“Orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah”

(Ibr 10:11-18; Mrk 4:1-20)

 

“Jawab-Nya: "Kepadamu telah
diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu
disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak
menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan
berbalik dan mendapat ampun." Lalu Ia berkata
kepada mereka: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian
bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu
menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu
ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan
mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang
ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman
itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan
tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan
karena firman itu, mereka segera murtad. Dan yang lain ialah yang ditaburkan di
tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini
dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah
menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Dan akhirnya yang ditaburkan di
tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu
berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan
ada yang seratus kali lipat."
(Mrk 4:11-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 



Berrefleksi
atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Thomas Aquino, imam dan pujangga
Gereja,  hari ini saya sampaikan
catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Thomas Aquino adalah orang yang genius/cerdas dan
pendoa serta tekun. Apa yang ia ajarkan dan tulis dalam buku-buku yang cukup
tebal merupakan warisan yang sangat berharga bagi Gereja, berpengaruh dalam
kehidupan menggereja sampai kini. Integrasi antara akal budi dan iman itulah
yang dihayati oleh Thomas Aquino, dan kiranya kepadanya layak dikenakan sebagai
“tanah yang baik, ialah orang yang
mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali
lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat”. Kita
semua juga dipanggil untuk mengintegrasikan akal budi dan iman kita di dalam
hidup sehari-hari, dan khususnya panggilan ini bagi para intelektual atau pakar
berbagai ilmu pengetahuan. “Salah satu
visi agung yang ada pada Thomas ialah caranya memahami peranan Roh Kudus dalam
proses, yang mendukung pengertian, supaya makin matang ke dalam kebijaksanaan” 
(Paus
Yohanes PaulusII: Ensiklik ‘Fides et Ratio/Iman dan Akalbudi’, 14 September
1998, no 44). St.Ignatius Loyola, pendiri Serikat Yesus, belajar banyak sekali
dari apa yang ditulis oleh Thomas Aquino, sehingga dalam Konstitusi, yang ia
tulis sendiri bagi semua anggota Serikat Yesus , dikatakan bahwa semua anggota
Yesuit hendaknya mempelajari Teologi Thomas Aquino. Hemat saya apa yang
dihayati oleh Thomas Aquino ini dikembangkan dan diperdalam dengan ajaran
Ignatius Loyola tentang ‘contemplativus
in actione’ (menemukan Tuhan dalam segala sesuatu  atau segala sesuatu dalam 
Tuhan). Marilah
kita menjadi pendengar-pendengar atau tanah yang baik, dimana apapun yang kita
dengarkan atau ditaburkan ke dalam diri kita akan menghasilkan buah berlipat
ganda, buah yang menyelamatkan dan membahagiakan diri kita sendiri maupun
sesama manusia.

·    "Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati
mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, dan Aku tidak lagi mengingat
dosa-dosa dan kesalahan mereka” (Ibr
10:16-17). Dari kutipan di atas ini kiranya yang layak kita renungkan atau
refleksikan ialah bahwa hukum Tuhan tertulis di dalam akal budi kita semua.
Hukum Tuhan yang utama dan pertama adalah kasih, maka hendaknya akal budi kita
dijiwai oleh kasih. Hemat saya apa yang kita pikirkan akan menentukan apa yang
akan kita kerjakan dan menentukan masa depan kita masing-masing, maka hendaknya
berpikir dijiwai oleh kasih atau dalam kasih. Dengan kata lain dalam otak kita
yang ada ialah pikiran bagaimana mengasihi diri sendiri dan sesama manusia
dimanapun dan kapanpun. Percaya dan imanilah jika kasih menjiwai pikiran anda
maka anda akan senantiasa segar bugar baik pikiran/akal budi, hati, jiwa maupun
tubuh, dan dengan demikian terbuka pada Roh Kudus, sehingga apa yang kita
lakukan atau hayati sesuai dengan kehendak Roh Kudus. Maka sekali lagi saya
kutipkan di sini, sebagai tanda bahwa pikiran atau akal budi kita dijiwai kasih
atau Roh Kudus maka dari diri kita akan lahir keutamaan-keutamaan seperti 
“kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri”
(Gal 5:22-23). Keutamaan-keutamaan itu juga merupakan buah
integrasi antara akal budi dan iman, dan dengan menghayati keutamaan-keutamaan
tersebut kepada kita boleh dikenakan sebagai “ tanah yang baik, ialah orang 
yang mendengar dan menyambut firman itu
lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat,
dan ada yang seratus kali lipat."   . 

 

“Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku:
"Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan
kakimu." Tongkat kekuatanmu akan diulurkan TUHAN dari Sion: memerintahlah
di antara musuhmu! Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju
dengan berhiaskan kekudusan; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu
seperti embun” (Mzm 110:1-3).

Jakarta, 28 Januari 2009




      Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke