Secara implicit Yesus dalam bacaan ini mengatakan bahwa tidak ada iblis yg
banyak dibicarakan dan ditakuti serta untuk menakut-nakuti itu.

Jika anggota kerajaan iblis saling menyerang dan berkhianat satu sama lain
mestinya kerajaannya sudah hancur lebur dari dulu.

 

Sebuah kisah di sakristi (ruang penyiapan misa) para koster (pelayan yg
mempersiapkan alat-alat misa/kebaktian katholik) mungkin sudah hal yg tidak
aneh bila suka nakal juga, diam-diam nyuri-nyuri seteguk 2 teguk anggur misa
yang sangat enak. Jika sakristi di gereja adalah tempat yg steril dari
iblis, bagaimana mungkin ada iblis yg berani masuk ke ruang suci itu dan
membisikan perbuatan dosa ngembat anggur utk misa?

 

Iblis adalah sifat-sifat negative manusia itu sendiri dan bukan sosok makluk
jahat yg suka merayu-rayau manusia utk berbuat jahat. Iblis bukan sosok yg
perlu dituding sebagai pihak yg membuat manusia berdosa. Semua kejahatan
manusia merupakan hasil pikiran dan keputusannya sendiri dan oleh akrena itu
manusia harus mempertanggungjawabkannya sendiri-sendiri. 

 

Dalam bacaan ini juga dikatakan bahwa sesungguhnya semua dosa manusia akan
diampuni. Itu artinya Tuhan tdk pernah menciptakan neraka bagi manusia.
Dalam kisah anak yang hilang dikatakan Bapa (Tuhan) senantiasa
menunggu-nunggu anak-anakNya yg hilang pulang kembali ke rumah. Dan ketika
sang anak hilang pulang, Bapa akan menggelar pesta atas kepulangan anak-anak
manusia itu. Ia tidak menunggu untuk memarahi, menjewer dan menghukum si
anak hilang. 

 

Namun dosa yg tak terampunkan adalah menghujat Roh Kudus, yang dalam kasanah
spiritual biasa disebut sebagai Guru Sejati. Roh Kusus atau Guru Sejati
itulah pembimbing yang akan mengarahkan manusia pulang kembali ke rumah
Bapa. Maka menolakNya sama saja menolak dibimbing kembali ke rumah Bapa.
Dalam makna spiritulitas, musuh kemanusiaan bukanlah ajaran-ajaran lain yang
tidak dikenal atau orang-orang lain atau kelompok-kelompok manusia lain,
melainkan musuh perjalanan spiritual manusia adalah kulit dan dagingnya
sendiri. Dalam perjalanan spiritualnya manusia harsu berani berhadapan
dengan dirinya sendiri, melawan kemelekatan-kemelekatan badaniahnya yg
dirasa nikmat melalui indera-indera fisiknya. Manusia lebih suka melacurkan
diri dengan nikmat2 fisik dan enggan melepaskannya. Roh Kudus/Guru Sejati
senantiasa dan terus-menerus membisikkan kata-kata pulang namum karena
pesona inderawi yg elok, sulit utk mau mendengarkan bisikan2Nya. 

 

Pesona dunia dalam spiritualitas jawa dinyatakan dalam pesan "ojo adigang
adigung adiguno" (tolaklah pesona ngumbar nafsu perut, nafsu
kehormatan/kemasyuran, nafsu harta dan kekuasaan), yang mana dalam Injil hal
yg sama diungkapkan dalam bentuk kisah Yesus dicobai Iblis setelah berpuasa
40 hari. Yesus bukan berhadapan dg sosok iblis melainkan dirinya sendiri.
Godaan pertama adalah mengubah batu menjadi roti (nafsu perut), godaan kedua
menjatuhkan diri dari bubungan bait allah demi kemasyuran dan hormat
dikagumi, serta godaan ketiga diperlihatkan kota dan kerajaan dari atas
bukit yang berarti harta dan kekuasaan.      

 

Neraka hanyalah suasana roh manusia yg abadi itu yang terjebak dalam pesona2
duniawi, sehingga dalam perjalanan spiritualnya terus-menerus mengalami dan
menjalani penderitaan-penderitaan akibat dari perbuatan-perbuatannya yang
secara terus-menerus harus dipertanggungjawbakannya dalam rangkaian hukum
alam sebab akibat.   

 

Maka hanya kasih dan pengampunan yang bisa membebaskan dan memutuskan
rangkaian penderitaan dalam pola sebab-akibat. Dinyatakan dalam doa Bapa
Kami "Ampunilah kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami."
Dan dipertegas di kayu salib "Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu
apa yang mereka perbuat".

 

Salam damai selaras, 

 

Sony H Waluyo

 

* You are what you think about. Beware of your mind. 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of Romo maryo
Sent: Sunday, January 25, 2009 1:51 PM
To: [email protected]; [email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected]; Mahardani ketut;
maillist; malaikat kecil
Cc: Mama Gaby; mantull7; marcus_klasik; Margareth Magdalena; Margaretha
Emeyauta; margaretha soetrisno; Maria Ida; Maria Julia; Maria Margaretta;
maria mustika; Maria Siska; maria sophina
Subject: [Mayapada Prana] 26 Jan

 


"Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?"

(Ibr 9:15.24-28; Mrk 3:22-30)

 

"Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: "Ia kerasukan
Beelzebul," dan: "Dengan penghulu setan Ia mengusir setan." Yesus memanggil
mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: "Bagaimana Iblis dapat
mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak
dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu
tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya
sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan
sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah
seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya
dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Aku
berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan
diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang
menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan
bersalah karena berbuat dosa kekal." Ia berkata demikian karena mereka
katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat" (Mrk 3:22-30), demikian kutipan Warta
Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Timoteus dan
St.Titus, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

*   Menghayati iman sungguh-sungguh atau seutuhnya atau menjadi murid-murid
Yesus Kristus, Kristen atau Katolik, sering memperoleh ancaman, ejekan atau
tekanan dari orang lain yang tidak senang atau merasa tersaing, sebagaimana
Yesus mengusir setan dituduh.bersama dan bersatu dengan setan. Pengalaman
yang demikian juga pernah atau sering dialami oleh Paulus maupun Timoteus
dan Titus, sahabat-sahabatnya; bahkan Timoteus harus dibunuh karena setia
pada iman dan tidak bersedia berbakti kepada/menyembah berhala. Maka ketika
anda mendapat ejekan ancaman atau tekanan karena setia pada iman, hendaknya
tetap tenang dan tegar, serta percaya atau imanilah bahwa iman anda akan
mengalahkan aneka ejekan, ancaman atau tekanan yang bersumber dari setan
tersebut. Sekiranya ancaman menjadi kenyataan dalam arti anda terpaksa
dibunuh, percayalah akan pepatah "mati satu tumbuh seribu"; kesetiaan dan
ketahanan iman seseorang akan menjadi pupuk yang menyuburkan bagi mereka
yang sedang mengalami goyah imannya atau dangkal imannya. Mereka yang
mengejek, mengancam atau menekan orang beriman hemat saya sama dengan
'menhujat Roh Kudus', dan dengan demikian yang bersangkutan tak akan
terampuni. Maka kepada mereka yang sering mengejek, mengancam dan menekan
orang beriman, apaagi karena merasa tersaing, kami ingatkan untuk bertobat.
Segala bentuk irihati atas keberhasilan atau kesuksesan orang lain bersumber
dari setan atau roh jahat dan dengan demikian akan mencelakakan hidup orang
yang bersangkutan. 

*   "Sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan
sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja
mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia
akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk
menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia" (Ibr
9:27-28). Wafat di kayu salib, "mengorbankan diriNya untuk menanggung dosa
banyak orang", itulah yang dihayati Yesus, Imam Agung. Sebagai orang yang
beriman kepadaNya kita dipanggil untuk meneladan Dia dengan menghayati
imamat umum kaum beriman. Kita dipanggil untuk 'mengorbankan diri' demi
kebahagiaan atau keselamatan banyak orang. Rasanya panggilan ini
pertama-tama dan terutama harus dihayati oleh mereka yang merasa menjadi
pemimpin atau atasan (Direktur, Ketua, Manajer, pejabat tinggi, orangtua
dst..) atau mereka yang menentukan dan berpengaruh dalam hidup bersama. Para
petinggi atau pejabat kiranya telah bersumpah untuk mengabdi atau melayani
rakyat, demikian juga para orangtua ketika mengawali hidup berkeluarga
berjanji untuk mendidik anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada
mereka sesuai dengan kehendakNya, maka kami berharap untuk setia dan taat
menghayati sumpah atau janji tersebut dalam hidup sehari-hari, dalam
kesibukan pelayanan dan pekerjaan. Tantangan dan hambatan untuk setia dan
taat pada sumpah atau janji pasti ada, dan datang bertubi-tubi; tantangan
dan hambatan dapat datang dari mereka yang tidak senang pada cara hidup dan
cara bertindak yang melayani atau merasa tersaing pengaruhnya. Mereka yang
tidak senang ketika melihat anda 'mengorbankan diri bagi kebahagiaan atau
keselamatan banyak orang' dapat membuat provokasi atau issue-issue yang
menjelek-jelekkan. 

 

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan
perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh
tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.TUHAN telah memperkenalkan
keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata
bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum
Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah
kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah,
bersorak-sorailah dan bermazmurlah!" (Mzm 98:1-4)

 

Jakarta, 26 Januari 2009

  

 

  _____  

 

Kirim email ke