“Mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?
(Ef 4:16; Luk 12:54-59)
“Yesus berkata pula kepada orang banyak:
"Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata:
Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin
selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang
terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya,
mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak
memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi
menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan,
supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau
kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku
berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar
hutangmu sampai lunas." (Luk
12:54-59), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:
· “Tanda-tanda zaman” itulah judul rubrik/ulasann pada
halaman pertama majalah bulanan Basis, ketika majalah tersebut diasuh/dipimpin
oleh P.Dick Hartoko SJ alm. Dengan cermat dan tajam Pater Dick Hartoko
mengangkat dalam bentuk tulisan singkat perihal makna aneka macam peristiwa
yang sedang terjadi, dan berusaha menemukan apa yang sebenarnya terjadi di
balik aneka macam peristiwa tersebut. Berbagai macam bentuk peristiwa, entah
yang menggembirakan atau menyedihkan, merupakan ‘ledakan’ dari suatu impian,
cita-cita atau harapan dari beberapa orang yang sangat berpengaruh dalam
kehidupan bersama. Banjir bandang antara lain disebabkan oleh keserakahan
sementara orang yang berkuasa dan berduit yang membabat hutan maupun membetoni
tanah-tanah
sehingga tiada resapan air hujan lagi, pemanasan global serta berbagai dampak
bencana alam karena perubahan cuaca antara lain karena pengaruh kemajuan dan
perkembangan tehnologi, buah karya para pakar, dst.. Mungkin baik kita cari
contoh yang sederhana yaitu apa yang terjadi di dalam keluarga atau tempat
kerja dan masyarakat basis(RT,RW): ketika ada ketegangan atau permusuhan antar
anggota keluarga, pekerja atau warga masyarakat, rasanya ada kesalah-pahaman
atau belum adanya titik temu dan pengintegrasian aneka macam ide, gagasan,
cita-cita, harapan dari masing-masing anggota, pekerja atau warga. Maka marilah
kita ‘berusaha berdamai selama di tengah jalan’, selama mengarungi hidup dan
kerja bersama, antara lain dengan saling membuka diri atas ide, gagasan,
cita-cita dan harapan, dan kemudian bersama-sama mencari ‘benang merah’ atau
apa yang sama. Apa yang sama kita hayati dengan bergotong-royong secara
mendalam, dan dengan demikian apa yang berbeda akan fungsional untuk membangun
hidup bersama yang damai dan sejahtera. Secara pribadi hendaknya dibiasakan
‘mawas diri’ atau ‘pemeriksaan batin’ setiap hari.
· “Hendaklah
kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam
hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai
sejahtera:” (Ef 4:2-3), demikian
nasihat Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua orang beriman. Rendah
hati, lemah lembut dan sabar merupakan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai
kehidupan dasar dan mendesak untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam kehidupan
bersama masa kini. Rendah hati antara lain senantiasa bersikap terbuka terhadap
aneka macam kemungkinan dan kesempatan serta siap sedia untuk dituntun,
dididik, dibina, dikembangkan, dst.. Lemah lembut dalam bahasa Latin ‘pietas’
‘Pietas’
antara lain memiliki arti cinta,
hormat, rasa segan, setia, saleh, adil, jujur, rasa kasihan, kerahiman,
kelembutan hati, maka bersikap lemah lembut hemat saya juga menghayati
keutamaan-keutamaan/arti dari ‘pietas’ tersebut. Sedangkan ‘sabar adalah sikap
dan perilaku yang
menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan
seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah” (Prof
Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka –
Jakarta 1997, hal 24). Kita juga dipanggil untuk saling membantu atau
bergotong-royong. Dalam kenyataan hidup atau kerja, masing-masing dari kita
sering telah memiliki tugas atau kewajiban tertentu, yang berbeda satu sama
lain. Maka ketika saya sudah selesai menghayati atau melakukan tugas dan
kewajiban kita dan sementara itu rekan-rekan kita belum selesai, hendaknya
dengan rendah hati membantu mereka yang belum menyelesaikan tugas dan kewajiban
tersebut. Solidaritas dan kerjasama merupakan keutamaan yang harus kita hayati
dan sebarluaskan di tengah-tengah maraknya kesadaran jati diri akan suku,
agama, ras, golongan yang semakin marak pada saat ini. Marilah kita bermoto:
“Kesatuan dalam keragaman, keragaman dalam kesatuan” atau “Bhineka
Tunggal Ika”.
“TUHANlah yang empunya bumi serta segala
isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya
di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai."Siapakah yang
boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang
kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak
menyerahkan dirinya kepada penipuan”
(Mzm 24:1-4b)
Jakarta, 24 Oktober 2008
.
Coba Yahoo! Messenger baru