Salam, Persoalan yang sangat sederhana yang secara sengaja di putar-putar secara tidak cerdas sehingga berbentuk provokasi. Apa sebabnya kelompok Akhmadiah mengaku sebagai minoritas dan sebagainya. Yang paling baik, tidak perlu mengakui sebagai Islam karena memang menyimpang dari Islam.Dan apapula kebanggaannya mengaku sebagai Islam? Wasalam, Wal Suparmo
--- Pada Ming, 5/4/09, si Brewok [0_-] <[email protected]> menulis: Dari: si Brewok [0_-] <[email protected]> Topik: [Mayapada Prana] Minor Kepada: [email protected] Tanggal: Minggu, 5 April, 2009, 3:19 AM Orang Ahmadiyah itu gugur tertembus peluru pada hari Kamis, 24 Februari 1966 ketika menentang tirani Orde Lama. Sejarah kemudian mengenalnya sebagai Arief Rahman Hakim, dan dicatat sebagai Pahlawan Ampera. Taufik Ismail dalam "Salemba" mengenangnya dengan berseloroh : Anakmu yang berani / Telah tersungkur ke bumi / Ketika melawan tirani. Mohammad Moehyidin adalah orang Ahmadiyah lain yang diculik Belanda dan tidak ketahuan rimbanya hingga kini. Pada 1946 ia diangkat sebagai sekretaris panitia perayaan kemerdekaan RI yang pertama dan berencana memegang bendera merah putih di barisan depan. Malang ia raib delapan hari sebelum perayaan proklamasi dilaksanakan. Sejarah itu adalah fakta betapa tingginya nasionalisme orang Ahmadiyah, yang sudah barang tentu bukanlah monopoli kelompok ini. Seperti halnya tidak setiap orang dalam kelompok tertentu adalah nasionalis, maka tidak setiap orang Ahmadiyah juga adalah nasionalis. Nasionalisme bukanlah paham yang sempit. Ia milik mereka yang telah keluar dari kotak-kotak kelompoknya menuju paham kebangsaan yang meluas dan merangkul semua. Perjuangan kemerdekaan RI tidak bisa dipisahkan dari peran penting Ahmadiyah. Surat-surat kabar nasional dan luar negeri merekam perjuangan mereka dengan baik. Soekarno bahkan mengapresianya dalam bukunya `Di Bawah Bendera Revolusi' (jilid I). di halaman 389 : "Ia (Ahmadiyah) pantas menerima salut penghormatan dan pantas menerima terima kasih. Salut penghormatan dan terima kasih itu, marilah kita ucapkan kepadanya di sini dengan cara yang tulus dan ikhlas." Namun, Ahmadiyah kini minoritas di negeri ini dengan nasib yang tidak beruntung. Jasa-jasanya pada negara seakan dilupakan orang. Ia menjadi semacam mangsa empuk yang terus diburu kawanan pemangsa. SKB 3 Menteri dan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah ironi. Menjadi bahan bakar yang memberi energi kelompok lain yang hendak meminggirkannya, bahkan memusnahkannya. Ironi, karena kelompok yang berkutat fanatisme di negeri ini dibiarkan menyulap hukum seperti di tengah belantara hutan. Ironi, karena kelompok yang tidak punya andil dalam perjuangan kemerdekaan RI dibiarkan merongrong keutuhan negara yang telah susah payah dibangun. Ironi, hanya karena perkara tafsir agama maka mereka yang berjasa bagi negara disingkirkan. Ironi, karena betapa negara ini gagal melindungi warganya dalam beragama dan berkeyakinan. Pembiaran-pembiaran itu membisikkan bahwa negara telah kalah. Kitab suci al-Qur'an dalam al-Rum menyebutkan bahwa beragama dan bertuhan merupakan fitrah manusia sehingga manusia memiliki keinginan dan kebebasan untuk mengetahui Tuhannya. Kebebasan dan keinginan ini tidak bisa dibendung oleh pemahaman atau tafsir orang lain, termasuk tafsir negara dan lembaga keagamaan. Ayat lain dalam al-Qur'an membeberkan bagaimana kala itu Ibrahim yang mencari Tuhannya tanpa terkontaminasi mainstream kaumnya. Maka kebebasan dalam pengertian di atas, menjadi pilar dalam beragama (QS 2: 256). Ana inda dlanni abdi bi, maka manusia bebas mendefinisikan Tuhan, karena Dia berada dalam sangka baik hamba-Nya. Ketika pemerintah meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik dalam Undang-Undang No 12 Tahun 2005, maka anehnya yang terjadi di lapangan adalah minoritas dilemahkan dan didiskriminasi. Anak-anak kecil dari keluarga Ahmadiyah, disekolah mendapat tekanan dari guru-gurunya. Penganut Ahmadiyah terusir tergusur menderita kerugian materi dan immateri. Masjid mereka disegel dan dibakar. Demonstran yang dibayar murahan dengan kisaran rupiah 20 ribuan per kepala menentang Ahmadiyah dimana-mana. Nasib yang hampir sama dialami penganut Syiah, Eden, al-Qiyadah, Tionghoa dan minoritas lain. Betapa getirnya menjadi minoritas ini, entah itu minoritas agama, suku, ras, dan ekonomi, karena acapkali dilemahkan. Betapa nelangsa sudah minoritas seringkali dikorbankan. Layaknya teori Survival of The Fittest, meyakinkan bahwa minoritas secara alamiah akan terpinggirkan. Maka betapa perlunya menjaga, menghormati yang minoritas ini, karena mereka rawan terpinggirkan. Riset Lembaga Survei Indonesia menunjukkan, dukungan publik kepada Pancasila sebenarnya masih sangat besar. Sekitar 83% dari 150 juta populasi orang dewasa mendukung Pancasila dan Undang-Undang Dasar. Mereka yang menentang keduanya hanyalah minoritas, sekitar 5,3% atau 7,95 juta orang. Namun jangan salah, minoritas yang menentang Pancasila dan Undang-Undang Dasar di negeri ini, adalah minoritas bersuara keras yang bersikeras hendak menyingkirkan yang lain. Polah minoritas fasis yang senantiasa mengatasnamakan mayoritas dan Tuhan ini telah menyandera bangsa dan negara. Tuhan memang sebatas dibicarakan padahal seseorang tidak pernah mengenal-Nya dengan cara peminggiran dan penistaan orang lain. Ketika Baginda Nabi Saw bersabda, "Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu (Barang siapa mengetahui dirinya, maka ia mengetahui Tuhannya) berarti seorang manusia harus mengenal kemanusiaannya supaya bisa mengenal Tuhan. Bagaimana bisa mengenal-Nya dengan menyingkirkan sesama manusia? [] Arief Rahman 4 April 2009 ------------ --------- --------- Tanggapan atas notes ini di Facebook: Simon Charlie at 4:42pm April 4 Negara demokrasi terbesar pertama - AS- dahulu,Presiden AS pertamanya (1789) - George washington - memiliki seorang budak dengan kulit berwarna, sekarang seseorang dengan kulit berwarna telah menjadi Presiden AS. Negara demokrasi terbesar kedua, -India - telah memiliki Presiden Muslim diantara mayoritas penduduk Hindunya. Negara demokrasi ketiga terbesar, Indonesia,.. sebenarnya sudah jauh mengenal dan memeluk perbedaan, Sutasoma abad ke-14 hanya menulis ulang saja, "Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa"...... Read More So, kapan giliran kita ..saat minoritas dan mayoritas bercampur dalam satu lagu yang sama, entah itu jazz dengan nada mayornya ato classic dengan flat minornya..sehingga yang ada hanya simfoni,..bukan perbedaan apalagi yang meneteskan darah... Yaya Haryadi Alsar at 4:58pm April 4 kita ini terlalu lama hidup dalam kegelapan, sehingga kita tidak mengerti bagaimana melayani cahaya, sehingga kita tidak becus mengurusi bagaimana cahaya terang.. bahkan, kita tak becus membedakan mana nasi dan tinja (Emha Ainun Nadjib) Rahmad Iriansyah at 5:09pm April 4 seorang guru sufi berkata "ketika kau memasukkan agama ke dalam politik maka yang terjadi adalah WC..." Iwan Safrian at 6:03pm April 4 setuju pak, sulit utk mengapresiasikan ketuhanan,bila msh tersekat-sekat. Protona Findo at 8:36pm April 4 Arief Rahman memang hatinya Ciamik. I like you Bro.Pemikiran mu memang brilliant. Joseph Mahmud Darzad at 8:57pm April 4 sejak kapan nusantara dan kemudian indonesia..terpilah pilah sosial secara agama??...hapuskan agama dlm KTP..sekaramg juga Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser. Dapatkan IE8 di sini! http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

