PERCAKAPAN 1: SAYA TIDAK PERNAH MENGUKUR DERAJAT MANUSIA

 

 

T = Met Pagi Mas Leo,

 

J = Selamat pagi juga.



T = Saya sudah lebih setahun belajar meditasi n reiki, n seperti
tanda-tanda kundalini kayanya sekarang udah terasa, terus sekitar 6
bulan saya ikutan Milis Spiritual Indonesia, sampai-sampai saya koleksi
semua tulisan Mas Leo untuk didiskusikan sama rekan saya.

 

J = Wow, I'm glad you did (sambil tersipu-sipu, muahh.. muahh...), then?

 

T = Terus terang saya salut sama mas. Saya merasa sangat pas n mengerti
dengan cara berfikir Mas Leo tentang nasionalisme n agama yang semuanya
merupakan pembodohan umat manusia. Saya setuju.

 

J = Nasionalisme dan pemikiran agama yg sempit merupakan pembodohan
umat manusia. Itu benar. Kalau kita berpikir bahwa karena kita orang
Indonesia maka kita harus memiliki derajat lebih tinggi atau lebih
rendah dibandingkan dengan orang-orang Barat yg free sex, maka jelas
itu pemikiran nasionalisme yg sempit. Orang mao free sex ataupun tidak
merupakan pilihan, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan derajat.

 

Kalau kita membedakan derajat manusia berdasarkan praktek free sex atau
tidak, maka yg rugi adalah kita sendiri. Apa yg orang lain atau kita
sendiri lakukan di belakang pintu kamar tidur adalah urusan pribadi,
dan tidak ada hubungannya dengan nasionalisme. Tetapi di Indonesia
banyak salah kaprah, dan banyak juga orang yg membodohi orang lain
dengan bilang bahwa kita ini derajat-nya lebih tinggi karena kita tidak
free sex.

 

Pedahal dia nggak tahu aja bahwa kita sendiri dipandang gimana gituh
sama negara-negara lain karena ternyata di Indonesia ini banyak yg
praktek poligami.

 

Idih, kata orang-orang Barat itu, itu para wanita Indonesia kok
derajatnya gimana gituh. Kok pada mao ditakut-takutin sama kata Allah,
sehingga nurut aja waktu suaminya menikah lagi? Kok mao aja dibodohin
sama agama-agama yg ngajarin bahwa kalo wanita nurut saja suaminya
menikah lagi, nanti si wanita akan masuk Sorga, nanti bisa dapet tempat
yg layak di sisi Allah. Kalo nggak mao terima, maka siap-siaplah masuk
Neraka.

 

Nah, saya tidak bilang free sex atau poligami sebagai suatu hal yg baik
atau jelek. Saya tidak menghakimi orang lain, wong bukan urusan saya
kok. Saya kemana-mana cuma bilang bahwa segalanya itu adalah pilihan,
choice. Kalau mao free sex, ya jalanilah, konsekwensinya ditanggung
sendiri. Dan itu tidak ada hubungannya sama sekali sama derajat. Saya
tidak pernah mengukur derajat manusia (emang ada alat ukurnya?).

 

Tetapi saya juga bilang terus terang bahwa ada banyak salah kaprah di
Indonesia yg mungkin dibawa oleh SSE (Status Sosial Ekonomi). Orang yg
status sosial ekonominya rendah paling mudah untuk dibodohi, baik oleh
pemerintah kita sendiri, maupun oleh agama-agama. So, pendidikan is
important. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka kesempatan
buat dibodohin oleh pemerintah kita sendiri semakin mengecil.

 

Agama-agama itu, pada pihak lain, jalannya seperti virus yg tidak bisa
diduga karena walaupun orangnya sudah memiliki pendidikan tinggi, bisa
saja virus agama itu menempel terus sehingga orangnya tidak sadar bahwa
dirinya terjangkit. Ada orang berpendidikan tinggi yg berpikir bahwa
kalau dia berjilbab maka dia termasuk orang suci, at least lebih suci
daripada para PSK (Pekerja Seks Komersial).

 

Saya tentu saja akan ngomong, siapa bilang? Siapa bilang PSK tidak ada
yg pakai jilbab? Jilbab kan cuma mode busana saja, dan orangnya mao
jadi apapun merupakan pilihan orangnya sendiri, dan sama sekali tidak
ada hubungannya dengan hal suci mensucikan. Siapa bilang PSK bukan
orang suci juga? Menurut saya, semua manusia itu suci, apapun yg
dilakukannya. Dia mao jual diri kek, mao jadi istri orang kek, mao free
sex kek, semua manusia itu suci.

 

Di sini tidak ada perbedaan derajat, semuanya sama saja. Semuanya
pilihan saja. Kita semuanya manusia biasa-biasa saja yg mempunyai
pilihan. Apa yg kita mau pilih bisa kita jalani, konsekwensinya
tanggung sendiri-sendiri. Itulah yg namanya prinsip kebebasan
individual dalam bermasyarakat. Kita ini hidup di masyarakat bebas,
free society. Kita bebas menjadi diri sendiri di Indonesia, walaupun
harus saya akui juga bahwa cukup banyak orang yg merasa diri tidak
bebas.

 

Kalau orangnya merasa diri tidak bebas, dan merasa harus mengikuti
aturan yg ditetapkan oleh segala macam orang dengan alasan tidak jelas,
maka itupun merupakan pilihan. Orangnya sendiri yg memilih untuk tidak
bebas, pedahal kalau dia mau, dia bisa saja bebas. Dia bisa membebaskan
diri dari segala macam omongan orang itu dan menjadi dirinya sendiri
saja, kalau dia mau.

 

So, kita tidak bisa menyalahkan orang lain di sini. Kita tidak bisa
menyalahkan pemerintah karena yg namanya pemerintah memang begitu
kelakuannya, selalu berusaha untuk tampil bersih, pedahal tidak bersih.
Kita juga tidak bisa menyalahkan agama-agama, karena agama-agama memang
seperti itu kelakuannya, selalu menjual konsep tentang Allah, lengkap
dengan Sorga dan Neraka yg ditentukan oleh banyaknya amal ibadah.

 

Akhirnya kita akan sadar bahwa segalanya kembali kepada diri sendiri
saja. Ketika kita sadar bahwa apapun yg kita jalani merupakan pilihan,
berarti kita sudah satu langkah lagi lebih maju. Maju kemana? Ke diri
sendiri tentu saja. Kalau kita maju, maka kita lebih maju ke diri
sendiri saja. Semakin lama semakin menjadi diri sendiri saja.

 

T = Terus kembali mengenai meditasi n spiritual yang selama ini saya
pelajari, kira-kira sudah sejauh manakah saya capai mas, sekarang ini
bisa diteropong ga mas? 

 

J = For your information, saya paling benci kalo diminta untuk main
teropong-teropongan dengan alasan yg sangat jelas, yaitu saya tidak
memiliki teropong.

 

T = Hehe n kalo boleh saya mohon petunjuk atau arahan supaya saya tidak salah 
jalan?

 

J = Gak usah dipikirkan anda akan salah jalan atau tidak karena biar
bagaimanapun anda tidak akan salah jalan. Kemanapun anda melangkah,
anda akan melewati berbagai macam jalan yg tidak akan ada
habis-habisnya.

 

Ada banyak jalan dan semuanya menuju ke Roma, kata suatu pepatah kuno.
Ada banyak jalan dan semuanya menuju ke Sorga, kata saya. So, jalan
saja tanpa perlu takut kesasar because sooner or later anda akan masuk
Sorga juga. Baik anda free sex ataupun tidak, sooner or later anda akan
masuk Sorga. Kalo di dunia ini namanya Sorga Dunia, kalo di dunia sana
namanya Nibbana, maybe.





+

 

PERCAKAPAN 2: WE CAN BE HAPPY ANYTIME



 

T = Om Leo (gak apa-apa ya aq panggil om, soalnya takut gak sopan kalo panggil 
nama aja).

 

J = Gak usah takut sebab saya bukan ulama, dan saya tidak akan
menakut-nakuti anda dengan neraka kalau anda tidak mao panggil saya
dengan Leo aja.



T = Aq mungkin baru bisa nangkep sebagian maksud dari notes-notes
facebook om, tapi dari situ saja aq belajar banyak. Karna pada awalnya
aq sama sekali belum pernah tahu dan gak ngerti istilah mata ketiga.

 

Yg aq ingn tahu saat itu hanya bagaimana kita harus memaknai jalan
hidup kita (seperti masalah-masalah yg datang, keberuntungn yg datang
gak terduga, rasa sedih yg dalam, perasaan yg berubah-ubah) agar kita
mencapai suatu essensi 'bahagia' atau mungkin dengan kata lain, kita
menghargai hidup kita apa adanya. Dan bertemulah saya dengan
notes-notes om inì. Banyak ngasih inspirasi.

 

J = Well, I'm glad you did. Lalu anda bertanya bagaimana kita mencapai
suatu essensi "bahagia"? Jawab saya: EGP aja, emang gw pikirin!

 

Kalau anda memikirkan tentang "bahagia", anda tidak akan hidup. Kalau
anda mau hidup, jalani saja segalanya, apa adanya saja, jadi diri
sendiri saja. Tidak usah pikirkan orang lain mao bilang apa. Semua
orang itu berhak kasih komentar tentang hidup anda. Kenapa berhak?
Karena mereka punya mulut. Lalu apa yg anda perlu lakukan? Biarin aja.
Biarin aja mereka ngomong apapun karena mereka memang punya mulut, bisa
memberikan komentar apapun.

 

Tetapi, apakah yg mereka komentari itu sesuatu tentang anda? Jawab:
Tentu saja bukan. Kalau orang lain berkomentar, mostly apa yg mereka
ucapkan itu tentang diri mereka sendiri. Paling itu saja yg bisa saya
sharing dengan anda tentang kiat supaya bahagia.

 

Sering juga saya bilang bahwa happiness is a choice, pilihan. Kalau
kita mau, maka kita bisa bahagia setiap saat. Kalau kita menuntut bahwa
harus ada syariat tertentu yg dipenuhi supaya kita bahagia, maka sampai
kapanpun kita tidak akan bahagia karena yg namanya syariat itu selalu
mencekik. Orang yg menerapkan syariat kepada orang lain itu sifatnya
seperti vampire yg menghisap darah, tidak pernah puas. Baik syariat yg
berasal dari agama-agama maupun syariat yg berasal dari orang itu
sendiri.

 

Kalau anda ingin menerapkan syariat dari orang lain kepada diri anda
sendiri, maka artinya anda merelakan diri anda disedot darahnya
habis-habisan, buat apa? Tetapi memang ada orang yg sifatnya
masochistic, artinya menikmati disakiti. Orang yg masochist akan
mencari orang lain, dalam bentuk ulama, suami, istri, pacar, WIL, PIL,
atasan, dsb... untuk menerapkan syariat kepada dirinya sendiri. Lalu
orang itu akan merasa puas ketika bisa menjalankan segala macam syariat
yg membebani dirinya itu. Lalu orangnya merasa dirinya menjadi orang
suci, kalau syariat yg dipakainya berasal dari agama. Atau orangnya
bisa merasa menjadi WIL idaman, atau PIL idaman,... kalau yg dipakai
adalah syariat perselingkuhan yg menurut saya juga bukan dosa. It's his
or her own life, anyway. Pilihan yg diambil oleh orangnya sendiri dan
sama sekali tidak ada hubungannya dengan dosa yg notebene merupakan
konsep doang yg dipopulerkan oleh agama-agama.

 

Essensi dari kebahagiaan adalah pilihan. Kalau anda mau bahagia, maka
anda bisa bahagia. Kalau anda tidak mau, maka apapun yg anda kerjakan
atau miliki tidak bisa membuat anda bahagia. Apakah anda mau menerapkan
syariat untuk berbahagia? 

 

T = Bener gak sih om kalo aq bilang mata ketiga itu sebenernya
bagaimana kita melihat sesuatu apa adanya? Netral tapi lebih menuju ke
sisi positifnya?

 

J = Betul, memang begitu.

 

T = Trus gmana n bedaìn intuisi sama prasangka kita?

 

J = Intuisi itu datang sendiri, apa adanya saja, netral dan tidak ada
hubungannya dengan kepentingan kita. Kalau kita memiliki kepentingan,
misalnya ingin dipuji, ingin dianggap orang suci, takwa, blah blah
blah... maka yg muncul adalah prasangka.

 

Kalau kita tidak memiliki motif apapun, maka yg muncul adalah intuisi,
pengertian apa adanya saja. Kalau kita ingin menciptakan kesan bahwa
kita orang yg mendalami agama dan dekat dengan Allah, maka pengertian
yg muncul adalah prasangka yg isinya adalah penghakiman. Kita akan
menghakimi bahwa si A itu orangnya tidak pakai jilbab, dan dia pasti
masuk neraka. Atau, si B itu selalu pakai jilbab dan rela suaminya
menikah kembali, sehingga so pasti si B akan masuk Sorga karena
dicintai oleh Allah. Penghakiman seperti itu adalah prasangka dan bukan
intuisi. Prasangka karena kita sendiri sudah tercemar dengan menerima
segala macam cuci otak yg dilakukan oleh para ulama bahwa wanita
harusnya pasrah saja dijajah pria supaya masuk Sorga.

 

Kalau anda selalu menghakimi orang lain dengan bilang benar atau salah,
maka yg masuk ke dalam pikiran anda adalah prasangka. Kalau anda
menerima orang lain apa adanya saja, maka yg muncul di pikiran anda
adalah intuisi.

 

T = Beberapa hari ini aq ikutin saran om untuk tenang saat meditasi. Tapi aq 
ngerasa tidak pernah mendapat penglihatan.

 

J = Penglihatan itu jarang-jarang, saya sendiri sekarang sama sekali tidak 
pernah mendapat penglihatan lagi.

 

T = Yg kerasa cuma seperti sesak di dada sebelah kiri, lalu besoknya
terasa di leher. Apa itu artinya mata ketiga aq belum terbuka om?

 

J = Artinya anda "menangkap" impressi dari orang-orang di sekitar anda
yg mau bertahan di level naluriah. Kalau kita sensitif, kita bisa
menangkap bahwa banyak orang di sekitar kita memiliki rasa sesak di
dada karena mau mempertahankan segala macam syariat, baik berasal dari
agama maupun dari dirinya sendiri.

 

Mereka adalah orang yg ngotot dan ngoyo, dan mereka memiliki beban di
bagian dada dan leher, dan kita bisa langsung merasakannya. Saya
sendiri bisa langsung merasakan orang-orang yg memiliki beban seperti
itu dari tulisan. Orang yg gemar memaki itu bebannya berat. Berat di
dada. Mereka akan memaki dengan alasan bahwa mereka benar dan anda
salah. Atau, mereka akan bilang bahwa mereka benar dan saya salah.
Tetapi, sebenarnya mereka adalah orang yg memiliki beban di dada dan
leher juga, karena mereka hidup berdasarkan prasangka.

 

Makanya saya bilang bahwa, kalau mau, kita bisa melepaskan segala
prasangka itu dan menjadi diri sendiri saja. We can be happy anytime.
Tetapi memang terkadang ada orang yg sudah siap, dan ada juga yg belum.

 

So, anda menangkap impressi dari mereka yg terbeban berat di sekitar
anda ketika anda meditasi. Menurut pengalaman saya, anda bisa
menghilangkan atau menetralkan impressi itu dengan cara menarik ke atas
segala macam rasa sesak di dada itu. Tarik saja segalanya ke atas, ke
arah Kelenjar Pineal di tengah batok kepala anda sehingga segala rasa
sesak di dada itu akhirnya lenyap. I believe that you know already
bahwa Kelenjar Pineal di tengah batok kepala kita adalah God Spot,
tempat kesadaran kita menyatu dengan kesadaran Illahi. Kelenjar Pineal
atau God Spot sering juga disebut sebagai Cakra Mata Ketiga dan
diasosiasikan dengan titik diantara kedua alis mata. Good luck!

 

+

 

Leo

@ Komunitas Spiritual Indonesia 
<http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.



 
Written about an hour ago - Comment - Like


      New Email names for you! 
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke