"Siapa ibuKu dan siapa saudaraKu?"
(Ibr 10:1-10; Mrk 3:31-35)
“Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara
Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia.
Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya:
"Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui
Engkau." Jawab Yesus kepada mereka: "Siapa ibu-Ku dan siapa
saudara-saudara-Ku?" Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di
sekeliling-Nya itu dan berkata: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa
melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku
perempuan, dialah ibu-Ku."(Mrk
3:31-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas
bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:
· Nepotisme dan kolusi sering atau banyak terjadi dalam
berbagai usaha atau kegiatan, namun hemat saya asal tidak korupsi tidak apa-apa
dan ada kemungkinan ikatan persaudaraan yang telah baik tersebut diperteguh
atau diperkuat sehingga usaha atau kegiataan mereka semakin efisien, efektif
dan afektif. Yang pokok, terutama dan pertama-tama adalah ‘melakukan kehendak
Allah’, sebagaimana disabdakan oleh Yesus. Kehendak
Allah dalam usaha atau kegiatan atau bersama antara lain dapat kita temukan
dalam aneka tatanan atau aturan yang baik dan adil, yang terkait dalam usaha,
kegiatan atau hidup bersama tersebut serta dalam diri sesama atau
saudara-saudari kita yang berkehendak baik. Maka marilah kita lihat, cermati,
pahami dan hayati dengan baik aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan
usaha, kegiatan dan hidup kita, jauhkan dan berantas aneka cara hidup dan cara
bertindak yang hanya mengikuti selera pribadi, apalagi korupsi. Dengan kata
lain marilah kita tegakkan dan hayati disiplin, yaitu “kesadaran akan sikap dan
perilaku yang sudah tertanam dalam diri,
sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara
berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah
ditentukan” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit:
Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal
10). Selain berdisiplin juga penting mendengarkan dan mengakui kehendak baik
dari saudara-saudari kita; kehendak baik merupakan wujud kehendak Allah dalam
dan melalui orang yang berbudi pekerti luhur. Rasanya semua orang, kita semua,
memiliki kehendak baik, maka marilah kita komunikasikan atau bagikan kepada
saudara-saudari kita, dan kemudian kita sinerjikan untuk membangun dan
memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati dalam usaha, kegiatan maupun
hidup
bersama.
·
"Sungguh, Aku datang untuk melakukan
kehendak-Mu.” (Ibr 10:9). Kutipan ini
baik kita renungkan atau refleksikan dan mungkin baik juga ditulis lebih besar
serta diletakkan di atas meja kerja, pintu masuk rumah/kantor, di kamar maupun
toilet/kamar mandi, dst. Kita meneladan Yesus yang datang ke dunia untuk
menyelamatkan dunia seisinya, dengan berusaha sekuat tenaga, bersama-sama serta
bantuan rahmat Tuhan ke tempat manapun atau dimanapun kita datang untuk
menyelamatkan apa yang tidak selamat, membereskan apa yang tidak beres,
membetulkan apa yang salah, dst.. Pertama-tama dan terutama marilah kita
perhatikan rumah tangga/keluarga kita masing-masing maupun tempat kerja/belajar
dimana kita sibuk di dalamnya. Setiap kali memasuki rumah atau kamar di rumah
kita hendaknya dengan semangat “Sungguh
aku datang untuk melakukan kehendakMu”, demikian juga ketika memasuki
tempat kerja atau belajar. Kehendak Allah yang pertama dan utama bagi kita
semua adalah agar kita saling mengasihi satu sama lain. Untuk melaksanakan
kehendak Allah ini kiranya tidak sulit asal masing-masing dari kita menyadari
dan menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’, yang diciptakan oleh Allah dalam
kasih dan hanya dapat tumbuh berkembang dalam dan oleh kasih. Karena
masing-masing dari kita adalah ‘yang terkasih’, maka bertemu atau berjumpa
dengan siapapun berarti yang terkasih bertemu dengan yang terkasih dan dengan
demikian secara otomatis saling mengasihi. “Saudara-saudaraku
yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari
Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal
Allah.anes Barangsiapa tidak mengasihi,
ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1Yoh 4:7-8), demikian pesan
Yohanes dalam suratnya.
Tidak saling mengasihi berarti tidak mengenal atau mengimani Allah alias tidak
beriman atau kafir.
“Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk
kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang
kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu,
menetapkan langkahku, Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji
Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut” (Mzm 40:2-4ab)
Jakarta, 27 Januari 2009
Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
http://downloads.yahoo.com/id/firefox/