Satu Dunia.net melaporkan bahwa pada pertengahan bulan April
2009 yang lalu Radio Suara Porong FM dan Sahabat Komunitas Kita menggelar lomba
menulis cerpen bagi korban lumpur Lapindo. Nampaknya anak-anak ini sangat
antusias dengan lomba ini hingga tercatat lomba diikuti oleh 93 siswa masing 14
siswa SMU, 30 siswa SMP, 49 siswa SD. 



Semoga publikasi kisah anak-anak ini mampu mengusik hati nurani atau bahkan 
membuat malu
para elit politik yang hanya sibuk memikirkan kursi dan kekuasaan.

   

Untuk mendapatkan seluruh karya-karya anak-anak ini silah kunjung



http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/04/jerit-anak-anak-korban-lapindo-di.html


berikut ini adalah salah satu petikannya



Aku seorang anak kecil yang masih belum cukup umur, untuk bisa merasakan
pahitnya penderitaan. Namaku Iswatul, sekarang aku berusia 12 tahun. Aku ingin
berbagi cerita tentang kepedihan yang aku rasakan kepada kalian semua para
sahabatku yang setia pada suara FM.



Hal pertama yang akan aku ceritakan bahwa aku adalah anak yang periang dan
ingin punya banyak teman. Aku juga mempunyai satu harapan yang ingin. Aku gapai
untuk

meniti masa depanku menjadi seorang yang berguna bagi nusa dan negara. Dan yang
paling penting aku ingin membuat orang tuaku bahagia dengan melihat anaknya
berhasil meraih cita-citanya menjadi seorang guru.



Oleh karena itu aku selalu giat berlajar dan tidak mau mengecawakan kedua orang
tuaku. Sampai pada saat itu, ketika umurku genap 9 tahun, terjadilah suatu
musibah yang tidak pernah terlintas dibenakku. Entah aku masih belum mengerti
apakah itu musibah atau mungkin ujian dari Tuhan yang diberikan untuk kami
semua para penduduk di desa sirinig, porong dan sekitarnya.



Tapi, kenyataannya musibah itu disebabkan karena ulah manusia yang kurang
bertanggung jawab pada pekerjaannya. Saat itu akumasih ingat betul, ketika
semburan

lumpur panas PT. Lapindo Brantas mulai menenggelamkan sedikit demi sedikit
semua rumah – rumah penduduk yang ada disekitarnya. Bukan hanya rumah-rumah
saja

melainkan seluruh berbagai acam bangunan pabrik-pabrik, gedung sekolahan,
tokoh-tokoh bahkan persawahan para penduduk juga ikut di telannya tanpa
tersisa. Aku dan keluargaku adalah salah satu diantaran ribuan orang yang
menjadi korban bencana itu, hanya bisa meratapi nasib yang sudah menjadi takdir
kami.



Aku tetap harus bisa tersenyum di hadapan orang lain, walau dalam hati ini
menangis. Apalagi kesedihan ini semakin bertambah di kala aku menyaksikan
banyak orang-orang yang masih belum merelakan seluruh harta bendanya raib
begitu saja. Mereka bahkan sampai menjadi sakit, ada juga yang menjadi gila,
dan yang lebih parah lagi ada yang meninggal dunia akibat tidak kuat menghadapi
kenyataan yang pahit ini.



……………..



Dan seiring dengan berjalannya waktu akupun bisa menjadi semakin lebih dewasa
dalam menyikapi hidup ini. Aku tidak boleh terpuruk pada keadaan, aku harus
tetap semangat dan giat belajar. Aku ingin membuktikan kalau aku bisa membuat
bangga kedua orang tuaku juga bangsa dan negara. Aku akan tetap berjuang untuk
menggantungkan cita-citaku setinggi langit.



Aku harus bisa membahagiakan keuda orang tuaku, karena akulah yang menjadi 
harapan
mereka satu-satunya saat ini. Aku juga berharap supaya para pemerintah mau
mendengarkan jeritan-jeritan hati kami dan sungguh-sungguh menepati janjinya
pada rakyat. Jalan hidupku masih panjang, dan akan aku jadikan sebagai
harapanku masa depanku.



Dipetik dari karya ISWATUN VATIMAH juara 1 kategori Sekolah Dasar




      

Kirim email ke