“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi ia kehilangan
nyawanya”

(Kej 11:1-9; Mrk 8:34-9:1)

 

“Lalu Yesus memanggil orang banyak dan
murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut
Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena
siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi
barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan
menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia
kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti
nyawanya? Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di
tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan
malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya,
diiringi malaikat-malaikat kudus. 
Kata-Nya lagi kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di
antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat
bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa." (Mrk 8:34-9:1),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

·   “Mengumpulkan
harta benda/uang untuk tujuh turunan”, begitulah motto yang telah menjiwai
banyak orang,dan memang ada yang berhasil dan ada yang gagal. Entah berhasil
atau gagal hemat saya hal itu sama-sama merupakan cara hidup yang tidak benar
sebagai orang beriman, karena mereka akan kehilangan ‘nyawa’ atau charisma atau
spiritualitas yang menjiwai hidup mereka, sebagai kekayaan dan sarana yang
utama dan istimewa untuk memperoleh hidup bahagia sejati, hidup mulia kembali
bersama Allah di sorga setelah meninggal dunia. Menjadi orang beriman, pengikut
atau murid Yesus Kristus atau hamba-hamba Tuhan kita semua dipanggil ‘untuk 
menyangkal diri dan memikul salib kita
masing-masing’, yang antara lain berarti hidup dan bertindak sesuai dengan
panggilan, tugas pengutusan atau fungsi masing-masing. Sebagai pelajar atau
mahasiswa belajar sebaik mungkin sehingga mahir atau terampil dalam belajar,
sebagai pekerja bekerja sebaik mungkin sehingga terampil atau mahir bekerja,
sebagai suami-isteri yang diikat dan didasari oleh kasih hendaknya saling
mengasihi terus menerus sehingga terampil dan mahir dalam mengasihi, dst…
Memang untuk itu butuh sarana-prasarana atau harta benda dan uang, namun
hendaknya sarana-prasarana tetap menjadi sarana-prasarana dan tidak bergeser
menjadi tujuan. Orang yang menjadikan sarana-prasarana sebagai tujuan pada
umumnya lalu korupsi, sebagaimana telah dilakukan oleh kebanyakan orang pada
saat ini. Untuk sesaat mereka merasa bahagia dengan hasil korupsinya, tetapi
kiranya dirinya merasa terancam terus menerus dan tidak bebas merdeka, apalagi
ketika terbongkar tindakan korupsinya dimana mereka akan kehilangan segalanya.
Maka marilah kita tidak malu mengakui dan menghayati diri sebagai orang
beriman, yang percaya pada Tuhan, antara lain dengan hidup jujur, disiplin,
setia, taat, lemah lembut, rendah hati, sederhana, dst..  

·   "Marilah
kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai
ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh
bumi." (Kej 11:4), demikian cita-cita dan impian orang sombong serta
serakah. Orang yang berusaha merealisasikan cita-cita dan impian yang demikian
itu akhirnya akan jatuh berantakan, sebagaimana telah terjadi di Babel. "Mereka
ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha
mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang
tidak akan dapat terlaksana. Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana
bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.”
(Kej 11:6-7). Karena egoisme, kesombongan dan keserakahan orang kaya tertentu
maka hancur dan rusaklah lingkungan hidup maupun kehidupan bersama. Hampir
semua lapisan tanah ditutupi beton dan bangunan yang tinggi, maka banjir
bandang tak terhindari, itulah yang akhir-akhir ini terjadi. Dibalik kejayaan
keberhasilan duniawi yang antara lain ditandai oleh gedung-gedung pencakar
langit, hotel dan losmen terjadilah kemerosotan moral manusia. Maklum cukup
banyak hotel dan losmen telah menjadi tempat terselubung untuk pelacuran,
tempat untuk melakukan ketidak-setiaan atau perselingkuhan. Dibalik hingar
bingar dan nyanyian ada narkoba dan pelecehan seksual. Dibalik kesuksesan
kepemilikan sarana komunikasi seperti HP ada kehancuran komunikasi kasih antar
manusia. Memperhatikan kasus ‘Babel’ yang menjadi symbol kesombongan dan 
keserakahan
manusia, marilah kita sebagai orang beriman mawas diri: apakah saya juga
tergerak atau dijiwai untuk ‘membangun
sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit’ alias dambaan atau impian
kosong, hampa? 

 

“TUHAN menggagalkan rencana
bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana TUHAN
tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. Berbahagialah bangsa,
yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya
sendiri! TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; dari tempat
kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi.Dia yang membentuk hati mereka
sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka “ (Mzm 33:10-15)

 

Jakarta, 20 Februari 2009

Note: renungan tgl 21 dan 22 Feb
kalau minat buka: www.ekaristi.org  (saya keluar kota)




      Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web. Gunakan Wizard 
Pembuat Pingbox Online. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke