Mg
Biasa V : Ayb 7:1-4.6-7; 1Kor 9:16-19.22-23;
Mrk 1:29-39
"Semua orang mencari Engkau.”
Sebuah paroki di pedesaan Jawa
Tengah, selain karya pelayanan pastoral umat pada umumnya juga membuka
poliklinik, yang dilayani oleh seorang dokter dan didampingi seorang suster dan
perawat. Wilayah paroki tersebut mencakup beberapa kecamatan dan di setiap
kecamatan ada Puskesmas yang diselenggarakan oleh pemerintah. Berobat di
Puskesmas sebenarnya lebih murah daripada berobat di poliklinik yang
diselenggarakan oleh paroki, namun dalam kenyataan lebih banyak warga
masyarakat memilih berobat di poliklinik paroki daripada di Puskesmas. Mengapa?
Ada berita dan pengalaman yang
cukup menarik, yaitu: konon obat dan pelayanan poliklinik paroki lebih mujarab
daripada di Puskesmas. Bahkan ada orang yang berkata: “Wah kalau berobat ke
poliklinik paroki, rasanya sebelum diperiksa dan
diobati saya merasa mulai sembuh, apalagi obatnya sungguh mujarab”. Apa
resep dan obat dari poliklinik paroki berbeda dengan yang diberikan oleh
Puskesmas?
Secara phisik obat maupun sarana-prasarana medis yang ada di poliklinik sama
dengan yang ada di Puskesmas. Apa yang berbeda? Yang berbeda adalah cara
melayani: di Puskesmas terasa pelayanan kurang manusiawi, sedangkan di
poliklinik paroki pelayanan dari dokter maupun suster dan perawat sungguh
mempesona dan membuat orang terpikat karena mereka melayani dengan manusiawi,
penuh keramahan, kegembiraan, lemah lembut serta sabar. Cara pelayanan yang
demikian itulah yang menarik sehingga orang datang untuk berobat dengan
gembira, tanpa takut. Kegembiraan pasien dan pelayanan dokter, suster serta
perawat merupakan ‘obat’ yang ampuh dan mujarab dalam proses penyembuhan; orang
yang senantiasa nampak ceria, gembira, penuh senyuman memang menarik banyak
orang.
"Semua
orang mencari Engkau.” (Mrk 1:37)
"Semua orang mencari Engkau.”, demikian kata Simon dan
kawan-kawannya kepada Yesus, yang sukses dalam menyembuhkan berbagai macam
penyakit. Yesus adalah ‘Pewarta Kabar Baik’ utama dan kiranya Ia sendiri adalah
‘Kabar Baik’, “Aku datang untuk
memberitakan Injil”, demikian sabdaNya. Injil berarti Kabar Baik atau Warta
Gembira. Sebagai orang yang beriman atau percaya kepadaNya kita juga dipanggil
untuk mewartakan Kabar Baik atau Warta Gembira, dan panggilan ini hemat saya
dapat kita laksanakan dalam hidup sehari-hari, dalam kesibukan, pekerjaan dan
pergaulan kita.
Salah satu cara atau mungkin
merupakan cara utama yang dapat dikerjakan oleh semua orang sebagai ‘pewarta
kabar baik atau gembira’ adalah
senantiasa dalam keadaan baik dan gembira. Tidak ada alasan bagi kita
untuk tidak gembira jika kita berani menyadari dan menghayati bahwa kita telah
menerima kasih setia dan belas kasihan dari Allah secara melimpah ruah melalui
saudara-saudari kita, mereka yang telah berbuat baik kepada kita. Telah banyak
orang ‘mendatangi’ kita dengan berbagai cara, sehingga kita dalam keadaan
sehat, segar bugar seperti saat ini. Marilah dalam keadaan atau kondisi apapun,
dimanapun atau sedang mengerjakan apapun senantiasa gembira dan ceria, seperti
‘orang gila/sinthing’ yang senyum terus menerus. Bukankah orang gila/sinthing
yang senyum terus menjadi daya tarik semua orang, dan orang tersebut tidak akan
menyakiti siapapun. Kita semua dipanggil untuk menjadi ‘gila’, tetapi gila akan
Tuhan, artinya dimana-mana dan kapan saja senantiasa berusaha mencari Tuhan,
hidup dan berkarya bersamaNya.
"Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya
di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk
itu Aku telah datang.” (Mrk 1:38),
demikian tanggapan Yesus atas kata-kata Simon dan kawan-kawannya. Sabda ini
mengajak dan memanggil kita untuk
mewartakan kabar baik atau gembira tanpa batas. Maka marilah kita lihat dan
cermati orang, tempat, situasi mana yang sedang ‘sakit atau menderita’ dan
kemudian kita datangi dengan gembira. Sapaan dan sentuhan gembira dan hangat
yang dijiwai oleh kasih lebih bermakna dan berarti daripada harta benda atau
uang. Dengan kata lain marilah kita boroskan waktu dan tenaga kita bagi mereka
yang sedang ‘sakit atau menderita’. dengan dan melalui kehadiran dan
kebersamaan yang hangat, gembira dan penuh kasih. “Makanan adalah untuk perut
dan perut untuk makanan: tetapi
kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan,
melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh” (1Kor 6:13). Tubuh atau badan
kita untuk Tuhan dan Tuhan untuk
tubuh atau badan kita, itulah yang harus kita hayati dan sebar-luaskan.
Kehadiran diri kita, tubuh atau badan kita,
dimanapun dan kapanpun hendaknya menjadi kehadiran Tuhan, sehingga orang tidak
berhenti melihat keindahan tubuh atau badan kita melainkan Tuhan yang hidup dan
berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Siapapun yang dapat
menghadirkan diri sebagai kehadiran Tuhan pasti akan dicari atau didatangi oleh
banyak orang, dan siapapun yang bergaul dengannya atau disentuh dan disapa
olehnya akan gembira, ceria, sembuh dari aneka macam penyakit.
“Jika
aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab
itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.
Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak
menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri,
pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. Kalau
demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil
tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil”
(1Kor 9:16-18)
Upah atau balas jasa terbesar
yang sulit diukur dengan uang dari pewarta kabar baik atau kabar gembira adalah
ia semakin baik dan gembira. Pertambahan dan peneguhan kebaikan dan kegembiraan
tersebut merupakan anugerah Allah, maka orang tak boleh memegahkan diri atau
sombong karenanya, melainkan harus semakin rendah hati. Sebagai pewarta kabar
baik atau gembira kita tidak melakukan kehendak dan keinginan pribadi/sendiri
tetapi kehendak atau perintah Tuhan, antara lain perintah yang utama dan
pertama adalah ‘saling mengasihi’. Maka celakalah aku jika aku tidak saling
mengasihi dalam hidup dan bekerja bersama. Apa upah orang mengasihi? Upahnya
yang utama dan pertama adalah ia semakin mahir mengasihi dan dikasihi oleh
banyak orang.
Jika kita tidak hidup saling
mengasihi, maka setiap kali ada kemungkinan kita akan mengeluh dan mengesah
seperti Ayub ini :“Hari-hariku berlalu
lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan. Ingatlah, bahwa
hidupku hanya hembusan nafas; mataku tidak akan lagi melihat yang baik”
(Ayb 7:6-7). Hidup kita mungkin bagaikan ‘hanya
hembusan nafas’, atau dalam peribahasa Jawa “urip iku koyo wong mampir ngombe”
= Hidup itu bagaikan orang singgah
untuk minum. Jika kita hidup saling mengasihi rasanya kita juga akan
merasakan bahwa waktu berjalan begitu cepat alias hidup itu begitu singkat.
Hidup yang begitu singkat ini hendaknya jangan disia-siakan, melainkan hayati
dan fungsikan untuk senantiasa dalam keadaan baik dan gembira, menjadi pewarta
kabar baik dan gembira. Orang baik dan gembira antara lain senantiasa akan
“bersikap konstruktif, yaitu sikap dan
perilaku yang bersifat membina dan membangun kea rah tujuan-tujuan yang
positif” (Prof Dr.Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur,
Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 13).
“Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah,
dan layaklah memuji-muji itu. Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan
membalut luka-luka mereka; Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut
nama-nama semuanya. Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan,
kebijaksanaan-Nya
tak terhingga.TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi
merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi” (Mzm 147:1.3-6).
Jakarta,
8 Februari 2009
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/