T = Dear Mas Leo,


Saya akhirnya sudah bergabung dengan milis Mas Leo (Spiritual
Indonesia). Positif sekali, walaupun inbox email saya jadi membeludak
hanya gara-gara banyak anggota yang menjadikan milis tersebut sebagai
ajang chatting? He he…



J = Milis Spiritual Indonesia memang ajang sharing, we learn from one
another dengan cara guyon-guyon dan ngeyel-ngeyel seperti itu.



SI bukan milik saya melainkan milik rame-rame. Sampai saat ini kita
sudah 14 kali mengadakan copy darat di Jakarta, Bandung, Semarang,
Surabaya, Denpasar, dll. Dan bulan depan kita akan mulai mengadakan
bakti sosial penyembuhan dan konseling untuk mereka yg mau mengundang
kita untuk datang.



T = Mas Leo, saya ada beberapa pertanyaan yang cukup banyak, namun
semoga Mas Leo ada waktu dan bersedia mau menjawab
pertanyaan-pertanyaan bodoh saya ini.



J = Kalau kita mau bertanya maka artinya kita tidak bodoh. Saya sendiri
percaya bahwa kalau ada yg bertanya kepada saya, maka artinya saya
sudah diberikan jawabannya. Jawaban itu bukan datang dari saya,
melainkan dari alam bawah sadar si penanya sendiri. Saya cuma berperan
sebagai medium atau sarana saja, yg menyampaikan pesan dari alam bawah
sadar penanya.



T = Kenapa ya belakangan ini saya bertanya-tanya terus mengenai kehidupan saya 
di sini? Anyway aura saya apa ya Mas Leo?



J = Kalau anda bertanya mengenai kehidupan anda, artinya anda sedang
memasuki tahapan baru karena anda sadar bahwa apa yg selama ini anda
mengerti tentang siapa dan apa missi anda di dunia ini ternyata telah
tidak memadai. Anda tahu bahwa anda harus berubah, tapi tidak tahu
harus berubah ke arah apa.



Aura cuma impressi saja yg muncul di dalam pikiran. Kalau anda banyak
berpikir dan berkomunikasi, maka aura anda akan berwarna biru (warna
Cakra Tenggorokan). Kalau anda mudah kasihan kepada orang lain, maka
aura anda akan berwarna hijau (warna Cakra Jantung).



Kalau anda memiliki tubuh fisik yg kuat dan mengandalkan kekuatan tubuh
semata, maka aura anda akan berwarna kuning (warna Cakra Solar Plexus).
Kalau anda hanya mementingkan sensualitas belaka, maka aura anda akan
berwarna merah (warna Cakra Dasar).



Kalau anda memiliki kebatinan yg kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh
segala macam tarikan pemikiran, perasaan, dan sensualitas, maka aura
anda akan berwarna indigo (warna Cakra Mata Ketiga). Kalau anda tidak
memperdulikan segalanya dan fokus semata kepada yg ada di kerohanian
anda, maka aura anda akan berwarna ungu (warna Cakra Mahkota).



Di atas ini semua adalah NON warna. Hitam itu non warna. Kalau aura
anda berwarna hitam seperti Lucifer, artinya anda bisa menjadi apa
saja. Kalau anda bertindak, mungkin maka orang akan bilang anda baik,
orang lain lagi mungkin akan bilang anda buruk. Tetapi anda tidak akan
perduli segala macam penilaian orang. Anda cuma akan melakukan apa yg
anda pikir harus anda lakukan. You only do what you think you need to
do.



Hitam adalah warna roh, simbol dari spiritualitas. Di Jawa, warna
spiritualitas adalah hitam, dan ini memang benar. Hitam itu sebenarnya
bukan warna. Hitam adalah non warna, kekosongan, nibbana. Kebalikan
dari hitam adalah putih yg berarti semua warna, all colors. Spektrum
dari tiga warna dasar, merah, kuning, dan biru, membentuk apa yg kita
kenal sebagai warna putih yg sering di salah kaprahkan sebagai warna
spiritualitas. Pedahal spiritualitas atau kerohanian itu adalah yg NON
warna, yg kosong, yg beyond all symbols, dan itu adalah yg kita kenal
sebagai hitam. Putih adalah spiritualitas yg masih belepotan dengan
keduniawian seperti sering terlihat di berbagai ritual keagaaman.



Agama-agama yg kalau ritual menggunakan banyak warna putih adalah
agama-agama yg full of belief systems. Belief systems itu hasil dari
rekayasa, artinya rekaan manusia belaka. Kalau segala macam reka-reka
itu ditanggalkan, maka jadinya akan hitam saja, kosong saja, and that's
TRUE spirituality ketika kita bisa memilih apapun yg akan kita jalani
tanpa menghakimi dan bilang yg ini salah atau yg itu yg benar.



True spirituality tidak menghakimi melainkan menerima semuanya apa
adanya. Seperti hitam yg menyerap segala macam spektrum warna yg jatuh
ke atas dirinya, begitulah true spirituality, menyerap saja tanpa
menghakimi. And isn't that God also? Bukankah yg kita kenal sebagai
Allah juga seperti itu? Cuma menyerap saja apapun yg mau
di-proyeksi-kan oleh manusia-manusia?



Terus terang saya sendiri tidak bisa melihat aura kalau pengertiannya
seperti warna yg muncul di depan mata kita seperti ketika sedang
menonton TV. Menurut saya anda ini no color, artinya warnanya tidak
kelihatan atau tidak ada warna.



T = Menanggapi tataran syariat yang selalu dipermasalahkan di milis.
Bukankah syariat itu masih diperlukan selama kita berjasad, apalagi
dengan tingkat intelektual dan sosial masyarakat yang berbeda, Mas?



J = Syariat itu merupakan pilihan. Kalau kita mau maka bisa kita pakai,
kalau kita tidak mau maka bisa kita lepaskan tanpa kita kehilangan
suatu apapun.



Segala macam syariat agama itu buatan manusia dan nama Allah disitu
cuma merupakan pelengkap saja. Anda bisa baca Taurat dari Nabi Musa yg
penuh dengan segala macam aturan syariat, dan di sana anda bisa
mengerti bahwa segalanya itu merupakan buatan dari Nabi Musa sendiri,
walaupun dia mengatas-namakan Allah yg disebutnya sebagai Jehovah
Elohim.



Musa adalah pelopor dari penciptaan berbagai macam syariat di tradisi
Samawi (Yahudi, Kristen, Islam). Berdasarkan Taurat dari Musa, agama
Yahudi dengan berbagai alirannya mengatur segala macam perilaku manusia
yg katanya sesuai dengan apa yg diinginkan Allah. Pedahal kita tahu
bahwa segalanya buatan para rabbi itu sendiri, walaupun kita juga tahu
bahwa mereka yakin hakkul yakin bahwa seperti itulah yg diinginkan oleh
Allah.



Kristen juga seperti itu. Di masa Gereja Katolik meraja-lela di Eropa,
gereja membuat syariat yg semakin lama semakin menjerat anggota
masyarakat. Dan semuanya mengatas-namakan Allah. Jalan pikiran dari
mereka yg membuat dan menjalankan syariat adalah bahwa masyarakat akan
berantakan tanpa ada ancaman hukuman dari Allah berupa Neraka, dan
ganjaran dari Allah berupa Surga.



Nah, jalan pikiran itu rontok dengan sendirinya ketika Abad Pencerahan
di Eropa muncul. Segala macam syariat dari Gereja Katolik sedikit demi
sedikit dibuang. Revolusi Perancis yg membawa demokrasi lebih jauh lagi
membawa perubahan dalam cara berpikir manusia. Akhirnya manusia
mengerti bahwa ternyata yg diperlukan itu Rule of Law, kesamaan hak dan
kewajiban di depan hukum. Hukum negara dan bukan hukum yg
mengatas-namakan Allah.



Revolusi Perancis melahirkan demokrasi dimana-mana. Amerika Serikat itu
anak langsung dari Revolusi Perancis. Tetapi tentu saja demokrasi itu
tidak otomatis, berjalannya dengan jatuh bangun juga karena
negara-negara kerajaan memang mendasarkan diri pada syariat juga, yg
namanya the Divine Right of Kings. Jadi, syariat itu macam-macam, dan
tadinya bisa menghukum manusia yg tidak mau mengikutinya karena dipikir
bahwa masyarakat hanya akan teratur kalau Allah disebut-sebut. Tetapi
ternyata masyarakat berjalan terus, dan syariat terus dipreteli. Bahkan
Turki yg memiliki sistem khalifah akhirnya jelas-jelas menanggalkan
syariat dalam sistem bernegara. Turki memproklamirkan diri sebagai
negara sekuler. Ada pemisahan tegas antara negara dan agama.



Sistem sekuler artinya negara berdasarkan hukum atau Rule of Law, dan
yg namanya syariat agama merupakan pilihan belaka. Kalau mau mengikuti,
maka itu merupakan pilihan pribadi. Kalau tidak mau mengikuti, ya bisa
ditinggalkan saja.



Arab Saudi yg sampai saat ini masih menerapkan syariat sebagai hukum
negara sebenarnya cuma mempertahankan sistem itu karena masih ada
kerajaan, dan masih ada minyaknya. Cepat atau lambat Arab Saudi akan
menjadi negara demokratis juga, dan segala polisi rahasia yg menteror
warga Arab Saudi akan dipreteli juga, walaupun saat ini masih ada
karena penguasa masih kuat.



Segala syariat itu membawa-bawa nama Allah. Pedahal tanpa membawa nama
Allah kita bisa menjadi negara yg aman dan sejahtera, berpemerintahan
bersih, menghormati HAM, dsb... seperti dibuktikan oleh negara-negara
Barat. Di Indonesia, mereka yg ngotot ingin memaksakan syariat sebagai
hukum negara justru bilang kebalikannya. Katanya negara-negara Barat
itu yg Setan, dan yg bersyariat adalah yg Tuhan. Pedahal kita semua
tahu bahwa negara-negara atau masyarakat yg bersyariat adalah yg tidak
menghormati HAM, yg penuh kemunafikan, yg kotor, yg melecehkan wanita
dan sebagainya. Menurut saya, itulah yg Setan.



Tetapi, sekali lagi, segalanya adalah pilihan. Tuhan dan Setan cuma
sebutan saja. Kalau anda mau bersyariat, maka bersyariatlah, anda
sendiri lah yg akan bersusah payah dengan fantasi anda bahwa anda
sedang berusaha membeli tiket ke Surga. Kalau orang tidak mau
bersyariat, ya tidak usahlah. Orang itu sendiri yg bisa enjoy hidupnya
karena sudah bisa merasakan kebebasan yg memang selalu ada di dirinya.



Kita ini sudah hidup di abad 21 M, masa syariat sudah lewat, dan cara
berpikir bahwa hanya syariat lah yg bisa membawa ketertiban di
masyarakat sudah kedaluwarsa. Yg diperlukan adalah Rule of Law atau
kepastian hukum yg berlaku sama tanpa diskriminasi berdasarkan Suku,
Agama, Ras, Golongan, Jenis Kelamin, Usia, dan Orientasi Seksual.



T = Mengenai arti mimpi, beberapa hari yang lalu saya dikejutkan
(sehingga terbangun) dengan suara bergema : Al Qaariah, Mal Qaariah, Wa
ma adro kamal Qaariah (surat Al Qariah ayat 1-3). Yang kurang lebih
terjemahan bebasnya sbb : Petaka besar. Apa itu Petaka besar? Apakah
kamu tau apa itu petaka besar?



Apa makna/arti dari mimpi ini ya, Mas? Terus terang saya jadi was-was
juga nih. Hasil berdiskusi dengan Pak Achmad Chodjim, Pak Chodjim
mengkaitkannya dengan bencana-bencana yang akan terjadi di seluruh
dunia termasuk Indonesia . Bagaimana pandangan Mas Leo? Apalagi
beberapa hari kemudiannya saya dalam mimpi diperlihatkan air yang
melimpah dimana-mana…



J = Banyak orang yg sudah melihat bahwa akan ada bencana besar,
datangnya seperti air, sedikit demi sedikit. Air pertama tidak besar,
yg kedua lebih besar, ketiga lebih besar lagi, dsb... sampai akhirnya
terjadi Tsunami. Cuma mereka yg bisa berjalan ke atas gunung akan bisa
menyelamatkan diri. Berjalan itu merupakan perlambang juga, artinya
kalau kita mau melepaskan segala keterikatan kita kepada tempat asal,
maka kita akan selamat. Kalau kita mau bertahan di posisi yg lama, maka
kita akan habis diterjang tsunami. Posisi yg lama bisa berarti agama,
tradisi, cara berpikir, cara berperilaku, segalanya yg lama dan masih
mau dipertahankan terus.



Ada tulisan saya tentang penafsiran mimpi seorang rekan yg sangat
spesifik mengenai kemungkinan bencana di masa depan yg dekat. Tulisan
itu bisa di search juga di Milis SI dan di facebook, dan judulnya
adalah: "Bola Api dari Barat yg jatuh di Utara."



T = Mumpung sedang membahas arti mimpi, ada dua pengalaman mimpi di
dalam hidup saya, yang menurut saya cukup aneh namun berbekas pada diri
saya:



Mimpi pertama: Suatu ketika saya berada pada jaman Jawa Kuno. Saya
melihat di suatu masjid bergaya Jawa Kuno, orang-orang sedang
mengadakan ritual untuk menolak hal yang buruk-buruk. Ketika saya
menyapa salah satu orang yang ada di sana dan mengutarakan hendak turut
mengikuti ritual tersebut, orang tersebut (yang selalu menyebut-nyebut
saya dengan kata-kata “tuan” dan sangat hormat dengan saya) mengatakan
bahwa saya tidak perlu mengikutinya karena saya (menurut dia di mimpi
itu) adalah Syekh Siti Jenar (??). Karena saya sangat bingung, sayapun
terbangun.



Mimpi kedua ini terjadi ketika saya belum menikah dengan istri saya
lebih dari 10 tahun yang lalu. Dalam mimpi itu saya dihampiri Sukarno
(proklamator). Beliau menyalami saya dan menitipkan istri saya yang
sekarang, yang pada mimpi itu beliau juga menyebutkan bahwa istri saya
itu sebenarnya adalah Nyi Roro Kidul (??). Jika Mas Leo berkenan, mohon
tanggapan akan arti-arti mimpi tersebut. Apa jangan-jangan itu mimpi
hanya bunga tidur saja yang tidak ada artinya sama sekali?



J = Ada mimpi yg bunga tidur, dan ada mimpi yg memiliki arti simbolik
besar. Dua mimpi anda itu simbolik sekali, dan saya percaya anda
sendiri sudah tahu artinya. Syekh Siti Jenar adalah diri anda sendiri,
so ini adalah simbol pribadi bagi diri anda. Siapa Syekh Siti Jenar
anda sudah tahu. He said, kulo gusti. I am the Lord. Allah and me are
one, just that. So, anda memang tidak memerlukan segala ritual itu.
Ritual itu shalat, kebaktian, misa kudus, selametan, odalan, dsb... Ada
banyak istilahnya, dan semua adalah ritual. Sebagai Syekh Siti Jenar
anda tidak memerlukan ritual.



Ritual gunanya hanya sebagai visualisasi berbagai perlambang. Kalau
berbagai perlambang dan artinya sudah anda pahami, atau bahkan sudah
menjadi bagian dari kesadaran di dalam diri anda sendiri, maka jelas
anda tidak memerlukan ritual. So, mimpi itu dengan jelas memperlihatkan
bahwa ya, anda memang tidak lagi memerlukan ritual. Ritual hanyalah
untuk mereka yg belum berani melepaskan diri dari kemelekatan terhadap
simbol-simbol keagamaan atau tradisi, belum berani melepaskan diri dari
syariat. Mereka merasa bahwa tanpa ada upacara fisik atau ritual maka
essensi di dalam kesadaran mereka tidak akan sempurna. Pedahal, yg
essensial itu tidak memerlukan ritual. You simply are. Anda memang
selalu satu dengan Allah, dari no beginning sampai no ending. And you
need no ritual to confirm it.



Sukarno merupakan seorang nabi dalam kesadaran manusia Indonesia. Dulu
saya melihat bahwa ada dua orang nabi dalam kesadaran manusia
Indonesia, yaitu Jayabaya dan Syekh Siti Jenar. Tetapi seminggu
terakhir ini akhirnya saya sadar bahwa, ya Sukarno juga seorang nabi.
Berarti ada tiga orang nabi Indonesia: Jayabaya, Syekh Siti Jenar, dan
Sukarno. Di mimpi itu Sukarno berpesan bahwa istri anda adalah Nyai
Roro Kidul. Nyai Roro Kidul adalah simbol feminin dalam alam bawah
sadar Indonesia sebagai suatu bangsa. Feminin yg paling feminin itu
Nyai Roro Kidul. Istri anda memiliki kekuatan penyembuhan feminin, yg
artinya penerimaan tanpa batas. Arti positif dari perlambang Nyai Roro
Kidul adalah penerimaan tanpa batas terhadap semua manusia, tanpa
penghakiman. Ada juga aspek negatif dari perlambang itu yg perlu
di-appeased melalui berbagai ritual seperti larungan dsb.



Istri anda memiliki dua aspek dari Nyai Roro Kidul, anda juga memiliki
dua aspek dari Syekh Siti Jenar. Karena kita masih manusia hidup secara
fisik, maka dua aspek itu tidak bisa kita hilangkan. Kita semua
memiliki aspek positif dan negatif, yg cuma bisa kita seimbangkan terus
menerus selama kita masih berbadan fisik. Caranya dengan naik ke Cakra
Mata Ketiga dengan meditasi. So, meditasi dalam berbagai istilahnya
ternyata memang masih diperlukan. Bahkan Syekh Siti Jenar melakukan
meditasi. Bahkan Yesus melakukan meditasi. Bahkan Sidharta Gautama
melakukan meditasi.



T = Kundalini versus Pineal. Ada yang berpendapat Kundalini sebagai God
Spot, sementara Mas Leo berpendapat pada kelenjar pineal. Tanggapan Mas?



J = Of course kita bisa berbeda pendapat, I have no problem with that.
Bahkan orang bisa berbicara menggunakan terminologi berbeda sama
sekali, tapi maksudnya sama. God Spot itu istilah Bahasa Inggris,
menurut riset di tempat itu dihasilkan hormon melatonin. Kalau
melatonin meningkat, maka gelombang otak melambat dan kita bisa masuk
ke dalam kesadaran lebih tinggi.



Kesadaran tinggi sering saya sebut sebagai "Higher Self", dan
istilahnya bisa macam-macam. Bisa dibilang sebagai Allah, Yesus,
Buddha, Nur Muhammad, Siwa, Logos, ... apapun. Istilah tidak akan
menjadi masalah selama kita bisa tahu secara intuitif bahwa kita masuk
ke dalam kesadaran di diri kita sendiri yg sebenarnya merupakan
kesadaran kolektif juga. Ada collective consciousness, dan ada
collective unconscious, tapi ini juga cuma istilah-istilah saja. Yg
penting kita bisa merasa bahwa kesadaran di diri kita itu tetap. Kita
memang ada karena kita ada.



T = Wah, tanpa disadari, saya sudah kurang ajar, terlalu banyak menanya
(maklum orang bodoh Mas, he he). Mudah-mudahan Mas Leo sedang memiliki
waktu luang dan bersedia melayani pertanyaan saya ini. Terima kasih
banyak, Mas Leo….



J = Terima kasih banyak juga sudah bertanya. Kalau tidak ditanya saya tidak 
bisa menjawab, ya gak?



Leo

Milis Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.



Lokasi
Kelenjar Pineal di dalam batok kepala kita. Riset ilmiah memperlihatkan
bahwa kesadaran kita bisa merasakan kesatuan dengan Allah apabila
gelombang otak kita turun memasuki level Alpha, Theta, dan Delta. Allah
itu kesadaran tinggi atau Higher Self yg adanya di kesadaran kita
sendiri, dan bisa dirasakan ketika kita meditasi di God Spot atau
proxy-nya yg kita kenal sebagai Cakra Mata Ketiga. Kebanyakan tarekat
bilang bahwa tempat Allah itu di dada atau Cakra Jantung, saya bilang
bahwa yg di jantung itu buntutnya, dan kepalanya ada di pineal.


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke