Renungan Malam Paskah: Kej
1:1-2:2; Kel 14:15-15:1; Yeh 36:16-17a.18-28; Rm 6:3-11; Mrk 16:1-7
“Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan, Ia
telah bangkit”
"Jangan
takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit.
Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. Tetapi
sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia
mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan
melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu."
(Mrk 16:6-7)
“Rahasia Paskah mempunyai dua sisi: Dengan kematianNya Kristus
membebaskan kita dari dosa, dengan kebangkitanNya Ia membuka pintu masuk menuju
kehidupan baru. Hidup baru ini pada tempat pertama adalah pembenaran,
yang menempatkan kita kembali dalam rahmat Allah. ‘supaya seperti Kristus telah
dibangkitkan dari antara orang mati…demikian juga kita akan hidup dalam hidup
yang baru” (Rm 6:4). Pembenaran terletak dalam kemenangan atas kematian yang
disebabkan oleh dosa dan dalam keikutsertaan dalam rahmat. Ia melaksanakan
penerimaan
menjadi anak Allah, karena orang-orang menjadi saudara-saudara Kristus.
Yesus sendiri, sesudah kebangkitanNya, menyapa
murid-muridNya dengan perkataan saudara: ‘Pergilah dan katakanlah kepada
saudara-saudaraKu…’ (Mat 28:10; Yoh 20:17). Kita adalah saudara-saudariNya
bukan atas dasar kodrat kita, melainkan oleh anugerah rahmat, karena hidup
sebagai anak angkat ini benar-benar menyertakan kita dalam kehidupan PuteraNya
yang tunggal, hidup yang nyata sepenuhnya dalam kebangkitanNya” (Katekismus
Gereja Katolik 1993, no 654).
Kematian
dan kebangkitan bagaikan mata uang bermuka dua
Kematian Yesus di kayu salib dan
kebangkitanNya dari mati bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun
tak dapat dipisahkan. Saat Ia wafat, mempersembahkan Diri seutuhnya kepada
Allah Bapa yang mengutus pada saat itu juga Ia masuk ke dalam hidup baru, hidup
mulia kembali di sorga, sebagaimana pernah Ia sabdakan kepada salah satu
penjahat yang disalibkan bersamaNya dan bertobat: “Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada
bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43). Penjahat yang
bertobat itu pada saat ia meninggal dunia/mati pada saat itu juga memperoleh
anugerah Allah, hidup mulia di dalam Firdaus, di dalam sorga.
“Dengan kematianNya Kristus membebaskan kita dari dosa, dengan
kebangkitanNya Ia membuka pintu masuk menuju kehidupan baru”. Pada malam ini
kita mengenangkan
kebangkitanNya, yang berarti kita bersama-sama diundang untuk memasuki kehidupan
baru, sebagai ‘anak-anak Allah’, meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus.
Kita dipanggil untuk memperbarui hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita, yang
telah dicemari atau dikotori oleh dosa-dosa kita. “Aku akan menguduskan nama-Ku
yang besar yang sudah dinajiskan di
tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan
bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan
ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa.
Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari
semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu” (Yeh 36:23-24). Kita
dipanggil untuk menanggaapi secara positif ajakanNya untuk berkumpul kembali ke
‘tanah terjanji’, hidup bahagia dan mulia di sorga.
Hidup bahagia dan mulia di sorga yang dijanjikan kepada
kita tersebut kiranya telah dapat kita cicipi atau nikmati selama hidup di
dunia ini, yaitu dengan membebaskann diri dari dosa dan memeluk kehidupan baru,
sesuai dengan kehendak dan panggilan Tuhan. Secara liturgis hal ini di dalam
Perayaan Malam Paskah dikenangkan dengan liturgi pembaharuan janji baptis ,
dimana kita bersama-sama memperbarui janji untuk “hanya mengabdi Tuhan Allah
saja serta menolak semua godaan setan”. Mengabdi
Tuhan Allah dan menolak semua godaan setan bagaikan mata uang bermuka dua,
seperti mengarahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan Allah dan menolak untuk
berbuat jahat atau berbuat dosa. Jika hati kita sepenuhnya diarahkan kepada
Tuhan Allah pasti secara otomatis dikuasai atau dirajai, dan dengan demikian
“Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh
yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras
dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”(Yeh 36:26). Hati kita akan
meneladan Hati Yesus yang lemah lembut, rendah hati serta terbuka lebar bagi
siapapun yang merindukan atau mendambakan Tuhan. Kita akan menjadi orang yang
bermurah hati, memberi perhatian kepada saudara-saudari kita.
“Sekarang
pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului
kamu ke Galilea; di sana kamu
akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu."
(Mrk 16:7)
“Demenyar” adalah singkatan dari ‘demen sing anyar’ = suka apa-apa yang baru.
Apa-apa yang baru pada
umumnya menarik perhatian dan memikat, demikian juga ketika kita memiliki
apa-apa yang baru pada umumnya juga tergerak untuk menceriterakan atau
menyebarluaskan kepada saudara-saudari kita. Kita telah dianugerahi hati baru,
kehidupan baru dan seperti para wanita yang menjadi saksi kebangkitan Yesus
kita juga diundang “Pergilah, katakanlan
kepada murid-muridNya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu di Galilea; di sana
kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah
dikatakanNya kepada kamu”
Galilea adalah tempat tinggal para murid, dimana mereka
hidup dan mengerjakan tugas pekerjaan sehari-hari. Galilea kita adalah
rumah/keluarga dan tempat kerja/belajar, dimana mayoritas waktu dan tenaga kita
boroskan di dalamnya. Ia mendahului kamu masuk ke dalam keluarga atau tempat
kerja/
belajar, maka “Jangan takut masuk ke
dalam atau pulang kembali ke keluarga dan sebaliknya meninggalkan keluarga
menuju ke tempat kerja/belajar”. Marilah kita buka hati kita lebar-lebar
dan juga mata kita untuk melihat dan menangkap kehadiran Tuhan yang telah
mendahului perjalanan dan keberadaan kita
di dalam keluarga maupun tempat
kerja/belajar, tanpa takut dan gentar, was-was atau curiga. Dengan kata lain
hendaknya dengan gemibra, ceria, dinamis serta penuh harapan memasuki
rumah/keluarga, tempat kerja atau belajar. Mulailah, awalilah segala sesuatu
dengan gembira, ceria dan penuh harapan.
Dalam dan dengan hati baru, gariah, ceria dan penuh
harapan marilah kita “memandang bagaimana
Allah tinggal dalam ciptaan-ciptaanNya: dalam unsur-unsur , memberi ‘ada’nya;
dalam tumbuh-tumbuhan, memberi daya tumbuh; dalam binatang-binatang, daya rasa;
dalam manusia, memberi pikiran; jadi Allah juga tinggal dalam aku, memberi aku
ada, hidup, berdaya rasa dan berpikiran. Bahkan dijadikan olehNya aku bait-Nya,
karena aku telah diciptakan serupa dan menurut citra yang Mahaagung” (St
Ignatius Loyola, LR no 235). Dengan kata lain kita dipanggil untuk menemukan
Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan, dan
dengan demikian kita akan mampu meneladan Yesus yang menyapa dan memperlakukan
para murid sebagai saudara-saudariNya, kita dapat menyikapi dan memperlakukan
siapapun dan apapun sebagai saudara dan saudari. Jika kita telah mampu
menyikapi dan memperlakukan siapapun dan apapun sebagai saudara atau sahabat,
maka tidak ada ketakutan sedikitpun untuk meninggalkan rumah/keluarga pergi
ketempat kerja/belajar dan sebaliknya pulan dari kerja/belajar untuk pulang ke
rumah/keluarga.
“Allah tinggal dan berkarya dalam seluruh ciptaanNya, dan
tentu saja terutama dan pertama-tama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai
dengan citra atau gambar Allah. Maka marilah kita sikapi dan perlakukan diri
kita maupun saudara-saudari kita sebagai citra atau gambar Allah. Sebagai
gambar atau citra Allah berarti Roh Allah hidup dan bekerja dalam diri kita
yang lemah dan rapuh sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan
buah-buah Roh seperti: “kasih, sukacita,
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri.”(Gal 5:22-23). Marilah kita hayati keutamaan-keutamaan
sebagai buah Roh tersebut dalam diri kita sendiri serta kita cermati dan imani
buah-buah Roh tersebut dalam diri saudara-saudari kita.
“Kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa,
satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi
Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi
dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rm 6:10-11)
Pembaruan janji baptis yang kita ikrarkan bersama-sama
pada Malam Paskah ini merupakan ajakan atau panggilan untuk menghayati
peringatan Paulus “bahwa kamu telah mati
bagi dosa, tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus”. Ini dari janji baptis
adalah “hanya mau
mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan”. Mengabdi Tuhan
Allah berarti kita senantiasa hidup dalam dan oleh “kasih, sukacita, damai
sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan,
kesetiaan, kelemahlebutan, penguasaan diri”, sedangkan godaan setan antara
lain berupa “percabulan, kecemaran, hawa
nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah,
kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan,
pesta pora dan sebagainya” (lihat Gal 5:20-23). Maka baiklah kutipan surat
Paulus kepada umat di Roma di atas kita renungkan atau refleksikan dengan
bantuan kutipan surat Paulus kepada
umat di Galatia
di atas ini.
“Kamu telah mati bagi dosa”
Dosa-dosa seperti percabulan
dst.. sebagaimana dikatakan Paulus di atas rasanya masih marak dilakukan orang
pada masa kini. Sebagai contoh adalah marah,
mengingat marah ini rasanya menjadi sumber dari dosa-dosa lainnya. Marah
berarti melecehkan atau merendahkan yang lain, bahasa marah yang paling lembut
adalah mengeluh/menggerutu, sedangkan paling kasar adalah membunuh. Yang
menjadi dorongan atau alasan mengeluh adalah
segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera pribadi, dengan kata lain orang
hidup menurut selera pribadi atau berpedoman like and dislike, sehingga segala
sesuatu yang tidak sesuai dengan
selera pribadi adalah musuh.
Bukankah ketika orang tidak berani atau tidak mungkin
mengungkapkan atau mewujudkan keluhan atau kemarahannya kepada yang menyebabkan
ia marah atau mengeluh, kemudian mengarahkan keluhan dan kemarahannya dengan
memuaskan diri sendiri, yang nikmat dan enak untuk sesaat, misalnya berbuat
cabul atau mabuk-mabukan atau pesta pora? Maka matikanlah, hapuslah aneka macam
bentuk keluhan atau kemarahan yang ada dalam diri anda!. Ketrampilan atau
kebiasaan untuk tidak mengeluh atau marah ini hemat saya perlu diusahakan dan
dihayati dalam kehidupan bersama yang mendasar, yaitu di dalam keluarga atau
komunitas, dan kemudian di tempat kerja dengan rekan kerja. Marilah kita hidup
bagi Allah dalam Kristus Yesus, meneladan cara hidup dan cara bertindak atau
menghayati sabda-sabda Yesus dalam hidup sehari-hari.
“Kamu hidup bagi Allah dalam Kristus
Yesus”
Sabda Yesus yang terkait dengan marah adalah “Kamu telah mendengar firman:
Kasihilah
sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah
musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:43-44).
Menghayati sabda Yesus ini hemat
saya sama dengan melakukan apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di
Galatia,
yaitu hidup dalam Roh sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan
buah-buah Roh seperti: “kasih, sukacita,
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri.” (Gal 5:22-23)
Dari buah-buah Roh di atas ini rasanya yang baik kita
renungkan atau refleksikan adalah “penguasaan
diri”. Diri kita masing-masing
adalah ciptaan Allah yang diciptakan sesuai dengan gambar dan citraNya, maka
ajakan untuk menguasai diri harus dihayati bersama Allah, sesuai dengan
kehendak Allah. Kehendak Allah bagi kita semua adalah agar kita senantiasa
hidup suci, baik, berbudi pekerti luhur, sehingga tumbuh berkembang semakin
dikasihi oleh Allah maupun sesama manusia. Dengan kata lain orang yang mampu
menguasai diri berarti semakin dikasihi oleh banyak orang, semakin memiliki
banyak kenalan berarti semakin banyak sahabat.
Untuk membantu keterampilan penguasaan diri antara lain
hendaknya senantiasa berpikir positif terhadap diri sendiri maupun orang lain,
sebagai tanda bahwa kita hidup dari dan oleh Roh. Maka warta gembira malaikat
kepada para perempuan di makam“ Pergilah,
katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke
Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah
dikatakan-Nya kepada kamu” dapat
kita hayati dengan berkata-kata perihal apa yang baik dan benar dan kita
senantiasa bersikap dan bertindak untuk
melihat dan mengakui apa yang benar dan baik. Bukankah dengan melihat dan
mengakui apa yang benar dan baik akan tumbuh berkembang “kasih, sukacita, damai
sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlebutan,
penguasaan diri” dalam diri kita?
Mengenangkan dan mengimani misteri Paskah, wafat dan
kebangkitan Yesus, berarti kita dipanggil untuk bekerjasama atau bergotong
royong dalam melakukan apa yang baik dan benar. Memang untuk melakukan apa yang
baik dan benar pada masa kini tidak akan terlepas dari aneka macam tantangan
dan hambatan Jangan takut dan gentar
menghadapi aneka tantangan dan hambatan, dan marilah meneladan para perempuan
yang “pagi-pagi
benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke
kubur” tanpa takut dan gentar. Dari
peristiwa kebangkitan Yesus dari mati ini kiranya kita dapat mawas diri bahwa
kelemahan dapat menjadi kekuatan dan
sebaliknya kekuatan dapat menjadi kelemahan. Dalam situasi genting pada
umumnya yang berani tampil bebas merdeka adalah mereka yang dipandang atau
dinilai lemah dalam situasi normal atau biasa, sedangkan yang dinilai kuat
bersembunyi, tidak berani tampil. Bukankah untuk membersihkan apa yang kotor
dan amburadul kita sering lebih minta bantuan dari mereka yang dinilai lemah
seperti para pembantu atau pekerja kasar? Kuburan atau makam sering menjadi
tempat yang menakutkan untuk sementara orang. Dalam arti tertentu juga ada orang
yang menakutkan alias disikapi sebagai kuburan atau makam, maka marilah kita
dekati dan sikapi orang-orang yang menakutkan dengan keutamaan-keutamaan
sebagai buah Roh, yaitu “kasih, sukacita,
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlebutan,
penguasaan diri”!
“SELAMAT
PASKAH,
MARILAH
KITA BANGKIT DAN BERGAIRAH DALAM KASIH, SUKACITA, DAMAI SEJAHTERA, KESABARAN,
KEMURaHAN, KEBAIKAN, KESETIAAN, KELEMBUTAN DAN PENGUASAAN DIRI”
Jakarta, 11 April 2009
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/