Badri

Setitik air menetes ke kepalanya, dan sejak saat itu Badri seakan-akan 
dilahirkan kembali. Ia jadi seseorang yang baru. 
Kisahnya saya baca dalam Kompas 19 Januari yang lalu. Kisah itu membuat saya 
percaya bahwa ja­ngan-jangan ada mukjizat, kata lain dari sesuatu yang 
menakjubkan. Mukjizat dalam versi ini tak datang ke dunia secara spektakuler. 
Ia menyusup dalam berkas-berkas kecil. 
Badri tinggal di sebuah kampung yang merupakan bagian dari Desa Tugu Utara, di 
Kecamatan Cisarua, Bogor. Bertahun-tahun lamanya, lelaki yang kini berumur 60 
tahun itu jadi tukang babat hutan. Bersama beberapa temannya, ia keluar-masuk 
kawasan Puncak yang waktu itu rimbun dan sejuk. Dengan gergaji dan parang 
mereka tebangi pohon-pohon untuk dipotong-potong dan dijual sebagai kayu bakar. 
Empat tahun lamanya, sejak tahun 1975, sejak ia berumur 36 tahun, Badri 
mendapatkan nafkahnya dengan merusak hutan. 
Tapi sesuatu terjadi di sebuah hari di bulan Oktober tahun 1979. 
Siang itu ia tak pergi bersembahyang Jumat. Sejak pagi ia terus saja menebangi 
pohon. Di tengah hari, ketika siang jadi terik, ia beristirahat sejurus. Ia 
duduk. Mendadak, katanya, seperti dikutip Kompas, setetes air jatuh ke 
kepalanya. 
”Hanya setetes,” katanya, ”tetapi membuat badan saya segar. Keletihan saya 
menebang pohon dan memikul kayu langsung hilang.” 
Ia pun melihat ke sekeliling, mencari dari mana tetes air itu datang. Ternyata, 
butir bening yang sejuk itu jatuh dari pokok yang baru ditebangnya. ”Saya 
terkejut,” kata Badri. ”Saya duduk terdiam, merenungkan tetes air itu.” 
Sejak hari itu—ia ingat tanggalnya dengan persis, 6 Oktober 1979—ia gundah. Ia 
kembali masuk-keluar hutan, tapi kali ini tidak untuk menebang, melainkan untuk 
membuktikan bahwa pohon-pohon memang me­nyimpan air di tubuh mereka, di akar 
mereka yang masuk ke tanah. Setelah ia menemukan kenyataan itu sendiri, ia pun 
yakin. Ia pun bertekad. ”Sejak tahun itu pula saya berjanji tidak lagi menebang 
pohon,” tuturnya. Bahkan ia bersumpah akan terus menanam sampai akhir hidupnya.

 
Maka hampir tiap hari ia membawa coredan, alat pembuat lubang kecil di tanah 
tempat akan dipendamnya bibit. Hampir tiap hari, dengan tubuhnya yang tua, 
kurus tapi liat, dilapisi kulit yang hitam legam terbakar matahari, Badri 
mengembalikan ke bukit-bukit di Puncak daun dan dahan dan akar hutan tropis. Ia 
menebus. Ia memulihkan. Ia tak mau lelah. Kakek itu menampik sakit. 
Janji itu tak mudah. Ia kehilangan sumber nafkahnya: sang pencuri kini jadi 
sang pemberi. Istrinya marah. Hidupnya sendiri tak selamanya aman. Badri 
menciptakan musuh. Beberapa kali ia ditangkap dan dianiaya para spekulan tanah 
dan petugas keamanan vila-vila di kawasan Cisarua. Sebab ia tak ragu untuk 
menanam pohon apa saja di tanah kosong mana saja—yang tak jarang kepunyaan 
orang tapi dibiarkan telantar atau sedang dibidik untuk diperjualbelikan. 
Ia melakukan itu sejak 1979. Sampai sekarang: sebuah kesetiaan 
non-institusional. Yang mengarahkannya bukanlah satu program, satu lembaga, 
atau ajaran, melainkan sebuah ”kejadian”. 
Kata ”jadi”—sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang tak mudah 
diterjemahkan—menggambarkan perubahan yang-potensial ke dalam yang-aktual, 
yang-belum ke dalam yang-sudah. ”Kejadian” juga mensugestikan se­suatu yang tak 
rutin dan terkadang menakjubkan. Jika yang dialami Badri dan yang membuat 
dirinya berubah kita sebut sebuah mukjizat, itu karena semuanya berlangsung di 
sebuah masa ketika hal demikian sungguh tak lazim. Inilah masa ketika orang 
berbuat segala se­suatu konon dipacu oleh kepentingan-diri. 
Kita bayangkan Badri: tetesan air itu membuatnya terguncang, tapi dengan segera 
jadi sebuah tekad, pada 6 Oktober 1979 itu. Dengan itu Badri tak merasa perlu 
bertanya untuk siapa dia menanam pohon tiap hari selama tiga dasawarsa. 
Ia seorang militan. Tapi seorang militan lain mungkin akan mengorbankan dirinya 
untuk sesuatu yang tertutup, misalnya kaum atau pihaknya sendiri. Militansi 
Badri tidak demikian: ia bekerja untuk sesuatu yang tak berpuak. Ia menjangkau 
sesuatu yang secara universal terbuka. Pohon-pohon itu tumbuh dan hutan itu 
akan kembali rimbun untuk siapa saja, bahkan untuk manusia dalam geografi dan 
generasi yang tak akan ia kenal.

 
Mungkin orang akan mencemooh Badri: ia naif. Ia tak berpikir bahwa bila Puncak 
jadi hijau kembali, bila hutan tumbuh dan menyimpan air, yang akan menikmatinya 
terutama orang yang berduit dan berkuasa. Pendeknya, niat untuk menjangkau 
sesuatu yang universal itu bodoh, melupakan bahwa ”sesama” tak pernah ”sama”, 
kecuali sebagai angka statistik. 
Tapi saya tak akan mencemooh Badri. Ia mungkin tahu tapi mungkin juga tidak 
bahwa orang-orang kaya di Jakarta adalah perusak hutan yang lebih buas 
ketimbang para pencuri batang pohon seperti dia sebelum 1979. Orang-orang 
berduit dan berkuasa membangun vila dan membedah lereng, memakai mobil dengan 
karbon di­oksida yang paling ganas, dan mengkonsumsi sandang-­pangan dengan 
rakus hingga segala yang alami dikorbankan. Tapi salahkah Badri bila ia terus 
menanam pohon di bukit itu? 
Saya kira kita perlu melihat bahwa kisah orang ini, yang bernama lengkap Badri 
Ismaya (dan ”Ismaya” adalah Semar dalam wayang, jelata yang juga dewata), 
adalah sebuah cerita penebusan yang lebih mendasar: di zaman yang dibentuk oleh 
keserakahan manusia, Badri memberikan dirinya. Ia ingin kita tak bunuh diri, 
karena saling menghancurkan dan putus asa setelah melihat diri sebagai unsur 
yang keji di atas bumi. Saya kira Badri ­ingin manusia jadi seperti pohon 
hutan: makhluk yang luka tapi layak diberi ucapan terima kasih. 
Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/01/26/CTP/mbm.20090126.CTP129369.id.html


  http://groups.yahoo.com/group/sastra_santri/
 


      Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke