Mungkin telah tiba saatnya bangsa ini harus mengamati secara seksama dan
menimbang tentang negara mana saja yang sungguh-sungguh tulus hendak
membangun persahabatan dengan negara kita dalam prinsip
kesalingtergantungan yang menguntungkan bersama, dan negara mana saja
yang seakan bersahabat dan nampak saleh namun justru menikam dari
belakang.

Terhadap jenis "sahabat" yang belakangan itu, bangsa ini harus
cukup nyali untuk bersikap tegas. Barangkali pemutusan hubungan
diplomatik terasa terlalu mewah dan bisa menimbulkan dampak yang rumit.
Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling
kenal mengenal. Dalam konteks ini, maka terhadap negara lain yang
memusuhi NKRI dan Pancasilanya sekalipun, bangsa kita hendaknya tidak
memutuskan silaturahim untuk tetap saling mengenal. Untuk mengalahkan
musuh bangsa, maka tentunya bangsa ini harus mengenal dengan baik
kelemahan dan keunggulan yang dimiliki musuhnya. Untuk menyadarkan musuh
bangsa, maka negara kita harus berani memberikan pelajaran berharga
kepada mereka sesuai dengan "bahasa" yang mereka pahami.

Terinspirasi perjuangan Mahatma Gandhi dengan Gerakan Nasional Indianya,
maka kini para aktivis Palestina di 50 desa di bagian utara West Bank
memutuskan untuk melakukan kampanye boikot terhadap produk-produk
Israel. Ini merupakan langkah yang sangat menngembirakan yang sejak lama
dinanti-nanti para pejuang nirkekerasan di seluruh dunia. Pemboikotan
ini pula yang mampu mengakhiri rezim apartheid di Afrika Selatan, dan
merupakan langkah yang strategis bagi rakyat Tibet untuk meraih
kemerdekaan dari Cina.

Palestina yang dijajah Israel, dan Tibet yang dianeksasi Cina, yang
sedemikan kasat mata telah merenggut ribuan nyawa dan melenyapkan harta
benda mereka mungkin sepintas terlihat berbeda dengan nasib bangsa kita.
Setelah lepas dari tiga setengah abad dijajah secara fisik mental oleh
Belanda dan sekutunya, rupanya penjajahan masih mencengkram bangsa ini
hingga detik ini. Namun penjajahan dalam bentuknya yang lain, penjajahan
budaya.

Penjajahan atau invasi budaya yang amat menonjol dinilai sejumlah
kalangan, tokoh bangsa, pengamat dan akademisi kita adalah Wahhabisasi.
Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa secara budaya bangsa kita sedang
diserang budaya negara asing, agar bangsa ini melupakan sejarah dan
budayanya. Saudi yang menganut ideologi dan garis iman Wahhabisme
dicurigai beberapa kalangan yang kemudian dibuktikan dalam studi ilmiah
berada dibalik serangan budaya tersebut. Untuk menyukseskan agendanya di
Indonesia, maka dengan getol Saudi mendanai beberapa penerbitan
buku-majalah ideologis, sejumlah aktivitas organisasi massa (ormas)
Islam radikal, sejumlah parpol berbasis agama, Islamic Centre, pesantren
dan merekrut orang-orang Indonesia yang memiliki jabatan strategis di
pemerintahan sebagai agen mereka.

Menghadapi invasi budaya Saudi tersebut, selain membangun pertahanan
non-militer, yaitu pertahanan budaya dengan membenahi institusi
pendidikan kita, maka dalam menghadapi Saudi dan sekutunya bangsa kita
harus menggunakan bahasa yang sama dengan mereka, yaitu bahasa materi.
Pemboikotan produk-produk Saudi merupakan langkah yang mungkin patut
dipertimbangkan. Indonesia yang memiliki penduduk beragama Islam
terbesar di dunia merupakan konsumen yang menggiurkan bagi produk barang
dan jasa Saudi, dan juga merupakan sasaran yang strategis bagi
berkembangnya paham Wahhabisme yang ekspansionis itu.

Produk jasa Saudi yang nyata dinikmati warga kita adalah pelayanan
ibadah umrah dan haji yang didorong motif ekonomi belaka. Jumlah jamaah
haji Indonesia yang tiap tahun di atas 200.000 orang merupakan sumber
devisa rutin yang lumayan bagi Saudi. Ibadah umrah dan haji pun rupanya
sudah dipandang sebagai bisnis korporasi yang menggairahkan syahwat.

Di tengah terpuruknya ekonomi bangsa kita dan kelumpuhan di pelbagai
lini, ironisnya banyak di antara jamaah haji tersebut yang bahkan telah
berhaji berkali-kali. Sungguh merupakan fakta yang sangat
memprihatinkan, padahal tak satu pun ayat suci yang menyuruh orang
melaksanakan haji berkali-kali, sementara permasalahan bangsa masih
segudang di depan mata. Nabi Saw yang berkesempatan beribadah haji tiga
kali (8, 9 , dan 10 H), namun ia menjalaninya hanya sekali, yaitu haji
perpisahan (haji wada') pada 10H. Nabi Saw juga berkesempatan umrah
ribuan kali, namun ia hanya melakukan umrah sunah tiga kali dan umrah
wajib bersama haji sekali saja.

Entah motif apa yang mendorong sebagian warga kita berulangkali pergi
haji dan umrah hingga belasan kali, namun yang jelas apa yang mereka
lakukan telah menguntungkan kas Saudi. Kas Saudi yang mendanai ekspansi
Wahhabisme di seluruh dunia sebagian besar berasal dari minyak yang
dalam waktu kurang dari 100 tahun akan habis. Mereka sedang sibuk
mencari sumber dana yang lain. Sementara dana dari kegiatan umrah dan
haji warga Indonesia pula yang kemudian mereka gunakan untuk menghantam
Indonesia.

Syariat atau Dharma bagi manusia yang sadar adalah bertindak sesuai
kesadarannya untuk menegakkan kebajikan. Hemat saya, memboikot
produk-produk Saudi, termasuk menghentikan derasnya kegiatan umrah dan
haji yang sedemikian rupa menguntungkan Saudi merupakan tuntutan Syariat
atau Dharma yang saat ini harus ditunaikan. Mungkin sebagian kita
berdalih, kendati Saudi tidak menerima lagi keuntungan materi dari umrah
dan haji jamaah Indonesia, toh Saudi pasti masih bisa menerimanya dari
jamaah negara-negara lain.

Pandangan saya, biarlah manusia yang tidak sadar melakoni perannya,
demikian halnya bagi mereka yang sadar. Biarkan yang tidak sadar terus
beribadah umrah dan haji hingga ribuan kali sekalipun tanpa peduli untuk
apa dana itu nantinya dibelanjakan Saudi. Itulah Syariat atau Dharma
manusia yang tidak sadar, maka ia bersekutu dalam ketidaksadaran, akan
tetapi manusia Indonesia yang sadar hendaknya tidak bersekongkol dengan
kezaliman, dengan ketidakwarasan. Sebagaimana dikatakan dalam
al-Qur'an, "Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa,
dan janganlah tolong-menolong dalam kejahatan dan permusuhan." Nah,
beranikah bangsa kita yang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap
minyak Saudi itu, keterpanaan terhadap rupa-rupa "kesalehan"
Saudi dan kroninya itu menghentikan kegiatan umrah dan haji dan
pengiriman jamaahnya ke sana? Mudah dikatakan namun sulit diwujudkan,
bukan? []

Arief Rahman
27 April 2009

-------------------------------------
Arief Rahman's NotesFrans. Nadeak
<http://www.facebook.com/s.php?k=100000080&id=1503302912>  at 5:34am
April 27Pemikiran yang menjernihkan. Terima kasih!

Erfen Gustiawan Suwangto
<http://www.facebook.com/s.php?k=100000080&id=1023848844>  at 5:51am
April 27Secara logis mrp ide yg sgt baik. Tp krn myangkut penunaian
kwajiban agama,  maka sy tdk brani komentar:-)

Jopja Jaya <http://www.facebook.com/s.php?k=100000080&id=602636092>  at
6:47am April 27nehi..nehi..thanks infonya

Yudhi S Indrapraja
<http://www.facebook.com/s.php?k=100000080&id=1527987729>  at 7:10am
April 27antara yg pengen boikot dan pengen terus dijajah banyak yg masih
pengen dijajah....
mungkin mesti pelan2 diberi pengertian oleh yang sudah sadar dalam
kehidupan sehari2..

Moch Athar <http://www.facebook.com/profile.php?id=1311202034>  at
7:31am April 27Boikot, saya rasa berlebihan...

Mohamad Ridwan <http://www.facebook.com/s.php?k=100000080&id=1343813250>
at 7:44am April 27klo di boikot gmna dong depag..dan biro2 penyelenggara
haji & umroh.....

Bustanus Salatin <http://www.facebook.com/profile.php?id=1256104492>  at
8:33am April 271. minimal haji dibatasi..1x hitung2 hemat devisa dalm
bentuk tabungan masyarakat..;-)
2. reformASI PENGERTIAN HAJI ALA SITI JENAR ATAU RUMI,BAHWA HAJI ADLAH
PENGUASAN ATAS HATI..QALBU MUKMIN ARSYILLAH

Karen Hukom <http://www.facebook.com/s.php?k=100000080&id=1558186051> 
at 9:32am April 27hohoho...yach mdh2n teman2 yg pd sdh pernah haji
maupun umrah bisa lbh bijak menanggapi tulisan ini, sy sendiri jg sering
binun....bisa2nya sso " berkali kali " ke sana pdhal jika berbagi pd
sekelilingnya yg mungkin tak terpikirkan bisa kesana, bukakah dunia ini
menjadi lebih indah....

Dedy Muller <http://www.facebook.com/profile.php?id=1019054404>  at
9:59am April 27Di derah Gowa Sul-Sel tepatnya di puncak Gunung
Bawakaraeng biasanya ada ritual haji yg dilakukan oleh penduduk Islam
setempat, mereka berpendapat ber-Haji di situ sama saja pahalanya dengan
Haji di Mekkah.
Tetapi oleh MUI dan pemerintah setempat sudah sering melarang dan
membubarkan pelaksanaan Haji tesebut.
Karena syariat yg sesat atau karena income yg bisa hilang ?

Mohamad Ridwan <http://www.facebook.com/s.php?k=100000080&id=1343813250>
at 10:32am April 27hehehe...ke2nya kli ya, banyak sekali depag dpt
income dri stu..trus kloke Gn. bwakaraeng hrus di bekali jga teknik
hidup di alam bebas..biar ga ada korban..-)

Kirim email ke