"Marilah kita bertolak ke seberang."
(Ibr 11:1-2.8-19; Mrk 4:35-41)
“Pada hari itu, waktu hari sudah petang,
Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang."
Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta
dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain
juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak
menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.
Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka
murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau
tidak perduli kalau kita binasa?" Ia pun bangun, menghardik angin itu dan
berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan
danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata
kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak
percaya?" Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang
lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat
kepada-Nya?” (Mrk 4:35-41), demikian
kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi
atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yohanes Bosco, imam, hari ini
saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
· Yohanes Bosco sering dijuluki sebagai ‘bapak kaum muda’.
Sebagai seorang imam ia sangat disukai oleh anak-anak dan generasi muda serta
banyak anak-anak dan generasi muda datang kepadanya. Ia juga mendirikan
sekolah untuk mendidik
anak-anak dan generasi muda; ia memperhatikan anak-anak dan generasi muda yang
nakal
dan kurang ajar untuk dididik dan dibina. Rasanya Yohanes Bosco meneladan Yesus
dengan berkata kepada anak-anak dan generasi muda :”Marilah kita bertolak ke
seberang”, artinya marilah kita berubah
serta tumbuh berkembang untuk menjadi pribadi cerdas beriman. “Bertolak ke
seberang” kiranya juga
dapat diartikan sebagai ajakan bagi kita semua untuk memperhatikan mereka yang
kurang beriman atau kurang percaya pada Tuhan, pada Penyelenggaraan Ilahii.
Orang yang kurang/tidak beriman pada umumnya mudah diombang-ambingkan oleh
aneka tawaran kenikmatan hidup yang marak saat ini dan pada suatu saat mereka
akan merasa takut. Kepada anak-anak dan generasi muda pada saat ini kiranya
juga ditawarkan atau dirayu oleh berbagai usaha bisnis serta aneka kenikmatan
duniaiwi yang dapat merusak dan menghancurkan masa depan mereka. Cukup menarik
arahan Yang Mulia Ennio Kardnal Antonelli, Ketua Karya Kepausan bagi Keluarga
pada tgl 5 September 2008 di
Ruzomberok, antara lain diingatkan agar anak-anak dibawah usia 10 tahun
hendaknya
jangan diberi/dipegangi HP (hand phone), karena barang atau sarana komunikasi
tersebut dapat merusak hidup anak-anak. HP memang dapat menjadi salah satu
sarana yang dapat merusak pribadi seseorang, antara lain yang bersangkutan
sulit menghayati keutamaan kesabaran dan derita sebagai konsekwensi kesetiaaan
pada iman, tugas dan kewajiban. Memang dengan HP dengan mudah orang ‘bertolak
ke seberang’ namun hal itu terjadi tidak dengan sepenuh hati, jiwa, akal budi
dan tubuh, dengan kata lain orang dijauhkan dari pemborosan waktu dan tenaga
bagi yang terkasih. Boros waktu dan tenaga hemat saya merupakan cara
berkomunikasi dalam kasih dengan yang terkasih yang harus kita hayati dan
sebarluaskan. Kami berharap para orangtua atau pendidik berani memboroskan waktu
dan tenaga kepada anak-anak atau peserta didik, bukan boros uang.
· “Iman adalah
dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang
tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek
moyang kita” (Ibr 11:1-2).. Beriman
berarti mempersembahkan atau menghadirkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan
kiranya juga harus diwujudkan dengan saling mempersembahkan atau menghadirkan
diri dengan sesama, dan tentu saja kepada mereka yang setiap hari hidup dan
bekerja dengan kita, entah di dalam keluarga atau tempat kerja. Iman harus
dinyatakan dalam tindakan atau perbuatan, karena tanpa perbuatan iman berarti
mati alias tidak berarti. Sekali lagi marilah kita meneladan Yohanes Bosco yang
mempersembahkan dan menghadirkan diri pada anak-anak dan generasi muda; tidak
memperhatikan anak-anak atau generasi muda berarti perlahan-lahan bunuh diri
bersama-sama. Berilah pendidikan dan pembinaan yang baik dan memadai pada
anak-anak dan generasi muda sebagai bukti iman kita; dengan kata lain iman
harus dilengkapi dengan kasih dan harapan. Marilah kita mengasihi anak-anak dan
generasi muda dengan penuh gairah dan semangat meskipun harus menghadapi aneka
macam tantangan dan hambatan. Ingat dan sadari serta hayati bahwa masing-masing
dari kita tumbuh berkembang seperti saat ini karena iman nenek moyang kita,
yang menjadi nyata dalam kasih pada kita semua. Kiranya nenek moyang kita yang
bertindak demikian adalah para ibu sebagaimana sering dikumandangkan dalam
nyanyian di radio dan TV: “Kasih ibu
kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali,
bagai sang surya menyinari dunia”.
“Ia menumbuhkan sebuah tanduk
keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang
telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus --
untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang
membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan
mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya
kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita,
terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam
kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita” (Luk 1:69-75)
Jakarta, 31 Januari 2009
Wajib militer di Indonesia? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!
http://id.answers.yahoo.com