T = Siapakah para feminis itu? Gampangnya, siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki, yang memiliki sensitivitas terhadap perempuan. Artinya, memiliki perspektif yang adil (tidak bias) dalam "memandang" dan memosisikan perempuan di dalam kehidupan ini, untuk kehidupan umat manusia yang lebih baik.
J = Yeee... saya termasuk dunk. Saya ini kan laki-laki yg memperlakukan perempuan sama seperti sesama laki-laki. Bisa diajak bobo bareng, dsb... dan ternyata tidak terjadi hal-hal yg gimana gituh. T = Ada buku yang berjudul "feminis laki-laki", yang nulis namanya Kris Budiman, orangnya eksentrik dan sadis. Dia juga nulis novel, judulnya: "Lumbini". J = Thanks for your info, walaupun saya tidak suka dibilang sebagai "feminis laki-laki". In my opinion, I am also a feminist plain and simple, artinya orang yg membela kesetaraan gender. Feminis bisa perempuan, bisa laki-laki, dan orientasi seksualnya bisa hetero, homo, atawa biseks alias bisa di-eseks. Semuanya oke-oke saja. Kalau harus pakai label sebagai "feminis laki-laki" ntar bisa keberatan kepala sehingga mata ketiganya jadi gimana gituh. Pedahal syarat utama adalah mata ketiga yg ringan sehingga bisa melihat dengan jeli setiap kesempatan dalam kesempitan sehingga bisa HAP, lalu ditangkap. T = Mungkin, perlu dibedakan antara spiritualitas sebagai praktik dan spiritualitas sebagai kajian. J = Sure, memang berbeda. Praktisi dan teoritisi tidak selalu berada di orang yg sama. T = Biasanya, feminis dengan sendirinya seorang humanis. Dan seorang yang humanis, menurut saya, ya, lumayan spiritual juga, terlepas dia sadar atau tidak, melabeli dirinya sebagai seorang yang spiritual atau tidak. J = That's true. T = Biasanya, para feminis yang aktif di dalan gerakan feminisme (aktivis, akademisi, peneliti, praktisi, seniman,... ) paling tidak orang-orang yang saya kenal, baik perempuan maupun laki-laki, mereka sudah "selesai" berasyik-masyuk dengan Tuhan sebagai konsep. J = That's good. Semakin cepat kita bisa selesai berasyik masyuk dengan konsep Tuhan, maka akan semakin baik. Kalau sebentar-sebentar masih mau bicara tentang Tuhan yg tidak jelas juntrungannya, artinya orangnya masih belum oke, masih kelas pemula dalam spiritualitas. Spiritualitas dewasa malah sama sekali tidak lagi bicara tentang konsep Tuhan. We live because we live, just that. T = Dan feminis sendiri memang macam-macam, termasuk yang di Indonesia. Yang latar belakangnya melulu aktivis, menurut saya, punya kecenderungan agak khas: rada-rada arogan gimana gitu sekaligus "lucu". Mungkin saking aktifnya sampai nggak punya cukup waktu untuk membaca buku-buku, tidak sempat memelajari sejarah gerakan perempuan di Indonesia, yang mengalami titik-balik pada tahun '65. Lantas, mana suara mereka? Biasanya, suara arus utama memang lebih kenceng dan gegap gempita, dan bisa menenggelamkan suara minoritas. dan para feminis masihlah minoritas di Indonesia ini. Tapi mereka bersuara, kok, dalam banyak isu dan kasus, baik di tingkat lokal, nasional, regional, maupun internasional. Boleh dicek! J = Ya, suaranya masih kedengaran juga, sayup-sayup, dan dibungkus dengan gaya bahasa tingkat "tinggi" sehingga orang susah mengerti. Coba kalau mereka mau berbicara atau menulis dengan gaya bahasa sehari-hari, pastilah orang akan lebih bisa menangkap apa yg ingin mereka sampaikan. T = Di masa reformasi, lahir "Suara Ibu Peduli" (gagasan yang cerdas dan strategis). Kasus kerusuhan Mei '98, melahirkan Komnas Perempuan, dll. Sementara dari kalangan Islam, lahir para feminis yang mencoba melakukan perubahan dari dalam, seperti yang dilakukan oleh Musdah Mulia, Sinta Nuriyah, Gus Dur, Kyai Hussain Muhammad, Cicik Farkha, juga teman-teman Fatayat dan LKIS, dan lain-lainnya. Dari kalangan Katholik, ada Nunuk Murniati, dan lainnya. Juga Maria Hartiningsih di Kompas (meskipun Mbak Maria lebih universal, bukan mewakilkan dirinya untuk komunitas Katholik). Dan sesungguhnya jauh lebih banyak lagi yang memilih tidak menggunakan jalur agama untuk perjuangannya (sementara yang nongol di kepala baru itu). J = Ya, seharusnya tidak membawa-bawa nama agama. Agama itu bagian dari masa lalu di mana orang-orang merasa bahwa hanya agama mereka saja yg bisa melindungi mereka sehingga menjadi manusia yg bermartabat. Jaman sekarang sudah banyak orang yg mengerti, termasuk kaum perempuan, bahwa ternyata yg terjadi adalah kebalikannya. Banyak agama-agama itu justru melestarikan diskriminasi berdasarkan jender. Wanita ditempatkan di posisi serba salah, pedahal tidak salah. Segala macam argumen dengan alasan "kodrat" dan sebagainya merupakan ciptaan kaum agamis untuk mengekalkan penjajahan kaum pria terhadap wanita. Dan di situ juga ada Tuhan atau Allah yg dibawa-bawa. Pedahal, yg namanya kodrat ataupun Allah juga merupakan konsep saja. Konsep yg dibuat oleh pria untuk melanggengkan otoritas pria atas wanita. Sejarah membuktikannya. Siapa yg membuat ajaran agama tentang adanya sorga dan neraka kalau bukan kaum pria? Siapa yg bilang bahwa wanita harus tunduk kepada pria supaya masuk sorga? Semuanya dibuat oleh kaum pria. Male chauvinism, chauvinisme Laki-laki, itulah yg patut diberantas. Wanita ini mayoritas di seluruh dunia karena jumlahnya lebih banyak daripada kaum pria. Kalau menuruti jumlah, seharusnya kita ini semuanya matriarkal, diatur oleh kaum wanita, dan bukan patriarkal atau diatur oleh kaum pria. Atau, kalau mau fair, lebih baik diberantas saja segala label-label itu, dan kita semua menjadi manusia biasa-biasa saja, tanpa diskriminasi, tanpa perbedaan berdasarkan Suku, Agama, Ras, Golongan, Jenis Kelamin (Jender), Usia, dan Orientasi Seksual. T = Eh, ngomong-ngomong, konon, narsis itu ekspresi spiritualitas yang paling tinggi, hihihi.... J = Iyalah, saya ini apaan kalo bukan narcis? + Leo @ Komunitas Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>. New Email names for you! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

