Dear all,
Seharusnya saat kita menjadi bangsa Indonesia tidak lagi merasakan
perasaan menderita atau sengsara lagi karena saat saya membaca arahan
menkokesra pada rakerpim tahun 2008 didalamnya berisikan perhatian Negara
terhadap kesejahteraan rakyat. Disana dituliskan tiga pilar pembangunan rakyat
yaitu sbb : 1. penanggulangan kemiskinan dan pengangguran, penanggulanagn
antisipasidan tanggap cepat terhadap kesejahteraan rakyat yang ketiga adalah
pengembangan investasi dan sumberdaya manusia dan kemasyarakatan. Dan dari tiga
pilar itu seharusnya masyarakat tidak perlu lagi merasakan susah atau takut
menghadapi hidup karena sudah tersusun dengan rapi rencana-rencana pemerintah
untuk perbaikan kesejahteraan.
Wah ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, pengen pulang
tenggo (teng langsung go!!!) pengen ke gereja setelah seharian bergumul dengan
indahnya dunia biar sedikit merasakan hawa surga.hahahahaha. sampai digereja
romo berbicara tentang kekuatiran hidup. Hah ko sama yang sedang saya pikirkan
tadi pagi ya, saat saya membaca arahan menkokesra.hehehehe. setelah selesai
misa saya langsung menjejakan langkah keluar, saya merasa harus mengisi perut
dengan makanan dan saya makan diseberang gereja terlihat ada warung pecel
lele, ah makan disana aja. Saat menikmati makanan ada dua orang pengamen yang
sedang menyayikan lagu koes plus, klo boleh saya nyayikan lagunya begini “buat
apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanya…..”. eh dan wow ko hampir
sama dengan arahan menkokesra lagi, memang bener Bapak menkokesra memperhatikan
pengamen juga walaupun dalam kondisi rupiah yang terus anjlok dan inflasi yang
ga tau
kapan selesainya mereka tetap bisa bernyayi lagu koes plus. (dalam batin).
Sehabis makan ternyata kedua pengamen itu masih duduk di depan
warung dengan hati yang riang sambil bercanda layaknya dunia hanya milik mereka
berdua. Ah daripada cepat-cepat sampai rumah mendingan saya beli the botol dulu
ah sambil ngobrol sma pengamen, siapa tau saya bisa mendapatkan pelajaran dari
seorang pengamen dalam menikmati hidupnya…J. Saya coba tanya beberapa
pertanyaan. Habis dari mana mas ko jam segini masih kelihatan segar bugar ?
jawab salah seorang pengamen “habis dari mesjid mas. Eh dalam hati saya
berfikir, ternyata sesibuk dan sekeras apapun dalam menjalani kehidupanya
pengamen ini tetap bisa ingat akan Tuhan, huebat bener pengamen ini. Dengan
penghasilan harian mas apa mas tidak merasa kurang terus apa ga ingin mencari
pekerjaan lain ? jawab salah satu pengamen “kalau dipikir-pikir ya kurang tho
mas (sambil ketawa hahahaha), dalam batin saya (ko bisa menertawakan
kekuranganya, sambil tertawa juga saya
hahahahaha). Ya sampai saat ini saya masih coba cari pekerjaan tetap mas tapi
belum dapat kerja, yang penting punya keyakinan suatu saat saya pasti bisa
mendapatkan apa yang saya pikirkan sekarang aja mas” (wow, kataku dalam
hati).mas pernah ga nglakuin hal yang ga disukai orang lain? “Pernah mas, saya
pernah menipu orang yang sedang tanya jalan di Jakarta, asik dan
menghibur....(dalam hati ketahuan juga belangnya hahahahaha, tapi itu
menunjukkan seorang manusia yang tidak sempurna. Sebaik apapun pasti mempunyai
dosa baik sadar ataupun tidak saadar).
Ternyata waktu sudah malam ga terasa juga, setelah itu saya
mengucapkan terimaksih atas ngobrolnya dan untuk sharingnya saya belikan dua
bungkus pecel lele supaya bisa menghilangkan rasa lapar dan menambah tenaga dan
juga jika ada karpet merah saya pasangkan dijalan biar kaki tidak kotor
sekaligus bisa tidur diatas karpet supaya hangat walaupun beratapkan langit….
Yo wes tak balik sik ya mas (karena salah satu pengamenya dari jawa juga
hehehehe)…
Sampai dirumah saya coba cari data tentang anak jalanan, dari hasil
survai dan pemetaan sosial Pusat Kajian Pembangunan Masyarakat Universitas
Atmajaya-Jakarta, tahun 1999 jumlah anak jalanan di 12 kota besar di Indonesia
mencapai 39.861 orang, terdiri atas 32.678 orang laki-laki dan 7.183 orang
perempuan. Pada tingkat nasional terdapat sekitar 2,5 juta anak jalanan yang
mendapat bantuan pembinaan keterampilan dari Badan Kesejahteraan Sosial
Nasional, Dinas Sosial, dan LSM. Sementara data dari Kepala Dinas Sosial DKI
Jakarta mencatat jumlah anak jalanan di Jakarta terdapat 10.800 orang. Tetapi
pada pencarian kedua saya mendapatkan Pak AM Saefuddin yang mantan Menpangan
itu, dalam sebuah wawancara dengan majalah PERMATA (edisi 13/V/Januari 1997)
menyebutkan bahwa ada 200 konglomerat dari 200 juta penduduk Indonesia. Berarti
sekitar 0,0001% memiliki sumber pendapatan nasional 60%. Sisanya, 40% dimiliki
sekitar 99,9999%
(199.999.800) penduduk Indonesia lainnya. Wow tapi saya yakin (Cuma dalam hati
dan mencoba berfikir positif) bahwa konglomerat juga memperhatikan rakyat kecil
dengan banyaknya perusahaan yang dibangun sehingga bisa memperkerjakan rakyat
banyak hehehehehe…
Memang benar selain Tuhan ternyata pemerintah dan juga konglomerat pasti
memperhatikan anak jalanan dan fakir miskin. Tetapi semua perasaan senang,
sedih, bahagia, menderita tergantung dari diri kita sendiri, kalaupun ada
perasaan sedih dan menderita pasti hanya sesaat saja. Hah.. kataku dalam hati
sik tak coba cari tau dulu sebentar....(sambil merenung...) ooooohhhh ternyata
beberapa telah dijawab pengamen tadi. Ya udah dech, semoga hari ini saya tambah
pelajaran kehidupan walaupun dari dua orang pengamen. J
Noersekha Aji Tomo
Business Analyst
IPDC Consulting
Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/