisan
bahan bakar. Maka walaupun dari segi adanya dawai itu termasuk kategori
mungkin, akan tetapi manuver tahap kedua Enterprise termasuk kategori mustahil.
Dalam kategori manakah lorong waktu itu berada menurut klasifikasi Asy'ari?
Menurut spekulasi imajinatif, apabila orang melaju di atas laju cahaya ia akan
menembus lorong waktu kembali ke masa silam. Secara experimental laju cahaya
adalah limit laju benda di alam syahadah ini. Dalam pengertian matematis limit
adalah batas yang didekati namun tak pernah menyentuh batas itu. Rumus E = mc2
yang telah dibuktikan secara experimental itu diturunkan Einstein dari
pemekaran transformasi Lorentz terhadap massa, yaitu massa akan bertambah
apabila lajunya bertambah. Artinya massa akan mendekati tak terhingga besarnya
jika lajunya mendekati laju cahaya telah dibuktikan secara tidak langsung. Jadi
menurut klasifikasi Asy'ari jenis materi di alam syhadah ini yang dapat melaju
di atas kecepatan cahaya termasuk kategori mustahil.
Louis Finkelstein (1895 - ?) berteori pula tentang zarrah hipothesis yang
disebutnya tachyon. Kalau laju tachyon di bawah laju cahaya (c) massanya dalam
keadaan maya (imajiner), tidak berada dalam alam syahadah. Barulah tachyon itu
hadir di alam syahadah apabila lajunya di atas laju cahaya. Jadi zarrah tachyon
lain sekali sifatnya dari zarrah yang menyusun tubuh manusia dan materi lainnya
di alam syahadah ini. Zarrah tachyon ini dalam klasifikasi Asy'ari tergolong
dalam kategori mungkin. Namun hingga kini zarrah tachyon ini belumlah
terdeteksi oleh instrumen.
Terdapat kesulitan dalam mendeteksi tachyon ini. Sebuah benda terdeteksi oleh
mata ataupun instrumen karena sinyalnya yang berupa gelombang medan
elektromagnet menyentuh mata ataupun instrumen. Sinyal medan itu tidak lain
adalah cahaya. Karena benda itu semuanya bergerak di bawah laju cahaya, maka
sinyal medan akan lebih dahulu menyentuh mata atau instrumen, barulah kemudian
menyusul bendanya. Lain halnya tachyon. Zarrah ini lebih dahulu menyentuh
instrumen baru sinyal medan. Karena kesulitan mendeteksi tachyon ini maka
tetaplah ia dalam kategori mungkin menurut klasifikasi Asy'ari.
Mempercayai adanya lorong waktu dapat merusak aqidah. Coba bayangkan, Richard
Gott yang sangat gandrung terhadap lorong waktu, dalam umur 50 tahun menembus
lorong waktu mundur 40 tahun, maka ia akan bertemu dengan dirinya sendiri yang
masih berumur 10 tahun. Pertanyaan sekarang ruh Gott ada di mana waktu ia
berjabat tangan dengan dirinya sendiri. Pada tubuh yang berumur 50 tahun atau
yang 10 tahun? Manusia akan mati jika ruhnya sudah dicabut dari tubuhnya oleh
malakulmaut. Jadi kalau ruhnya pada 50 tahun, tubuh yang 10 tahun mesti mati,
demikian pula sebaliknya. Mempercayai lorong waktu berarti mempercayai orang
bertemu dengan dirinya sendiri dalam keadaan kedua-duanya hidup, berarti tidak
mempercayai adanya ruh dalam diri manusia. Ini merusak aqidah. Jadi menurut
klasifikasi Asy'ari, lorong waktu masuk dalam kategori mustahil.
Lalu bagaimana dengan membaca buku atau melihat film tentang science fiction,
apa ada gunanya? Pertanyaan ini sama jawabannya dengan pertanyaan, adakah
gunanya membaca dongeng? Tentu ada manfaatnya, karena dongeng tradisional dan
dongeng modern (baca science fiction) dapat saja mengandung pesan-pesan nilai
yang bermanfaat, seperti misalnya kritik sosial dalam bentuk dongeng tentang
kerajaan binatang. Hanya harus ingat bahwa dalam membaca itu harus menyadari
bahwa kejadian aneh-aneh, seperti binatang bercakap-cakap seperti manusia,
Bramakumbara menunggang rajawali yang setengah dewa, to beam down from
Enterprise dll tidak boleh mempercayainya bahwa itu benar-benar terjadi
demikian, karena kalau percaya menjadilah tahyul dan itu merusak aqidah.
*** Makassar, 18 September 1994
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/1994/09/145-manuver-enterprise-tahap-kedua.html