“Ajarlah kami berdoa”

(Gal 2:1-2.7-14; Luk 11:1-4)

 

“Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di
salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari
murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang
diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya." Jawab Yesus kepada mereka:
"Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah
Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan
ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang
bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan." (Luk 
11:1-4), demikian kutipan Warta Gembira
hari ini.

 

Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

·   Berdoa memang tidak mudah, kebanyakan orang berdoa
hanya membaca atau menghafal teks doa. “Berdoa
berarti dengan jujur menyatakan isi hati, hati orang beriman, di hadapan Tuhan.
Tidak penting apakah orang berdoa sendiri atau bersama orang lain, diucapkan
dengan mulut atau direnungkan dalam hati” (KWI,  Buku Informasi dan Rerefensi,  
Penerbit Obor-Jakarta 1996, hal 198). Berdoa
merupakan bagian hidup orang beriman, maka mengaku beriman tetapi jarang atau
tidak pernah berdoa berarti munafik atau bohong. Salah seorang dari murid Yesus
minta diajari berdoa, dan Yesus mengajarkan doa yang sederhana serta mendalam
dan kiranya sesuai dengan isi, dambaan dan kerinduan hati setiap orang, bukan
yang muluk-muluk, panjang dan berbelit-belit., Baiklah dalam refleksi sederhana
ini saya mengajak kita semua untuk merenungkan kutipan doa yang diajarkan Yesus
ini: “Berikanlah kami, setiap hari
makanan kami yang secukupnya”. Isi doa ini kiranya sesuai dengan isi hati
kebanyakan orang dan hanya orang-orang tertentu yang serakah yang mendambakan
rezeki sebanyak-banyaknya untuk masa depan, tujuh turunan. Makanan yang cukup
setiap hari akan membuat tubuh segar bugar, sehat wal’afiat dan dengan demikian
ada kemudahan untuk beriman. Makanan yang cukup tidak sama dengan makanan yang
enak dan banyak, tetapi sesuai dengan kebutuhan tubuh dan bergizi. “Empat 
sehat, lima sempurna”
(nasi/tepung/ketela/jagung, sayur-mayur, daging, buah dan susu), itulah pedoman 
bagi kesehatan dan kebugaran tubuh. Maka
dengan ini kami menghimbau dan mengingatkan: (1) kepada anak-anak, lebih-lebih
masa balita hendaknya dibiasakan makan dan minum dengan pedoman tersebut, (2)
kepada siapapun hendaknya hidup sederhana dan sehat, hati-hati dengan aneka
macam bentuk makanan dan minuman dalam kemasan, siap saji, dst.. Rasanya jika 
kita
tidak ada masalah dalam hal makan dan minum sesuai dengan pedoman ‘empat sehat
lima sempurna’, maka dengan mudah kita hidup saling mengampuni dan mengasihi
serta bersama-sama memuliakan dan menguduskan Nama Tuhan, dan dengan demikian
Allah merajai dan menguasai kebersamaan hidup kita dimanapun dan kapanpun. 

·   “Setelah
melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan
Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan
dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang
yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat; hanya kami
harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh
kuusahakan melakukannya” (Gal 2:9-10)
, demikian kutipan kata-kata Paulus kepada umat di Galatia. Kerjasama dan
saling berbagi itulah yang terjadi, bukan berbagi  makanan melainkan berbagi 
tugas untuk
mewartakan kabar baik, keselamatan. Paulus memperoleh tugas ‘pergi kepada 
orang-orang yang tidak bersunat
serta  harus tetap mengingat orang-orang
miskin’. Yang dimaksudkan tidak bersunat adalah bangsa-bangsa bukan Yahudi.
Rasanya tugas panggilan dan perutusan Paulus juga menjadi tugas panggilan dan
perutusan kita semua. Kita semua dipanggil dan diutus untuk mewartakan kabar
baik dengan harus tetap mengingat orang-orang miskin. Kiranya orang-orang
miskin ‘ada di sekitar kita’, maka baiklah dalam hidup, kesibukan dan pekerjaan
kita setiap hari hendaknya solider terhadap mereka yang miskin dan
berkekurangan, berpihak pada dan bersama dengan yang miskin dan berkekurangan.
Sekali lagi saya tegaskan bahwa kita siap sedia dan berani berpihak dan bersama
dengan yang miskin dan berkekurangan jika kita sendiri hidup dan bertindak
dengan sederhana alias menghayati doa “Berikanlah
kami,setiap hari makanan kami secukupnya”, bukan sebanyak-banyaknya. Allah
telah menyediakan makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh seluruh umat manusia
secara memadai dan cukup untuk semuanya, maka jika masih ada yang kelaparan,
miskin dan berkekurangan berarti ada sementara orang yang serakah, egois dan
cari enak sendiri. Orang serakah dan egois adalah sumber permusuhan dan
pertengkaran, sebaliknya orang sederhana adalah sumber persahabatan dan
perdamaian. 

 

“ Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah
Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan
TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!
(Mzm 117)

 

Jakarta, 8 Oktober 2008

  
 




      
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke