Mg Biasa XXVII : Yes 5:1-7;
Flp 4:6-9; Mat 21:33-43

“Kerajaan
Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan
menghasilkan buah Kerajaan itu”

 

“Jalan pintas”  atau “budaya instant”  rasanya menjiwai cukup banyak orang 
Indonesia,
entah secara pribadi maupun organisatoris. Anak-anak sekolah, pelajar atau
mahasiswa tidak atau jarang belajar tetapi ingin cepat lulus, maka lalu
menyontek; muda-mudi ingin cepat-cepat menikmati hubungan seks sehingga ketika
hamil lalu menggugurkan; ingin cepat makan atau minum maka pilih makanan atau
minuman dalam kemasan, padahal belum tentu sehat, maka mudah sakit-sakitan;
ingin segera memperoleh masukan atau pendapatan besar, maka tambang atau hutan
dijual, dst.. Dampak dari semuanya itu antara lain nampak dalam (1) aneka
kekayaan tambang dikuasai oleh perusahaan luar negeri dan bangsa Indonesia
menjadi penonton, (2) tiadanya penghargaan terhadap penelitian-penelitian dari
pemerintah, maka para peneliti mencari sponsor beaya dari luar negeri dan dengan
demikian hasil penelitian yang terjadi di Indonesia,yang pertama-tama menikmati
dan memanfaatkan adalah para sponsor dari luar negeri, dst.. Karena kita kurang
berani mengelola dan mengurus sendiri aneka macam kekayaan alam dan bumi maupun
para pakar ilmu pengetahuan, maka aneka kekayaan alam dan bumi serta
keterampilan para pakar ilmu pengetahuan ‘diambil
dari tengah-tengah kita dan dinikmati oleh orang lain’. Kiranya cukup
banyak pakar/ahli aneka ilmu pengetahuan, para sarjana atau doktor, karena 
kurang
dihargai bekerja di dalam negeri maka mereka lebih senang atau memilih bekerja
di luar negeri.    

 

"Belum
pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang
bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu
perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan
Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan
menghasilkan buah Kerajaan itu” (Mat 21:42-43)

 

Cara berpikir atau paradigma
manusia memang berbeda atau bahkan sering berlawanan dengan ‘cara berpikir atau
paradigma’ Tuhan.  Apa yang dinilai
remeh, rendah atau tak berarti dalam hidup biasa di ‘mata dunia’ atau orang
yang bersikap mental materialistis adalah sangat berarti atau bermakna di dalam
Tuhan. Kebenaran ini antara lain dapat dicermati di masa Libur Idul
Fitri/Lebaran yang baru berlalu atau masih berlangsung saat ini, dimana para
pembantu rumah tangga atau buruh dan tenaga kasar minta cuti untuk mudik.
Anggota keluarga harus kerja keras untuk mengurus kebutuhan rumah tangga atau
keluarga, seperti kebersihan, cucian dst.. atau terpaksa membayar mahal tenaga
pengganti di masa libur ini. Berbagai sarana permainan anak-anak dan kebutuhan
rumah tangga berantakan gara-gara tidak ada pembantu. Perusahaan-perusahaan dan
aneka usaha produksi tutup, tidak berjalan dan berdampak pada kenaikan harga
kebutuhan pokok dll..  Dalam kesempatan
dan pengalaman macam itu kiranya kita merasakan betapa pentingnya peran pembantu
rumah tangga atau buruh dan tenaga kasar di dalam hidup sehari-hari.

 

“Batu penjuru” adalah penopang
kekuatan sebuah bangunan, yang diletakkan di dasar bangunan, di dalam tanah dan
kiranya tidak kelihatan . Hidup bersama kita, entah di dalam keluarga,
masyarakat maupun tempat kerja bagaikan ‘bangunan’ , maka marilah mawas diri:
‘siapa atau apa’ yang menjadi ‘batu penjuru’ hidup bersama bagi kita. Kalau
kita cermati hidup bersama kita kiranya yang menjadi ‘batu penjuru’ adalah
cintakasih, yang harus dihayati dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal
budi dan segenap kekuatan atau tenaga. Bukankah para pembantu rumah tangga atau
buruh atau pekerja kasar yang baik dari kelemahan dan kerapuhannya telah
menghayati cintakasih itu dalam kerja dan pelayanannya?  Maka kami berharap dan 
menghimbau kepada kita
semua untuk menghargai dan memperhatikan para pembantu rumah tangga, buruh atau
pekerja kasar sebaik mungkin. Marilah kita lihat dan akui aneka macam keajaiban
yang terjadi dalam kinerja dan pelayanan para pembantu rumah tangga, buruh atau
tenaga kasar, yang berjasa berpartisipasi membangun dan merawat bangunan, entah
bangunan phisik seperti gedung-gedung tinggi atau keluarga dan kantor yang
cukup besar secara diam-diam. 

 

“Janganlah
hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal
keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai
sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu
dalam Kristus Yesus.Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang
mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap
didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya
itu “(Flp 4:6-8) 

 

Kita semua dipanggil untuk
berpikir dengan penuh syukur tentang semua
yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang
manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut
dipuji. Rasanya apa yang kita pikirkan kemudian pasti akan kita lakukan
atau usahakan, dan dengan demikian mempengaruhi atau menjiwai cara hidup dan
cara bertindak kita di manapun dan kapanpun. Kami berharap dan menghimbau agar
kebiasaan cara berpikir yang demikian itu terjadi dan hidup di dalam keluarga,
yang menjadi sel atau inti dan dasar hidup bersama bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Jangan remehkan dan pandang rendah panggilan hidup berkeluarga.
Ingat dan kenangkan, lebih-lebih bagi para suami dan isteri, ketika anda berdua
masih dalam masa  pacaran atau tunangan;
rasa apa yang diserukan Paulus di atas untuk memikirkan semua yang benar, semua
yang mulia, dst.. pernah terjadi dan hidup dalam diri anda berdua. Maka
hendaknya cara berpikir itu terus diperdalam, dikembangkan dan disebarluaskan
di dalam hidup berkeluarga. 

 

Berpikir tentang semua yang
benar, semua yang mulia dst..rasanya juga pernah dialami oleh semua ‘calon’,
entah calon pelajar/mahasiswa, calon pegawai/pekerja, calon imam/bruder/suster,
calon pejabat atau kepala daerah atau pemimpin, dst.. Dengan kata lain kita
semua telah memiliki pengalaman memikirkannya serta mengusahakannya, maka
hendaknya jangan berhenti berpikir tentang semua yang benar. semua yang mulia,
dst.. dalam tugas pekerjaan dan panggilan atau jabatan dan fungsi yang anda
miliki saat ini. Kita semua dipanggil untuk menghayati impian Yesaya ini: “Aku 
hendak menyanyikan nyanyian tentang
kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai
kebun anggur di lereng bukit yang subur.Ia mencangkulnya dan membuang
batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah
menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu
dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang
dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.”(Yes 5:1-2)

 

Kita semua adalah yang terkasih
dan dengan demikian yang lain, siapapun adalah ‘kekasihku’. Marilah hidup hidup
saling mengasihi agar cara hidup dan cara bertindak kita ‘menghasilkan buah 
anggur yang baik’, apa-apa yang baik sehingga
kita semua di dalam keadaan baik, sehat wa’afiat dan segar bugar baik secara
phisik maupun spiritual, cerdas beriman. Allah telah menciptakan bumi seisinya
dalam keadaan baik adanya, maka marilah bumi dan segala isinya kita rawat dan
kelola atau urus sebaik mungkin demi kebahagiaan dan kesejahteraan seluruh umat
manusia di bumi ini. 

 

“Mengapa Engkau melanda temboknya, sehingga ia dipetik oleh setiap
orang yang lewat? Babi hutan menggerogotinya dan binatang-binatang di padang 
memakannya. Ya Allah semesta alam,
kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon
anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu” (Mzm 80:13-16)

 

Jakarta, 5
Oktober 2008




      
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke