Memperhatikan berita TV tadi malam,

Disebutkan JK tdk menghadiri suatu sidang cabinet oleh karena urusan lain.
Pihak secretariat negara menghubungi JK dan mempersilahkan JK utk hadir dan
sekiranya karena suatu keperluan lain yang sangat penting maka
ketidakhadirannya bisa diterima dan dimaklumi. 

 

Suatu fakta yg bisa dipahami dengan sudut pandang berbeda-beda tergantung
dari kepentingan penyaji berita ini atau kepentingan penerima/pembaca berita
ini.

Yg terjadi adalah kemudian meluncur suatu berita seolah2 JK meninggalkan SBY
dan tdk bertanggung jawab atas jalannya roda pemerintahan yg mestinya saat
ini masih mjd tangggung jawab bersama SBY-JK. 

Dg penyajian model di atas audiense bisa saja menarik kesimpulan bahwa SBY
menjadi pesakitan yg disakiti oleh JK.

Namun berita yg sama bisa juga disajikan dg penekaan lain dimana seolah2 JK
dibuat sedemikian rupa shg tdk hadir dalam sidang kabinet tsb shg dari sudut
demikian terjadi kesimpulan yg sebaliknya dimana JK-lah yg menjadi pesakitan
yg disakiti oleh kelompok SBY.

 

Sebagai audiens mestinya cukup cerdas utk mau mendengarkan dan mencari
pemberitaan dari berbagai sumber agar tdk terjebak pada suara arah dg
diinginkan oleh suatu pihak ttt atau salah menangkap pesan shg kemudian
mengambil suatu kesimpulan yg kurang tepat. Itulah misi jurnalistik yg
mengedepankan pemberitaan secara akurat dab berimbang.

 

Kondisi perpolitikan Indonesia yg menghangat, dan sebenarnya merupakan hal
yang wajar dan lumrah dalam setiap ajang pemilu, seringkali membuat rakyat
kebingungan melihat pertarungan para politisi, dan sulit mengidentifikasi
mana yang benar-benar memperjuangkan aspirasi rakyat dan mana yang hanya
semi mengejar ambisi pribadi, kepentingan pribadi dan kelompoknya. 

 

Cacut marut negara Indonesia mencuatkan kembali harapan hadirnya sosok
satrio piningit yang diharapkan tampil memimpin bangsa ini keluar dari
maslah rumit bagai benang kusut. Di masa lalu satrio piningit dipahami sbg
seorang tokoh atau ribadi pembebas yg mampu ngudari (mengurai) keruwetan
bangsa. Namun saat ini makin disadari oleh para spiritualis Nusantara bahwa
satrio piningit bukanlah seorang pribadi tunggal, melainkan sosok2 manusia
nusantara yg terpanggil utk mengabdikan dirinya demi bersama-sama dengan
satrio2 piningit nusantara lainnya utk bahu-membahu membangun kembali negeri
tercinta ini. 

 

Gambaran satrio2 piningit ini lebih menggambarkan kesatuan dan keutuhan
bangsa ini dg dinyatakan dg semboyan "bhineka tunggal ika, tan hana dharma
mangrua."

Dalam spiritulitas menurut ajaran katolik gamabaran serupa dinyatakan dalam
apa yg disebut "Tubuh Mistik Kristus" dimana masing2 pengikut Kristus
merupakan bagian2 unik dari tubuh mistik Kristus. Ada yg bekerja sbg tangan,
kaki, lutut, bahu, jantung, mata dst, dg keunikan masing2 shg mata tidak
bisa protes kepada keunikan kaki dan tangan tdk bisa protes thd keunikan
mulut. Namun ketika kaki tersandung, maka mulut akan ikut merasakan dan
berteriak aduh-aduh biyung. Maka sekalipun anggota2 tubuh itu memiliki peran
unik masing-masing mereka tetap meupakan satu kesatuan utuh. 

 

Begitu juga negeri ini, masing2 komponen negara baik di sektor swasta,
pejabat pemerintah, LSM, suku2, rakyat biasa semua dg peran masing2 bekerja
bahu membahu supaya negara ini tumbuh berkembang mjd bangsa yg sehat serta
sejahtera. Namun ketika salah satu pihak terluka, maka luka itu juga akan
dirasakan oleh bagian2 lain dari komponen bangsa besar ini.  

  

Maka dalam kondisi yg cacut marut ini marilah jangan saling menyalahkan
tetapi saling bahu membahu bekerja sama membangun negeri.

Dan doa litani katolik yg indah di bawah ini mungkin bisa menjadi mantera
bersama yg bisa didaraskan oleh semua orang dari berbagai latar belakang
agama/kepercayaan utk membangunkan dan membangkitkan satrio-satro piningit
bangsa ini dari tidurnya; sebab setiap dari anda adalah satrio piningit yg
diharapkan. Pesan satrio peningit oleh Yesus dinyatakan dg pesan "Jadilah
Terang". Semoga awan gelap segera menyingkir dari bumi Nusantara. 

   

 


Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai.

Bila terjadi kebencian,
Jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan,
Jadikanlah aku pembawa pengampunan
Bila terjadi perselisihan,
Jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kebimbangan,
Jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi kesesatan
Jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kecemasan,
Jadikanlah pembawa harapan
Bila terjadi kesedihan,
Jadikanlah aku sumber kegembiraan.
Bila terjadi kegelapan,
Jadikanlah aku pembawa terang.

Tuhan, semoga aku lebih mengibur daripada dihibur
Memahami daripada dipahami,
Mencintai daripada dicintai.
Sebab dengan memberi aku menerima,
Dengan mengampuni aku diampuni,
Dengan mati suci aku bangkit lagi,
Untuk hidup selama-lamanya.

     

Salam persaudaraan dalam damai selaras,

 

Sony H Waluyo

 

* You are what you think about. Beware of your mind. 

Internal Virus Database is out of date.
Checked by AVG.
Version: 8.0.238 / Virus Database: 270.0.0/1484 - Release Date: 6/4/2008
4:40 PM


Kirim email ke