“Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat
manusia."

(Kej 1:20-2:4a; Mrk 7:1-13) 

 

“Pada suatu kali serombongan orang
Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka
melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan
tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi
lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena
mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari
pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya.
Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi
dan perkakas-perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli 
Taurat
itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat
istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?" Jawab-Nya
kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang
munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal
hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran
yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk
berpegang pada adat istiadat manusia."(Mrk
7:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi
atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Skolastika, perawan, hari ini
saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ada orang merasa bangga dan sukses karena dalam tugas
pengutusan, jabatan atau kedudukannya telah berhasil membuat banyak peraturan
atau kebijakan secara tertulis, sementara itu.mereka sendiri tidak melaksanakan
peraturan yang mereka buat dan peraturan itupun tidak operasional. Yang lebih
memprihatinkan adalah banyak orang hidup dan bekerja hanya mengikuti keinginan
atau kehendak sendiri, mengesampingkan aneka tatanan dan aturan yang terkait,
apalagi iman yang diakuinya. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita
untuk senantiasa hidup dan bertindak dijiwai oleh iman, yang antara lain
berarti mempersembahkan diri dalam tugas pekerjaan, tanggungjawab, jabatan atau
kedudukan sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita dapat meneladan St.Skolastika yang
mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, sejak masih kanak-kanak karena
dorongan Roh Kudus. Dalam hidup dan bekerja sehari-hari hal itu kiranya dapat
kita hayati dalam dan dengan cintakasih kita menghadapi dan memperlakukan
segala sesuatu, alias dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan
segenap tubuh sebagai tanggapan atas cintakasih Allah kepada kita yang lemah
dan rapuh ini. Kita harus lebih mengutamakan perintah atau kehendak Allah
daripada adat istiadat manusia. Maklum masih ada beberapa orang yang lebih
mengutamakan adat isitiadat manusia/suku dari pada perintah Tuhan yang antara
lain diterjemahkan ke dalam aneka kebijakan dan peraturan hidup beragama atau
beriman, misalnya dalam hal perkawinan atau pemakaman. Kasus-kasus kejahatan
yang coba diatasi melalui aturan atau hukum yang dibuat manusia juga sering
menjadi bahan permainan/korupsi, harus dibayar mahal dan melelahkan..dan
meskipun demikian kasus tak terpecahkan. Kiranya jika dalam kasih pengampunan
kita menghadapi dan mengerjakan segala sesuatu maka akan segera berhasil dan
hasilnyapun membahagiakan semua orang. 

·   "Baiklah
Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa
atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas
seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”(Kej 1:26) , 
demikian berita perihal kisah
penciptaan manusia. Masing-masing dari kita adalah ‘manusia sebagai gambar atau
citra Allah’, yang antara lain berarti dalam hidup dan kesibukan dimanapun dan
kapanpun diharapkan kita menghadirkan Allah yang hidup dan bekerja dalam diri 
kita
yang lemah dan rapuh ini, sehingga siapapun yang kita sapa, sentuh berarti
menerima sapaan dan sentuhan kasih Allah. Sebagai gambar dan citra Allah kita
juga dipanggil untuk menguasai ciptaan-ciptaan lain di bumi ini: aneka
binatang, tanaman maupun hasil karya manusia.  Maka hendaknya jangan dikuasai 
oleh
ciptaan-ciptaan lain di bumi ini alias menjadikan binatang, tanaman atau hasil
karya sebagai berhala-berhala  Tanda
bahwa orang dikuasai oleh ciptaan-ciptaan lain di bumi tersebut antara lain
menjadi gila harta benda/uang, kedudukan dan jabatan, dan jika tiada atau
berkurang  harta benda/uang, jabatan dan
kedudukan menjadi gila. Sebagai gambar dan citra Allah juga berarti suci, maka
selayaknya kita senantiasa mempersembahkan diri seutuhnya kepada Penyelenggaraan
Ilahi melalui dan dalam hidup serta kesibukan kita sehari-hari. Hidup dan
segala sesuatu yang menyertai kita, yang kita kuasai dan miliki saat ini adalah
anugerah Allah, maka selayaknya kita hayati dan fungsikan sesuai dengan
kehendak Allah.

 

“ Jika aku melihat langit-Mu, buatan
jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga
Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya
dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu;
segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi
sekalian, juga binatang-binatang di padang;
burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus
lautan” (Mzm 8:4-9)

 

Jakarta, 10 Februari 2009




      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke