Rekan-rekan penghuni bumi,

Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim 
kembali mengajak kita semua, penghuni bumi, untuk meniti jalan hening melalui 
WORLD SILENT DAY FOR THE EARTH. 
Ini adalah kampanye yang menghimbau setiap individu berkontribusi mengurangi 
emisi gas rumah kaca yang memicu pemasanan global dan perubahan iklim. 
Ingatlah empat langkah sederhana: 


Sabtu 21 Maret 2009
Hanya Empat jam: Pukul 10 pagi hingga 2 siang 
Matikan peralatan listrik, kurangi penggunaan kendaraan bermotor dan 
aktivitas boros sumberdaya lain, tanam pohon, bina hubungan dengan keluarga, 
rekan kerja, tetangga
Tuliskan pengalaman hening anda ke [email protected]. 
Kampanye hening empat jam adalah langkah awal menuju HARI HENING DUNIA , yang 
diinspirasikan dari Bali. Tanggal 21 Maret adalah ekuinoks utara dan hari 
Kehutanan Dunia, dirangkai dengan 22 Maret yang merupakan Hari Air. Semuanya 
adalah simbol kehidupan. 

Anda juga bisa memilih hari, jam dan cara hening. Yang penting adalah 
berparstisipai dalam upaya menyelamatkan bumi. 
Untuk keterangan lebih lanjut, silakan kunjungi www.worldsilentday.org. Anda 
bisa download 
paperless calendar, ikon WSD, desain poster dan mendapatkan penjelasan lengkap 
tentang kampanye ini. 

Mohon sebarkan kampanye ini kepada relasi, teman, keluarga, kolega dan 
semua orang yang anda kenal. Langkah kecil kita saat ini, bisa amat bermanfaat 
bagi anak-cucu kita di masa depan .

BERI SATU HARI UNTUK BUMI 
BERNAFAS
HARI HENING SEDUNIA – 21 MARETSalam Hening
Tim World Silent Day
Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim
Jl. Pengubengan Kauh no. 94
Kerobokan, Kuta, Bali
Email: [email protected] 



Kolaborasi Bali Serukan Hari Hening Sedunia 
Anton Muhajir - 19 Mar 2009 

Kolaborasi Bali 
untuk Perubahan Iklim (KBPI) terus mengampanyekan World Silent Day (WSD). Senin 
(16/3) lalu mereka kembali menyerukan agar penghuni bumi melakukan hening 
selama 
empat jam pada 21 Maret nanti. 
Aksi tersebut 
diikuti sekitar 20 orang berasal dari berbagai organisasi non pemerintah 
(Ornop) 
yang tergabung dalam KBPI. Di antaranya Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali, 
Yayasan Wisnu, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH), Bali Organic 
Association (BOA), dan Third World Network (TWN). 
Mereka membagi 
brosur kampanye dan menjelaskan bentuk kampanye WSD itu pada pengguna jalan di 
pusat Kota, perempatan Jalan Gajah Mada dan Veteran, Denpasar. Selain itu para 
aktivis KBPI juga membentangkan spanduk besar berisi himbauan untuk hening 
selama empat jam, dari jam 10-14.00 Wita. Hening, di antaranya bisa dilakukan 
dengan tidak menggunakan alat elektronik dan kendaraan bermotor. 
"Hening selama 
empat jam saja, terinspirasi dari kearifan lokal, Nyepi. Kami mengharapkan 
warga 
untuk menghentikan aktivitasnya agar bumi dapat bernafas sejenak," ujar Agung 
Wardana, Direktur Walhi Bali. 
Namun, lanjutnya, 
WSD berbeda dengan Nyepi karena perspektifnya ekologi, penyelamatan lingkungan, 
bukan agama. Menurut Agung persepktif ini perlu dipahami agar orang tidak 
mengasosiasikan WSD pada agama Hindu tapi bersifat universal. 
Untuk 
mengampanyekan WSD ini, Kolaborasi menggalang dukungan publik untuk 
berpartisipasi untuk hening selama empat jam. Di antaranya dengan penggalangan 
dukungan tanda tangan ikut berpartisipasi, melalui online, dan kampanye 
terbuka. 
"Kami terus 
melakukan advokasi agar WSD diterima PBB sebagai salah satu kampanye alternatif 
untuk pengurangan emisi," tambah Agung. 
I Made Suarnatha, 
Direktur Yayasan Wisnu, menambahkan gerakan ini bentuk kedaulatan kampanye 
penyelamatan bumi dari Bali. Implikasi sosial gerakan ini dengan Bali, misalnya 
mengurangi alih fungsi lahan yang sangat berpengaruh pada perubahan iklim 
(climate change). 
"Gaya hidup 
pertanian dari kimia ke organik juga mampu memberikan input dalam pengurangan 
pemanasan iklim," ujar Suarnatha. 
KBPI juga 
menghindari upaya-upaya yang akan memanfaatkan WSD dalam skema perdagangan 
karbon carbon trading, jual beli emisi antara negara maju dan 
berkembang. 
"Yang kita 
perjuangkan climate justice. Kami tidak mau Bali tenggelam. Ini 
social movement penyelamatan pulau-pulau kecil di dunia dari Bali," 
tambahnya. 
Untuk 
mengantisipasi ancaman tenggelamnya pulau-pulau kecil di Bali, KBPI juga 
memulainya dengan melakukan sejumlah penelitian yang dilakukan pelajar di Pulau 
Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. 
KBPI juga 
menggalang dukungan anak muda, mereka yang menjadi aktor mengatasi perubahan 
iklim. 
Kajian awal 
(prelimenary assesment) di Pulau Nusa Ceningan saat ini masih 
dianalisis untuk menjadi action plan penyelamatkan pulau-pulau kecil di 
Bali. "Pemerintah Bali saya harapkan melakukan hal yang sama," kata Hira 
Jhamtani, aktivis TWN. 
"Pada 21 Maret 
nanti kita lihat apakah partai politik dan caleg-caleg yang mendapat jadwal 
kampanye saat itu membuat program atraktif hari hening?" kata Hira. 
Sementara Kepala 
Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bali I Gede Putu Wardana menyebut dukungan pada 
WSD 
dilakukan dengan himbauan mematikan alat elektronik di kantor pemerintah selama 
empat jam. "Diharapkan sejumlah jalan protokol juga ditutup saat itu," 
ujarnya. 
Kampanye WSD 
sendiri sudah dilakukan oleh KBPI sejak pertemuan PBB untuk Perubahan Iklim di 
Bali Desember 2007 lalu. Inspirasi WSD datang dari hari Nyepi yang dilaksanakan 
umat Hindu di Bali setiap tahun sekali. Pada saat Nyepi, semua orang di Bali 
tidak melakukan empat kegiatan utama yaitu tidak bekerja, tidak makan minum, 
tidak bepergian, dan tidak bersenang-senang. 
Menurut 
perhitungan KBPI, matinya aktivitas di Bali selama 24 jam pada saat Nyepi ini 
bisa mengurangi emisi gas rumah kaca setara 20.000 ton CO2. Angka ini diperoleh 
dari banyaknya jumlah kendaraan yang tidak beroperasi di Bali, antara lain 
kendaraan bermotor dan pesawat terbang, dikalikan jumlah konsumsi energi 
mereka. 
http://www.beritabumi.or.id/?g=beritadtl&newsID=B0134&ikey=1


      

Kirim email ke