Judul buku: "Psikologi Tarot"
Penulis: Leonardo Rimba dan Audifax 
Penerbit: Pinus Book Publisher 
ISBN: 979-99015-7-x 
Cetakan I Maret 2008 
Tebal: 261 hlm
Harga: about Rp 40 thousand,-

+ 

Mas Leo, begitu buku “Psikologi Tarot” terbit dulu itu, saya sempat kepikiran 
buat meresensinya. Tapi, ta' baca-baca, kok, susah. Jadi, ya, trus nggak jadi, 
ngerasa nggak sanggup bikin resensi yang bermutu! 
 
BTW, sekali baca buku itu, saya langsung dapat membedakan, mana tulisan 
Leonardo Rimba, mana punya Audifax. Ya, karena saya sudah biasa baca tulisan2 
Mas Leo yang cenderung lugas, jelas, dengan bahasa sederhana meski suka campur2 
Inggris (kadang provokatif, atau malah agitatif kalo di milis), sehingga 
memudahkan saya buat membedakannya dengan tulisan Mas Audifax, meskipun saya 
belum pernah baca buku2 beliau sebelumnya. 

Gaya penulisan Mas Audifax, rupanya, agak2 “berbau” post-modern ato, paling 
nggak, post-colonial, yang kadang menjadi agak “berat” (Tidak selalu berarti 
lebih berbobot. Lebih ribet, iya!) buat dipahami. 
Buat saya, menulis adalah “seni” menyampaikan gagasan (secanggih apa pun 
gagasan itu) dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga misi (untuk 
menyampaikan gagasan dimaksud) itu betul2 “sampai” kepada pembaca. 
Lha, siapakah pembaca buku “Psikologi Tarot”? 

Saya nggak tahu, apakah ketika berencana menerbitkan buku itu, sempat bikin 
segmentasi pasar. Sepertinya, pembaca buku “Psikologi Tarot” adalah orang yang 
memiliki ketertarikan terhadap tarot, atau orang yang memiliki potensi untuk 
tertarik kepada dunia pertarotan, ato psikologi, ato spiritual, ato mungkin 
juga orang yang punya ketertarikan terhadap dunia entertainment, life-style, 
ato pop-cultur, ato tentang semiotika dan sebangsanya, ato orang yang memang 
tertarik dengan dunia ramal-meramal, perklenikan, dan yang berbau2 mistis dan 
magis, ato lainnya. 

Kalo segmen pasarnya emang kayak gitu, nggak fix (artinya, segmen pasar yang 
mau dibidik “terserah”), menurut saya, yang paling aman adalah gaya penulisan 
yang sederhana, mudah dipahami oleh siapa saja (sekompliketet ato sefilosofis 
apa pun konsep, teori, dll-nya itu).
 
Majas (gaya bahasa, termasuk di dalamnya) tulisan Mas Leo dan Mas Audifax 
memang beda. Ya, nggak apa2, setiap orang memiliki majasnya sendiri2, dan majas 
masing2 tidak perlu disamakan ketika dua penulis yang beda bertemu dalam sebuah 
buku hasil kolaborasi (bersama). 

Yang mengherankan saya adalah, mengapa tim penyelaras bahasa (editor) “Pinus 
Publishing”, yang nota bene harus jeli secara teknis untuk menyelaraskan bahasa 
(EYD, konsistensi penulisan kata/istilah, …) begitu teledor dalam bekerja? 
Karena kesalahan tulis/cetak, baik cuma soal kelebihan/kekurangan huruf atau 
kesalahan EYD, juga soal inkonsistensi cara menuliskan kata/istilah, 
mendominasi buku “Psikologi Tarot” yang mustinya bisa lebih kualifait (saya 
menuliskan kata inggris seenak saya seperti ini karena saya, kan, tidak sedang 
melakukan kerja editing) itu jika hasil kerja tim penyelaras bahasa dari 
penerbitnya juga berkualitas! 
Misalnya, untuk menuliskan kata yang bahasa Inggrisnya “archetype”, Pinus 
sangat tidak konsisten. Kadang diindonesiakan menjadi “arketipe” (ini tentu 
versi Mas Audifax), kadang tetap dalam bahasa Inggris “archetype” (ini pasti 
punya Mas Leo, yang suka mengabaikan EYD), yang mustinya tim editor 
menyelaraskannya, dan konsisten saja dengan satu istilah, mau tetap dituliskan 
“archetype” dengan konsekuensi kata itu harus dicetak miring, ato konsisten 
pilih “arketipe”, sebagaimana kata “stereotype” juga biasa diindonesiakan 
menjadi “stereotipe”. 

Begitu pula untuk istilah/kata lainnya, seperti: “arkana” (mayor, minor), yang 
bener “arkana” ato “arkarna”? Sangat tidak konsisten! Kalo tim editor emang 
nggak ngerti istilah2 di tarot, mustinya cek-ricek, kroscek, bisa di kamus, 
literatur, ato googling, ato langsung konfirmasi sama penulisnya. Gitu! (nggak 
tampak marah, kan, saya? Ya, enggak, emang nggak marah, cuma heyyan deh!). 

Juga dalam menuliskan konsep Jawa “Manunggaling Kawula Gusti”, cara menuliskan 
kata “kawula” kadang memakai “a”, kadang “o”. Setahu saya, yang benar, 
“kawula”. Begitu juga soal EYD, kecerobohan tim editor dilakukan, baik dalam 
menuliskan kata maupun tanda baca. Cukup mengherankan jika sudah berprofesi 
sebagai editor bahasa, masih bingung membedakan antara tanda “petik” dengan 
tanda “petik tunggal”. Ini cuma salah satu contoh saja!   
 
Kecerobohan juga bukan cuma dari segi penyelarasan bahasa rupanya, karena saya 
juga menemukannya pada desain grafis, khususnya lay-out isi. Kesalahan sudah 
dilakukan sejak di “Daftar Isi” pada halaman 13. Tidak teliti soal spasi. Dan 
pada halaman2 selanjutnya, juga masih soal pengaturan spasi, soal font, dll.
 
Kesalahan ngedit sekali-kali mudah dimaafkan, tapi kalo berkali-kali dan 
terjadi setiap kali, ya harus dikoreksi, bukan?!
 
Bisa jadi, pembaca kebanyakan tidak ada masalah dengan itu semua. Fain2 aja. 
Cuma buat pembaca yang jeli, jelas semua itu dapat mengurangi kenyamanan 
kenikmatan membaca bukunya. Buat penulisnya, bisa menurunkan kualitas karyanya. 
Buat penerbitnya, jelas menurunkan kredibilitasnya. Penerbit apaan kerja timnya 
“ugal2an” kayak gitu? Gitu…. 
 
Cuma, dengar2 Mas Leo mengaku nggak punya bukunya. Trus, gimana? Kok bisa, kok 
bisa nggak punya bukunya! Aneh bin ajaib! Antik! Nggak dokumentatif! (kapan 
lagi ngerasa asyik ngomelin bos milis SI!). 
Eh, BTW lagi ding, saya lebih suka dizain kaver depan maupun belakang tanpa 
aksentuasi di keempat pojoknya itu (yang kayak ukiran2 apa itu). Kayaknya, 
konsep desain yang clin-klir-elegan akan lebih kena kalo tanpa itu (Ini, sih, 
cuma ngelindur aja. Kebiasaan, dulu suka mbawelin seorang teman dizainer grafis 
yang suka fales kalo ndizain). 

(KA)

+

KOMENTAR SAYA:

Terima kasih untuk komentar dari Mbak KA yg nggak pernah ketemu dengan saya 
secara fisik as well as belom pernah kirim2an foto sehingga tidak ada gambaran 
secara visual yg bisa dipake untuk melakukan perbuatan yg gimana gituh, hmmm 
hmmm hmmm... The resensi is the one and only sampai saat ini. So, mo suka kek, 
mo gak suka kek, that's the resensi yg semoga saja mendapat tanggapan yg 
semestinya dari pihak yg berkepentingan (ekspresi tidak bertanggung-jawab is 
ON...)

Saat ini saya memang tidak memegang satupun hard copy dari buku "Psikologi 
Tarot" itu. Dulu pernah ada, dikasih 2 (dua) eksemplar gratis dari penerbitnya. 
Dari dua buku itu, satu saya kasih ke sodara2 saya buat dibaca bergantian. 
Unfortunately, ketika buku itu sampe ke tangan bokap lenyaplah harapan untuk 
bisa memperoleh hak milik itu kembali. 

Buku yg satunya lagi saya simpen baik2 untuk seseorang yg pernah ada gimana 
gituh sama saya, pokoknya malu ngomonginnya deh... Saya bilang saya simpen buku 
itu baik2 khusus buat dia seorang kalo nanti ketemu saya (najis, romantis 
banget yah!)... Terus, tiba2 adik perempuan saya datang dari Australia dan 
bawain saya satu buku yg katanya ditulis sama tetangganya sendiri, dan harganya 
beberapa puluh $ Australia. 

Amit2, kata saya, buku begituan aja harganya mahal banget kata saya. Udah gitu 
saya nggak bakalan baca juga buku tentang advis2 bagaimana to enjoy our lives 
spiritually blah blah blah... We KNOW about that lebih oke daripada orang2 OZ 
itu. Tapi karena nggak enak ati, akhirnya buku "Psikologi Tarot" yg semata 
wayang itu akhirnya saya berikan buat adik saya. Dia bawa pulang buku itu ke 
Ostrali.

Waktu saya mao beli lagi bukunya, ternyata di TB Gramedia, PIM, udah nggak ada. 
Dimana-mana buku itu habis, laris manis kayak kacang goreng, pedahal belum 
pernah dilaunching. And that's the reason kenapa sampai saat ini saya nggak 
pegang hard copy lagi.

Alesan lainnya adalah saya orangnya pelit banget karena sampe sekarang BELOM 
dapet tante2 atawa om2 yg gimana gituh (buat saya jenis kelamin nomor terakhir, 
yg penting cinta kasih, ceile!); so, daripada beli buku karya sendiri yg saya 
udah tahu isinya mendingan saya masuk ke McD dan makan hamburger aja nyam nyam 
nyam...  

+ 

TANYA JAWAB (between Mbak KA and me):
 
T = O ya, saya juga pengen konfirmasi sedikit mengenai sebagian isi bukunya, 
tentu saja kalo yang ini langsung berhubungan dengan penulisnya. Ini bukan 
masukan, lebih sebagai pertanyaan. Saya akan langsung menunjukkan letak 
halamannya. 

Di buku Psikologi Tarot, pada hal. 98 (XXI – The World): “The World bisa juga 
disebut The Universe”. Sementara itu, pada hal. 250: XVII. The Universe/the 
Star. So, apakah “the universe” sama dengan the World sekaligus juga sama 
dengan the Star, ato gimana?

J = Nggak sama. Bagian itu harus di-revisi untuk cetakan berikutnya karena so 
jelas bikin bingung orang yg membacanya. Arkana mayor XXI namanya "the World", 
dan arkana mayor XVII namanya "the Star".
Yg namanya "the Universe" itu KONSEP doang yg merujuk kepada Alam Semesta, 
Jagad Gede, Bhuwana Ageng, Makrokosmos, blah blah blah... Memang bisa juga 
disimbolkan oleh XXI. the World atau XVII. the Star, tapi tergantung dari 
KONTEKS pertanyaannya seperti apa.  

T = Pada hal. 124 (XVIII – The  Moon): “The Moon adalah sumber energi berupa 
naluri2 yang ada di alam bawah sadar. Naluri adalah kemampuan untuk melakukan 
sesuatu tanpa tahu apa sebabnya.” Apakah “naluri” di sini memang “naluri” 
ataukah maksudnya “intuisi”, seperti yang Mas Leo jelaskan dengan gamblang 
(beda naluri dan intuisi) di salah satu e-book Mas Leo? 
 
J = Arkana mayor XVIII. the Moon merupakan SIMBOL dari naluri thok dan bukan 
intuisi. Bisa juga disebut sebagai "intuisi", in this case intuisi yg 
digerakkan oleh hormon2 yg lagi meluap-luap in such a way seperti kalo lagi 
bulan purnama itu yg rasanya membuat kita kepengen melakukan something yg 
gimana gituh dan the appropriate question is, sama siapa ?

T = Ya udah, gitu dulu. Ntar kalo nemu yang lucu2 lagi, ta' ngomel2 lagi, ya, 
Mas…. 
 
J = Sure, no problem. Thanks for the review, I enjoy that !
  
Leo
Milis Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke