"Kalau Engkau mau Engkau dapat mentahirkan aku."

(Ibr 3:7-14; Mrk 1:40-45)

 

“Seorang yang sakit kusta datang kepada
Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya:
"Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah
hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu
dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu
juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia
menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: "Ingatlah, janganlah
engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi
pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk
pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi 
mereka."
Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya
kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam 
kota. Ia tinggal
di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya
dari segala penjuru” (Mrk 1:40-45), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

·   Sakit dan sembuh dari sakit pertama-tama dan terutama,
selain karena obat atau bantuan medis, hemar saya adalah sikap dari orang yang
bersangkutan yang sedang sakit dan menghendaki untuk sembuh, entah sakit hati,
sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh/phisik. Jika kita jujur kiranya
kita semua saat ini dalam keadaan sakit dan mendambakan penyembuhan dari
penyakit agar hidup segar bugar, sehat jasmani dan rohani. Maka bercermin dari
kisah Warta Gembira di atas marilah kita meneladan ‘seorang yan sakit kusta’
yang mohon penyembuhan dari Yesus atau Yesus yang dengan rela hati menyembuhkan
mereka yang mohon untuk disembuhkan. (1) Pertama-tama marilah dengan rendah
hati meneladan orang yang sakit kusta dengan menyadari dan menghayati sakit
yang sedang kita derita dan siap sedia untuk disembuhkan orang siapapun yang
kita percaya dapat menyembuhkan. Yang memprihatinkan kiranya adalah sakit hati
atau sakit jiwa, yang sering kurang disadari oleh kebanyakan orang, karena
sakitnya baru 5%, 10% atau 25% dan belum 100%. Maka untuk membantu melihat dan
menyadari sakit kita, marilah kita mohon bantuan dari orang lain yang cukup
kenal dengan cara hidup dan cara bertindak kita. Ketika kita berani menyadari
dan menyakiti sakit kita dan dengan rendah hati mohon penyembuhan maka pada
saat itu juga penyembuhan mulai terjadi, dan mungkin tanpa diobati oleh orang
lain dapat sembuh dengan sendirinya. (2) Dalam kehidupan bersama sering ada
orang lain yang datang mohon maaf atau pengampunan, maka marilah meneladan
Yesus, dengan jiwa besar dan hati rela berkorban memberi pengampunan dan
melupakan segala kesalahan yang telah dilakukan. Dan biarlah kasih pengampunan
yang kita berikan disebarluaskn kemana-mana sesuai dengan kehendak dan
kemauannya. 

·   “Waspadalah,
hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya
jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.
Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat
dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi
tegar hatinya karena tipu daya dosa “(Ibr
3:12-13). Pesan ini kiranya baik menjadi pedoman atau acuan cara hidup dan cara
bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Marilah kita dengan rendah hati saling
menasihati dan mengingatkan ketika sedang menghadapi ‘tipu daya dosa’. Jika ada
saudara atau sesama kita sedang menghadapi tipu daya dosa dan kita tidak
menasihati dan membantunya, berarti kita salah; sebaliknya ketika kita sedang
dalam keadaan ‘tipu daya dosa’ serta tidak melihatnya dan ditegor atau
diingatkan orang lain hendaknya dengan jiwa besar dan rendah hati menerimanya
serta berterima kasih atas perhatian dan kasihnya. Sebaiknya jangan menunda
untuk menasihati atau mengingatkan, melainkan secara langsung saja menasihati
dan mengingatkan saudara atau sesama kita yang sedang menghadapi ‘tipu daya
dosa’. Dengan kata lain kita semua dipanggil untuk meluruskan atau memperbaiki
aneka bentuk struktur hidup dan kerja bersama yang dapat merangsang orang untuk
berbuat dosa. Sebagai contoh ada orang yang berpakaian tidak pantas alias
merangsang orang lain untuk berpikir jahat dan berbuat dosa, hendaknya saat itu
segera  kita tegor dan ingatkan agar
menghadirkan diri tidak merangsang orang lain berpikir jahat dan berbuat dosa.
Menempatkan uang atau harta benda berharga seenaknya, di sembarang tempat juga
merangsang orang untuk berpikir jahat dan berbuat dosa. Marilah kita saling
menghadirkan diri sedemikian rupa sehingga tidak merangsang orang lain untuk
berpikir jahat dan berbuat dosa. 

 

“Masuklah, marilah kita sujud menyembah,
berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan
kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari
ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di
Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu
mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku” 

(Mzm 95:6-9)

 

Jakarta, 15 Januari 2009




      
___________________________________________________________________________
Coba emoticon dan skin keren baru, dan area teman yang luas.
Coba Y! Messenger 9 Indonesia sekarang.
http://id.messenger.yahoo.com

Kirim email ke