Setiap agama/kepercayaan memiliki cara masing-masing namun banyak hal yg
sebenarnya hanya merupakan variant dari metode yang sama utk mencapai
persatuan dg Tuhan, melalui ritual-ritualnya. Banyak juga istilah yg
kelihatannya berbeda tetapi sebenarnya serupa hanya karena dilihat dari
sudut pandang berbeda.

 

Namun inti dari berbagai hal yg nampaknya berbeda itu adalah "mengelupas
selubung fisik yang menutupi cahaya yg merupakan bagian dari Cahaya
Kesadaran Tertinggi". Untuk mengelupas selubung itu maka dipakai istilah
"pembersihan" atau "melepaskan kemelekatan".

   

Air banyak digunakan dalam berbagai agama/kepercayaan sebagai symbol dan
sarana "pembersihan". Cipratan air suci pada hindu, budha, katolik, dll.
Pembasuhan atau berendam muncul dalam bentuk baptis air, wudlu, kungkum,
dll.

 

Makan bersama spt dalam kenduri, komuni, perjamuan kudus.

 

Korban persembahan, spt idul adha, larung, gunungan di sekatenan, ekaristi,
kenduri.

 

Wangi-wangian seperti penggunaan bunga, menyan, dupa, minyak wangi utk
sholat berfungsi utk mengundang roh-roh level tinggi atau malaekat atau roh
leluhur datang membantu.

 

Pengetahuan seperti dilambangkan dengan bunga lotus atau gnosisme
(gnosis=pengetahuan). 

 

Hening yg kadang juga melibatkan gerakan tertentu muncul dalam berbagai
bentuk seperti semadi, sadhana, nyepi, meditasi, yoga, sholat, retret,
rekoleksi.

 

Dll. masih bergitu banyak ritual yg melibatkan berbagai aktivitas saling
terkait dimana dg menglakoni bentuk2 dan metode-metode itu, kesadaran roh
makin terbuka meningkat, makin peka dan sehingga bisa "mendengarkan" dan
berdialog dg "kesadaran yg lebih tinggi" yg kemudian disebut MK3, indera
ke-6, Roh Kudus, Guru Sejati, Malaekat Pamomong, the Highself yg
memandangnya seolah sebagai personalitas yg terpisah atau melihatnya dari
sudut pandang keterhubungan itu dg istilah "manungaling kawulo kalawan
Gusti" atau istilah lain bangkitnya kundalini ketika cakra2 meningkat ke
tingkat puncak yg berujung pada terbukanya cakra mahkota. 

 

Namun demikian, tingkat2 kemajuan yg sedemikian itu bukan berarti telah
mencapai garis finish. Kemampuan tinggi semacam itu hanyalah sarana itu
mencapai kesatuan yg lebih sempurna dan jika tidak diwaspadai justru bisa
merupakan pesona lain yg lebih dashyat "daya rusaknya" utk mencapai
persatuan tertinggi atau dalan Falun biasa disebut, efek daya perusaknya
lebih berat terhadap upaya "pelurusan Fa" (Fa  diwujudkan dalam
sifat/karakter sejati, baik, sabar) atau istilah lain love & mercy - kasih &
pengampunan). Sebab dalam hubungannya sebagai aku setiap roh tetaplah memiki
free will utk bersikap dan bertindak terhadap semua informasi yg didapatnya
dari Guru Sejati, Roh Kudus, MK3, indera ke6 dll beda istilah itu. Daya
lekat kemelekatannya juga makin dashyat dan lebih amat sulit utk dibersihkan
yg mana dalam istilah kejawen sering disebut "lakunya atau raganya tdk
diterima oleh bumi ketika ajal menjemput" yg muncul dlm bentuk spt jenglot
dll lain2 perwujudan.  

 

Fasilitas lebih baik atau lebih tinggi pada prinsipnya adalah utk menerima
beban atau kuk yg lebih berat shg tetap terasa ringan. Kisah dalam sharing
pengalaman spiritual Mas Manting menggambarkan kondisi ini. Mas Manting yg
bisa berdialog dg Guru Sejatinya, ternyata harus menghadapi begitu banyak
persoalan/cobaan yg malah makin berat. Maka memiliki fasilitas semacam itu
bukan berarti leha-leha dan hidup enak, tetapi justru memiliki tanggung
jawab yg lebih besar dan berat. Kalo jadi pejabat, harus bisa memanage
pekerjaannya demi kesejahteraan rakyat, atau mjd abdi rakyat, bukan
memperbudak rakyat. Kalau jadi pengusaha harus mengelola bisnis dg baik dan
fair dg anak buah dan karyawan termasuk sistem penggajian proporsional
berdasarkan kompetensi dan yg memungkinkan karyawan terbawah tetap bisa
hidup layak. Dan seperti dikatakan di Injil, tanda2 mujizat datang gratis
dari Allah maka  berikan scr gratis pula jangan diperdagangkan. Tdk jualan
ayat atau mantra. Selalu ada cara lain utk mencapatkan nafkah kehidupan.
Sebab ketika menimbulkan "kenikmatan" akan membentuk kemelekatan lain. 

 

Dan sesuai topic, "eksistensi Allah yg tampak" begitulah mereka yg makin
mendekati ke persatuan dg Tuhan harus melaksanakan tugas-tugas ilahi yg
bukan enteng dan enak2 nikmat2 spt yg digambarkan dalam "surga yg Indah"
(bisa kelonan dg bidari2 cantik) . Maka Yesus yg sudah sedemikian tinggi itu
menampakkan eksistensi Allah dapat kehadirannya di bumi, dan Ia melaksanakan
tugas yg berat, memberikan panduan bagi manusia lainnya utk kembali dan
bersatu dg "Bapa". Kata Yesus ketika dalam perjalanan ke puncak Golgota dg
palang salib di pundakNya kpd wanita2 yg menangisiNya, "hai wanita2, jangan
tangisi Aku, melainkan tangisilah diriimu dan anak-anakmu". Beban yg Ia
pikul sangat berat, tapi Ia tdk merasakannya lagi sebagai beban yg terlalu
berat yg tdk mungkin sanggup dipikulNya.     

 

Salam selaras,

     

Sony H Waluyo

 

* You are what you think about. Beware of your mind. 

Kirim email ke