“Ia lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya”
(1Yoh 1:1-4; Yoh 20:2-8)
“Ia berlari-lari mendapatkan Simon
Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka:
"Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia
diletakkan." Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur.
Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat
dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam,
dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam.
Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia
melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di
kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di
tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang
lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya” (Yoh 20:2-8),
demikian kutipan Warta Gembira hari
ini.
Berrefleksi
atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Yohanes, rasul dan
pengarang Injil, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:
· “Demikianlah
tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling
besar di antaranya ialah kasih”(1Kor 13:13),
demikian kata Paulus kepada umat di Korintus. Kasih memang yang terbesar, maka
siapapun yang hidup dalam dan oleh kasih akan menjadi ‘besar’ serta dapat
mengalahkan atau mengatasi aneka macam ketakutan, kecemasan, frustrasi dst..,
yang terjadi karena lingkungan hidup yang tidak baik. Hari-hari setelah Yesus
wafat disalib bagi para murid merupakan saat-saat yang menegangkan dan
mencemaskan, sehingga para murid ‘mengundurkan diri bersama untuk berdoa’.
Dalam warta gembira hari ini kita baca bahwa mereka memperoleh berita bahwa
‘jenasah/tubuh Yesus tidak ada di makam’, maka Petrus dan Yohanes tergerak
untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi; mereka berlari ke makam dalam
suasana bingung dan cemas. Yohanes dikenal sebagai murid yang terkasih dari
Yesus, dan sebgai yang terkasih ia “lebih
dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya”. Hidup dan
bertindak dalam dan oleh kasih akan lebih capat bertindak, melihat dan percaya.
Kita semua adalah yang terkasih atau buah kasih, maka jati diri kita yang
sejati adalah ‘kasih’ dan dengan demikian bertemu dengan siapapun berarti
‘kasih’ bertemu dengan ‘kasih’ dengan sendirinya akan saling mengasihi. Dalam
dan oleh kasih kita akan dapat melihat apa yang tak dapat dilihat oleh indera
mata jasmani, melihat karya Allah, Yang Ilahi dalam ciptaan-ciptaanNya yang
lemah dan rapuh. Kasih ”menutupi segala
sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung
segala sesuatu” (1Kor 13:7), demikian kata Paulus. “Sabar menanggung segala
sesuatu”, entah yang baik atau buruk, yang
enak atau tidak enak, dst.. itulah kiranya yang sepantasnya kita hayati dan
sebarluaskan dalam kehidupan bersama masa kini.
· “Hidup itu
telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan
memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa
dan yang telah dinyatakan kepada kami.Apa yang telah kami lihat dan yang telah
kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh
persekutuan
dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan
Anak-Nya, Yesus Kristus” (1Yoh
1:2-3). Apa yang dilihat dan didengarkan oleh Yohanes telah diberitakan atau
ditulis melalui melalui Injilnya, yang kiranya sampai kini sangat berguna bagi
banyak orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Membaca, merenungkan dau
menghayati apa yang ditulis oleh Yohanes melalui Injilnya kiranya kita akan
tergerak dan terdorong untuk ‘bersekutu dengan Bapa di sorga dan Yesus
Kristus’, dengan kata lain hidup baik dan berbudi pekerti luhur. Marilah
meneladan Yohanes dengan melihat dan mendengarkan apa-apa yang baik di sekitar
kita, dalam diri kita sendiri, dalam diri saudara-saudari kita maupun dalam
lingkungan hidup kita, dan kemudian kita sebarluaskan atau wartakan apa yang
baik tersebut kepada sesama kita. Sebagai orang beriman, khususnya yang beriman
kepada Yesus, Penyelamat Dunia, kita semua dipanggil untuk menjadi
pewarta-pewarta Kabar Baik atau Kabar Gembira, apa-apa yang membuat baik atau
gembira. Jika kita cermat, teliti dan tekun melihat dan mendengarkan, kiranya
apa yang baik lebih banyak dari apa yang buruk dalam diri sesama kita,
lingkungan hidup kita maupun diri kita sendiri. Dengan saling mewartakan atau
menyebarluaskan apa yang baik, maka akan terwujudlah persaudaraan atau
persahabatan sejati di antara kita sebagai perwujudan persekutuan kita dengan
Allah. Bersekutu dengan Allah identik dengan bersahabat dengan sesama manusia
dan ciptaan-ciptaan lainnya di bumi ini.
“TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi
bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada
sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. Gunung-gunung
luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi.Langit
memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya” (Mzm
97:1-2.5-6)
Jakarta, 27 Desember 2008
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/