T = Mas Leo,... Saya mahasiswi psikologi, salam kenal ya mas =)

J = Salam kenal juga.

T = Waktu itu nemu facebook nya mas dari temen saya. Nah, saya kok kaya kenal 
namanya. Hehe. Waktu saya browsing google nyari "indigo" dan tulisan mas sempet 
saya baca juga. Nah, kebetulan tuh barusan saya baca juga note tentang 
indigo-nya mas.

J = Sure, then?

T = Jadi gini mas, sekarang saya lagi nyusun skripsi tentang indigo. 
Fenomenologis. Melihat dari pengalaman seorang teman yang selalu dicap "aneh" 
sama lingkungan sosialnya dan dia dari kecil sudah memiliki pengalaman yang 
berbeda dengan anak lainnya (misal punya sixth sense yang tanpa diasah pun 
sudah sensitif alias gifted kalo boleh dibilang begitu). Dari situ saya mau 
lihat gimana perkembangan konsep dirinya, terkait dengan bagaimana dia selalu 
di judge oleh lingkungannya, bagaimana dia menghadapinya, bagaimana penerimaan 
dirinya yang selalu dicap "aneh" dan indigo.

J = Itu kan oke saja, penelitian kualitatif ya. Banyak menggunakan depth 
interview terhadap beberapa orang yg dipilih sebagai subjects penelitian.

T = Pembimbing saya sih bilang ok, bisa aja, tapi fokusnya pada term 
psikologisnya bukan apa itu indigo dll.

J = Ya, tentu saja fokusnya pada konsep-konsep baku dalam psikologi.

T = Tapi saya takut juga dibantai pas sidang mas gara-gara ga terlalu ngerti 
secara dalem indigo itu apa, haha. Soalnya penjelasan tentang indigo menurut 
saya masih terlalu ngalor ngidul dan banyak batasan dia dikatakan indigo yang 
menurut saya masih ga jelas. yang paling mending batasannya adalah aura indigo, 
spiritualitas tinggi, tergolong cerdas, dan sixth sense. Tapi penjelasan yang 
bener-bener ilmiahnya belum ada, bisa-bisa dibantai karna dibilang sok tau nih. 

J = Berarti anda harus mendefinisikan sendiri "indigo" menurut anda itu apa. 
Misalnya: foto aura yg jelas hasilnya berwarna indigo. Itu saja dipakai sebagai 
satu patokan. Berarti harus ambil sample dari mereka yg pernah di foto auranya.

T = Saya tertarik sama topik ini mas dan saya pengen gitu membuka mata bahwa ya 
mereka ini ada loooh. Bahkan sampe bikin komunitas. Terlepas dari benar atau 
salahnya konsep indigo, apakah itu hanya halusinasi atau schizofren atau autis 
atau ADHD, tapi mereka ya menyebut mereka indigo kan mas?

J = Kita bikin komunitas tentu bisa aja, dan kita bisa menyebut diri apa aja, 
tetapi menurut saya komunitas "indigo" itu sudah jelas komunitas yg paranoid, 
kumpulan anak-anak yg terlalu sensitif terhadap lingkungan dan menjadi 
paranoid. Apakah menurut anda parnologi juga salah satu ciri indigo?

T = Dan saya pengen liat gimana sebenernya konsep diri seseorang yang memiliki 
penghayatan diri sebagai indigo.

J = Setahu saya, orang yg mengaku terus terang sebagai indigo adalah 
manusia-manusia yg sangat naluriah. Nalurinya itu kuat, egonya kuat, dan selalu 
mau MPO blah blah blah... 

Penghayatan diri of course akan berputar di sekitar dirinya sebagai sumber dari 
segala-galanya yg hidup maupun yg mati, kadang-kadang. Di kesempatan lain dia 
akan berkeluh-kesah menyesali nasibnya. Menurut saya, mereka yg mengaku terus 
terang sebagai indigo justru mereka yg bermasalah. 

Belum tentu bermasalah bagi lingkungannya, walaupun sudah jelas bermasalah bagi 
dirinya sendiri. Kalau dia tidak merasa dirinya bermasalah, mengapa dia mau 
menyebut dirinya sebagai indigo?

Dan ada juga mereka yg di-labeli indigo oleh mereka yg ada di sekitarnya, bisa 
oleh orang tua, bisa oleh teman, bisa oleh media massa. Contoh yg paling jelas 
dari anak yg dilabel sebagai indigo adalah Anissa Raisa Putri atau Chacha.

Chacha sekarang berusia 9 1/2 tahun, sudah 5 tahun tidak bertemu dengan saya. 
Dulu, di tahun 2004 kami pernah mengadakan pelatihan kundalini semalam suntuk. 
Dan Chacha akan duduk bersama saya di tengah teman-teman lainnya, semuanya 
orang dewasa. She enjoyed it, dan memang akhirnya jadi makin error karena dia 
semakin senang bergaul dengan orang dewasa, dan semakin tidak mau bergaul 
dengan anak seusianya.

Apakah spiritual? Ya, memang spiritual dalam arti bisa menangkap apa yg ada di 
pikiran kita, dan tidak malu-malu untuk mengatakannya. Tetapi Chacha tidak 
memiliki kemampuan bergaul dengan anak seumurnya, to begin with. Kemungkinan 
besar tidak bisa sekolah biasa sampai sekarang. Dan memiliki celebrity complex 
karena sering ditanggap kesana kemari sebagai seorang anak ajaib yg menurut 
media massa konon bisa bicara Bahasa Inggris dengan fasih tanpa diajarin.

Siapa bilang tidak diajarin? Sebenarnya Chacha pernah di-les-in Bahasa Inggris 
privat selama 8 bulan, dan akhirnya dia tidak mau bicara Bahasa Indonesia dan 
maunya bicara Bahasa Inggris terus, termasuk sama saya. Tapi apakah karena itu 
dia jadi indigo? Kalau jadi indigo dan jadi celebrity, lalu tidak mau sekolah, 
maunya jadi apa?

T = Waktu itu saya sempet loh sms Mas Leo, dan Mas Leo bilang sulit karna 
remang-remang. Yaaaah mas, saya jadi sedih. Lagi bikin bab 1 nih, masih revisi 
dan terus nyari teori atau bahan-bahan tentang indigo yang 
susaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah banget dicari bukunya (cuma dikit dan ga 
nyambung sama apa yang mau diteliti). Puyeng saya, hehe curhat nih mas ampe 
panjang gini.

Y = Ya, memang remang-remang.

T = Dan kalo Mas Leo tahu, foto aura itu gimana sih mas? ada di mana yang 
benerannya dan bisa dipercaya dan harganya berapa ya mas? Karna untuk 
karakteristik subyek yang indigo kan harus ada foto aura. Skripsi yang nekad, 
mudah-mudahan bisa dapet A, haha.

J = Buat foto aura di Klinik Prore Vita di Jakarta Pusat, bisa ditanyakan di 
sana. Di sana juga ada dr. Erwin Kesuma, dokter indigo yg ngajarin anak-anak 
indigo untuk menjadi semakin indigo, pokoknya asik deh, tanya aja sama dia.

T = Okee.. saya udah ada rencana mau ketemu sama dr. Erwin sih mas memang. 
makasi ya mas Leo =)

Eiya, plus... dari apa yang dipaparkan di tulisan mas, ko kayanya mas lebih 
cenderung menganggap indigo itu negatif ya? Kenapa mas? Gimana kalo misalnya 
mereka memang ada? Dan memang Tuhan yang memberikan gift itu pada mereka? Atau 
dengan kata lain, kalo ga percaya Tuhan, sebelum mereka sadar punya eksistensi 
diri dan kesadaran penuh akan dirinya, mereka udah punya kemampuan itu yang 
bisa dilihat oleh orang lain dan tanpa sengaja/ tanpa sadar dilakukan.

J = Well, kalau kita menggunakan konsep indigo yg asli yg asalnya dari AS itu, 
mungkin benar bahwa ada banyak anak-anak yg lahir di tahun 1980-an yg memiliki 
spiritualitas tinggi, dalam arti bisa secara intuitif mengerti hubungan antara 
roh manusia dan roh dari sesuatu yg disebut sebagai Allah.

Tetapi itu konteksnya di luar segala macam agama-agama itu. Kalau dikaitkan 
dengan agama-agama, maka jadinya error karena spiritualitas yg asli itu justru 
bertentangan dengan agama-agama. Agama-agama itu bertujuan agar manusia yg 
biasa-biasa saja bukan semakin pintar malahan semakin bodoh. Kultivasi 
spiritualitas, pada pihak lain, akan menjauhkan manusia dari ajaran agama yg 
membodohi manusia, dan akan lebih memberikan kebebasan bagi manusia untuk 
berani berpikir bagi dirinya sendiri.

Itu spiritualitas yg asli, dan itu memang ada. Banyak anak yg lahir di tahun 
1980-an dan sesudahnya sudah muak dan mau muntah-muntah melihat kelakuan 
orang-orang yg ada di institusi agama-agama itu. Mereka bilang terus terang 
sama saya bahwa mereka muak dan mau muntah karena mereka bisa lihat segala 
macam kemunafikan itu. 

Apakah anak-anak itu indigo? Ya, indigo dalam arti mereka memiliki orientasi 
spiritual atau kerohanian. Dan spiritualitas di situ bukan berarti bisa melihat 
segala macam hantu. Melihat hantu bukan merupakan indikasi bahwa seseorang itu 
spiritual. Anda tidak perlu memiliki spiritualitas tinggi kalau cuma ingin 
melihat hantu saja. Cukup anda tidak makan dan tidur selama tiga hari dan tiga 
malam, saya jamin anda akan melihat banyak hantu. Tetapi apakah artinya anda 
spiritual setelah pengalaman melihat hantu itu? 

So, foto aura bisa dibuat, dan bisa di-artikan bermacam-macam. Itu tidak 
menjadi masalah karena kalau anda sedang nguthek dengan diri anda sendiri dan 
tidak memperdulikan sekitar, maka foto aura anda akan berwarna indigo. Artinya 
anda fokus di diri anda sendiri. Di lain saat ketika anda baru habis lari pagi 
dan ketemu cowok yg oke punya tongkrongannya, foto aura anda akan terlihat 
berwarna merah oranye menyala. Artinya hormon anda terangsang which is tidak 
dosa juga. That's halal, in my opinion.

Nah, hal-hal berkaitan dengan foto aura semuanya mengenai mood, emosi dan 
respirasi, blah blah blah... yg saya nggak ngerti tapi jelas tidak berhubungan 
dengan spiritualitas.

Menurut saya, spiritualitas itu berkaitan dengan hal penerimaan diri sendiri 
dan manusia lainnya tanpa menghakimi, tanpa rasa takut. Kita menerima manusia 
lainnya, dan kita bisa bilang pendapat kita tentang manusia lainnya, dan kita 
bisa pilih jalan hidup yg kita maui.

Cuma itu saja, dan bahkan God atau Allah di situ cuma kata bantu saja. Kita 
bisa bilang bahwa kita konek dengan Yesus, Siwa, Buddha, atau Alam Semesta. Dan 
kita tetap saja akan kultivasi spiritualitas kita, tanpa rasa takut, tanpa 
merasa harus bergiat dalam amal ibadah atawa dakwah dsb... untuk mengumpulkan 
pahala supaya masuk Sorga.

Kalau spiritualitas indigo seperti itu anda bisa terima, maka itu memang 
banyak, bahkan mungkin termasuk anda juga. Banyak yg seperti itu, walaupun 
mayoritas masih takut-takut untuk coming out. Banyak yg takut-takut untuk 
bilang bahwa sudah tidak percaya lagi kepada agama-agama. Indigo itu, kalau 
asli, tetap akan percaya Allah, God, Buddha, Alam Semesta,... whatever, tapi 
jelas tidak akan percaya agama-agama.

Mereka yg indigo asli akan tahu bahwa segala macam kerunyaman di masyarakat 
dibawa oleh agama-agama yg masih dipegang oleh banyak orang. Indigo asli akan 
tahu kenapa orang memegang agama which is karena takut. Ketakutan adalah asal 
muasal penciptaan agama, dan tetap menjadi alasan sehingga orang terus beragama.

Mereka yg indigo asli memang membawa suatu era baru, dan era baru itu adalah 
era di mana manusia akan kultivasi spiritualitasnya sendiri tanpa rasa takut. 
Tanpa takut dicemooh oleh orang-orang yg masih berlindung di balik tembok 
agama-agama dengan melecehkan mereka yg berada di luarnya.

Ada lagi yg bilang bahwa tahun 2012 adalah patokan di mana banyak manusia akan 
terbuka mata batin-nya atau spiritualitasnya yg asli. Nah, spiritualitas asli 
itu akan mulai terbuka ketika orang sadar bahwa kita selama ini telah ditipu 
oleh orang-orang yg berjualan Allah melalui agama-agama itu.

We are free people, kita manusia bebas, kenapa harus mengikuti segala macam 
syariat yg dibuat oleh manusia-manusia lain yg penuh ketakutan itu? Kalau 
mereka takut dan mau berlindung di dalam agamanya, ya silahkan saja, itu urusan 
mereka sendiri. Tetapi kita tahu bahwa spiritualitas kita tidak akan 
terpengaruh, kita tetap saja bisa menjadi diri sendiri tanpa memperdulikan 
mereka yg jualan Allah dan agama-agama itu.

Itulah generasi indigo, apakah anda termasuk?

Leo
@ Komunitas Spiritual Indonesia 
http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia.



Keterangan gambar di attachment:
 
Salah satu adegan dari kisah Harry Potter yg tidak di-publikasi. Foto ini 
diambil dalam pelatihan kundalini di tahun 2004. Saat itu Mas Fajar berputar 
seperti gasing dan tidak bisa berhenti, berputar dan berputar terus karena 
sumber energi-nya terbuka dengan begitu hebat. Lalu kami beramai-ramai menyedot 
energi Mas Fajar yg berkelebihan. Anak kecil yg berbaju hitam itu Anissa Raisa 
Putri (Chacha) yg saat itu berusia 4,5 tahun. Saya di paling kanan, dan VL di 
sebelah kiri saya. 

Mas Fajar lalu menulis wawancara dengan saya untuk feature di LKBN ANTARA, 
judulnya: "Leonardo Rimba, master tarot yang tidak percaya paranormal", dan 
bisa di-akses di link berikut: 
<http://groups.yahoo.com/group/Spiritual-Indonesia/message/21>.


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke