Mg Adven I : Yes 63:16b-17;
64:1.3b-8; 1Kor 1:3-9; Mrk 13:33-37
“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu
pulang”
Sebagai murid/pelajar/mahasiwa
baru, suami-isteri/penganten baru, imam/bruder/suster baru, pekerja atau
pejabat baru dst.. pada umumnya yang bersangkutan sarat atau penuh dengan
harapan-harapan, impian-impian atau cita-cita. Sebagai ‘yang baru’ mereka juga
senantiasa hidup bergairah, bersemangat, dinamis, terbuka dst…dalam menghayati
panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan dan kewajiban-kewajibannya. Hari
ini kita memasuki tahun baru kalendarium liturgy, masa Adven, yang diwarnai
keutamaan pengharapan, harapan akan pemenuhan janji Allah, kelahiran atau
kedatangan Yesus, Penyelamat Dunia. Sebagaimana seorang ibu yang sedang
mengandung serta menantikan kelahiran anak yang dikandungnya pada umumnya
dijiwai keutamaan pengharapan serta bentuk-bentuk matiraga tertentu, demikian
pula dalam masa Adven kita dipanggil untuk mawas diri perihal keutamaan
pengharapan serta matiraga atau laku tapa yang kita butuhkan agar dapat hidup
bahagia, damai sejahtera.
“Berjaga-jagalah,
sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau
tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba
datang jangan kamu didapatinya sedang tidur”(Mrk 13:35-36)
Kutiipan di atas ini kirannya
mengajak dan mengingatkan kita semua agar senantiasa siap sedia dan rela
sewaktu-waktu dipanggil Tuhan alias meninggal dunia. Tidak ada seorangpun di
dunia ini tahu kapan ia dipanggil Tuhan atau meninggal dunia, kecuali orang
yang tak bermoral atau penjahat karena bunuh diri atau dihukum mati karena
kejahatannya. Kita semua dipanggil untuk berjaga-jaga, yang antara lain
senantiasa menghayati keutamaan pengharapan disertai keutamaan yang diperlukan
dalam hidup sehari-hari, di dalam keluarga, tempat tugas/kerja maupun
masyarakat pada umumnya:
·
Menghayati keutamaan pengharapan dan matiraga di
dalam keluarga antara lain dengan hidup saling mengasihi antar anggota keluarga
dengan teladan orangtua atau suami-isteri yang telah berjanji untuk saling
mengasihi baik dalam untung maupun malang,
sehat maupun sakit sampai mati. Saling mengasihi berarti siap sedia untuk
mengasihi dan dikasihi; rasanya yang kurang memperoleh perhatian dan
penghayatan adalah ‘siap sedia dikasihi’. Kasih tidak selalu lembut tetapi
dapat keras atau menyakitkan, misalnya diberitahu, ditegor, dinasihati,
dikritik, diluruskan, dst… Dalam hal ‘dikasihi’ inilah kiranya orang dituntut
matiraga atau rendah hati, karena dikasihi berarti dipandang atau dinilai
rendah, kurang atau lemah dan pada umumnya orang tidak siap untuk diperlakukan
demikian itu. Maka hendaknya ketika dikasihi tetap penuh pengharapan alias
ceria dan gembira, meskipun karena dikasihi kita harus berkorban atau merasa
‘sakit’ atau ‘menderita’. Sakit atau derita anda pasti akan memperkuat atau
memperteguh pengharapan anda, sehingga senantiasa rindu ‘pulang ke rumah’,
berkumpul dengan segenap anggota keluarga.
.
·
Para pekerja atau pegawai sering memiliki
‘penyakit hari Senin’, maksudnya setelah menikmati liburan ‘week-end’ terasa
enggan masuk kerja dan rasanya ingin liburan terus, sehingga memasuki hari
pertama dalam kerja/hari Senin ada rasa enggan alias kurang bergairah atau
berpengharapan. Kepada mereka yang merasa enggan atau kurang bergairah memasuki
hari Senin kami ajak untuk merenungkan dan menghayati kutipan ini: “Tak
berkesudahan kasih setia TUHAN, tak
habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu” (Rat
3:22-23). Kiranya tidak hanya hari Senin saja
kita harus bergairah dan bersemangat, tetapi setiap pagi hari begitu bangun
mengawali hari dan masuk kerja atau sekolah hendaknya tetap bergairah, penuh
semangat dan pengharapan. Bukankah sedikit banyak hidup kita masa kini dan masa
depan tergantung dari tempat kerja atau tempat belajar kita masing-masing?
Mengawali hari dan kerja atau tugas pengutusan dengan gairah dan pengharapan
akan lebih berhasil atau sukses daripada ‘ogah-ogahan’ atau tidak bergairah.
·
Masyarakat kita masa kini sarat dengan
tantangan, hambatan dan godaan dalam berbagai bentuk atau cara. Aneka macam
bentuk perbedaan (suku, ras., agama, jabatan/pekerjaan/tugas, pengalaman dst..)
dapat menjadi sumber permusuhan atau pertikaian
Marilah kita hadapi dan sikapi aneka perbedaan yang ada di antara kita
dengan gairah dan pengharapan; saling belajar dan memperkaya satu sama lain.
Dengan rendah hati kita hayati sikap mental belajar terus menerus: belajar
tidak hanya di sekolah atau perguruan tinggi atau membaca buku, mengkuti
lokakarya, seminar dst.., tetapi dalam pergaulan bersama dengan siapapun kita
dapat belajar. Ingat dan sadari bahwa ‘lingkungan hidup’ sangat mempengaruhi
hidup, pertumbuhan dan perkembangan kita masing-masing. Kita harus saling
mendengarkan dan memang mendengarkan butuh kerendahan hati dan pengorbanan.
“Di
dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam
perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang
Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. Demikianlah kamu tidak
kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan
kita Yesus Kristus “(1Kor 1:5-7)
Jika kita mawas diri, mencermati
dan memperhatikan diri kita masing-masing dengan baik dan memadai, kiranya
masing-masing
dari kita bertambah usia berarti semakin diperkaya ‘dalam segala hal, dalam
segala macam perkataan dan segala macam
pengetahuan’. Kita diperkaya oleh Allah melalui orangtua, kakak-adik,
saudara-saudari dan kenalan serta sahabat kita dalam berbagai kesempatan, entah
berupa perkataan, pengetahuan maupun keterampilan. Maka selayaknya kita
senantiasa hidup penuh syukur dan terima kasih serta kita wujudkan syukur dan
terima kasih dengan kegairahan hidup bersama di manapun dan kapanpun, bersyukur
dan berterima kasih kepada siapapun. Ingat, sadari dan hayati bahwa aneka macam
perkataan, pengetahuan dan keterampilan yang disampaikan kepada kita adalah
perwujudan ‘kasih’ mereka kepada kita orang lemah dan rapuh.
“Kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu
menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus”, demikian peringatan Paulus
kepada umat di Korintus, kepada kita semua orang beriman. Kasih karunia yang
kita terima antara lain berupa ‘harta benda/uang, jabatan/pangkat/kedudukan
serta kehormatan duniawi’. Karena semuanya yang kita miliki, kuasai atau
nikmati sampai saat ini adalah ‘kasih karunia’, maka selayaknya atau seharusnya
semuanya itu kita fungsikan untuk saling mengasihi, bukan untuk diri sendiri.
Maka baiklah memasuki masa Adven ini kita perhatikan saudara-saudari kita yang
miskin dan berkekurangan dalam berbagai hal. Di dalam Gereja Katolik, di
paroki-paroki ada kebiasaan menyenggarakan ‘Aksi Natal’, suatu bentuk gerakan
solidaritas dan keberpihakan pada atau bersama dengan yang miskin dan
berkekurangan. Hendaknya gerakan ini tidak hanya secara liturgis atau formal
belaka: marilah melalui kesempatan dan kemungkinan yang ada kita hidup dan
bekerja bersama atau bersama-sama dengan mereka yang miskin dan berkekurangan
agar nanti kita dapat memahami dan mengimani bahwa ‘Penyelamat Dunia’ yang kita
nantikan kedatanganNya lahir dalam puncak kemiskinan, dikandang hewan dan di
malam gelap gulita. Marilah kita bersama Yesaya berdoa dan menghayati doa ini:
“Sekarang,
ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk
kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu” (Yes 64:8).
“Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan
lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan
kanan-Mu! Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak
manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, maka kami tidak akan
menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan
nama-Mu”
(Mzm 80:15-16.18-19)
Jakarta, 30 November 2008
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/