“Hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."

(Ef 2:1-10; Luk 12:13-21)

 

“Seorang dari orang banyak itu berkata
kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan
dengan aku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang
telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kata-Nya
lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala
ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah
tergantung dari pada kekayaannya itu." Kemudian Ia mengatakan kepada
mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang
kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah
yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat
menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan
merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku
akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku
akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk
bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan
bersenang-senanglah!Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada
malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan,
untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan
harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”(Luk 
121:13-21), demikian kutipan Warta Gembira hari
ini

 

Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

·   Orang yang bersikap mental materialistis pada umumnya
memang khawatir atau cemas akan hari esok atau masa depan . Sikap mental ini
pada umumnya terjadi pada diri orang-orang kaya yang serakah dan ketika mereka
meninggal dunia anak-anaknya dapat berebut warisan, bahkan dapat terjadi
permusuhan karena pembagian warisan dirasa tidak adil. Mereka juga dapat
berkata sebagaimana diwartakan dalam Injil hari ini: “Jiwaku, ada padamu banyak 
barang, tertimbun untuk bertahun-tahun
lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah”. Mereka
sungguh menggantungkan diri pada harta kekayaannya, dan ketika harta
kekayaannya berkurang atau bahkan ‘hilang’ maka mereka menjadi gila alias
sinthing, bahkan ada yang bunuh diri. “Hai
orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang
kausediakan, untuk siapakah itu nanti?”. Hidup mengandalkan atau
menggantungkan diri pada harta benda atau kekayaan duniwai adalah orang
‘bodoh’. Maka marilah kita tidak menjadi serakah dalam hal harta benda duniawi,
melainkan hidup sederhana, sebagaimana sering kita doakan dalam doa Bapa Kami 
“Berilah kami hari ini rezeki secukupnya”, hari
ini, bukan untuk bulan ini apalagi tahun ini atau masa depan, karena kita tidak
tahu apakah besok pagi masih hidup, sewaktu-waktu dapat dipanggil Tuhan. Kepada
mereka yang kaya akan harta benda atau uang kami berharap untuk solider dan
berbagi dengan mereka yang miskin dan berkekurangan; para pengusaha hendaknya
memberi kesejahteraan yang memadai kepada para buruh atau pegawainya. Marilah
menjadi kaya di hadapan Allah, artinya kaya akan keutamaan-keutamaan atau
nilai-nilai kehidupan. Hendaknya diwariskan kepada anak-anak bukan harta benda
atau uang melainkan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan.

·   “Karena kasih
karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian
Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef 
2:8-9), demikian peringatan Paulus kepada umat di
Efesus, kepada kita semua. Sekiranya kita sehat wal’afiat dan kaya akan harta
benda atau uang, hendaknya hidup penuh syukur dan terima kasih, karena semuanya
itu adalah ‘bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah’, yang kita terima melalui banyak orang yang telah berbuat
baik dan membantu kita, misalnya: orangtua, pendidik/guru, rekan, pegawai,
buruh., dst.. Hendaknya menjadi rendah hati dan juga rela berbagi. Secara
khusus perkenankan saya mengingatkan para pengusaha/pemilik usaha atau
perusahaan, yang rasanya kaya dalam hal uang atau harta benda: ingatlah dan
sadarilah bahwa kekayaan berasal tidak pernah terlepas dari kerja keras para
buruh atau pegawai, untuk sekolah adalah para guru!. Maka kami sangat
mengharapkan sebagai pengusaha atau pemilik usaha untuk mensejahterakan semua
pembantu dan pegawai/guru. Jika anda pelit untuk  mensejahterakan meraka maka 
akan berdampak
pada ketidak-seriusan kerja mereka maupun korupsi para pegawai/buruh/guru.  
Sebaliknya jika buruh, pegawai, guru,
pembantu dst.. sejahtera, maka mereka akan bekerja keras, giat, rajin,
disiplin, dst.. dan pada gilirannya usaha semakin maju, tumbuh berkembang dan
handal. Pengusaha yang pelit terhadap para pembantu, buruh atau pegawainya
berarti menciptakan lingkungan hidup/kerja yang subur untuk korupsi dan
usahanya tak akan bertahan lama, akan segera gulung tikar atau mati. 

 

“Beribadahlah kepada TUHAN dengan
sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa
TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan
kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian
syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan
pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya,
dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun”
(Mzm 100:2-5)

 

Jakarta, 20 Oktober 2008



__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 

Kirim email ke