Mengapa harus saling mengumpat dan menyumpahserapahi?
Kaum fanatic mengalami orgasme jika bisa menyumpahserapahi mereka yg dianggap lawan2nya. Maka, setiap kali berusaha meneliti lawannya bukan demi melihat sisi positif lawannya melainkan utk mencari2 kelemahannya. Suatu kelemahan kecilpun akan segera diblow-up shg bisa mjd berita besar utk dijadikan bahan umpatan demi memuaskan libido mencapai puncak2 orgasme. Bahan2 belief system sendiri tak lupa dikumpulkan demi mendapati legalisasi atas kenikmatan yg diperoleh dg sumpah serapah itu. Padahal dr segi idealisme kam fanatik saling berbagi kepentingan yg sama. Perbedaanya hanyalah masalah tata cara saja, walau pd prakteknya idealisme itu mereka laksanakan dg cara2 yg kadang kotor juga. Selain itu, nek wong katolik pake jilbab lalu katoliknya luntur? Apakah nek wong katolik sembahyang dg cara sholat njur gugur kekatolikannya? Kalo tahu nek Bunda Maria jilbapan juga, mengapa mesti mencak2? Kalo tahu nek kristen orthodok koptik yg memulai cara doa sholat, dan nek tahu bahwa sholat juga merupakan suatu bentuk gerakan yoga mengapa mesti alergi dg doa cara sholat atau sebaliknya menolak yoga? Shg jika wong islam benci maksiat, opo wong kristen/katolik juga gak sebel sama maksiat? Mengapa tdk berkolaborasi membahasnya dan bersama2 menemukan solusi yg lebih baik drpd memberantasnya dg cara2 kekerasan. Memberi pelatihan dan lapangan kerja drpd merusak dan membiarkan pelaku maksiat mencari bentuk2 maksiat lainnya. So, yg dibutuhkan hanyalah komunikasi dan pikiran positif bukan saling menggali kelemahan masing2 serta saling melontarkan sumpah serapah demi masturbasi spiritual demi orgasme sesaat. Salam persaudaraan universal dalam damai selaras, Sony H Waluyo * You are what you think about. Beware of your mind.

