“Barangsiapa makan roti ini ia akan hidup selama-lamanya."
(Kis 9:1-20; Yoh 6:52-59)
“Orang-orang Yahudi bertengkar antara
sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat
memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan." Maka kata Yesus kepada
mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan
daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam
dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang
kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah
benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan
daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian
juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah
turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka
telah mati. Barangsiapa makan roti ini ia akan hidup selama-lamanya."
Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat”
(Yoh 6:52-59),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:
· Setiap kali kita berpartisipasi dalam Perjamuan/Perayaan
Ekaristi diperkenankan ‘menerima dan menyantap komuni/Tubuh Kristus’, sebagai
makanan hidup rohani atau iman kita. Apa yang dimakan menentukan kualitas hidup
pribadi orang yang bersangkutan, misalnya ada rumor: “Orang Barat makanan
utamanya antara lain daging maka mereka cerdik,
sementara mayoritas orang Indonesia makanan
utamanya adalah sayur atau rumput maka boleh dikatakan bodoh seperti kerbau’.
Rumor ini jika dikenakan pada binatang mungkin sama
seperti singa atau ular dan kerbau. Setiap kali kita menyambut dan menyantap
komuni Kudus atau Tubuh Kristus berarti kita dihidupi olehNya dan dengan
demikian kita memiliki cara hidup dan cara bertindak sesuai dengan
sabda-sabdaNya atau meneladan cara hidup dan cara bertindakNya, dan dengan
demikian
kita akan hidup selama-lamanya. Hidup
selama-lamanya ini kiranya sudah mulai kita hayati saat ini, yaitu kita hidup
sehat-wal’afiat dan segar bugar baik secara phisik maupun spiritual, jasmani
maupun rohani. Kita telah menikmati ‘makanan dari sorga’ dan diharapkan makanan
tersebut menjadi bekal perjalanan kita untuk kembali ke sorga setelah meninggal
dunia atau dipanggil Tuhan. Maka marilah kita berjalan, hidup dan bertindak
dalam dan bersama dengan Tuhan, senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur,
disukai oleh Tuhan maupun sesama dan saudara-saudari kita. Dengan menikmati
Tubuh Kristus kita juga mewartakan ‘wafat dan kebangkitan Yesus’ dalam cara
hidup dan cara bertindak kita: secara konkret senantiasa mengajak dan
memotivasi sesama untuk ‘hanya mengabdi
Tuhan Allah saja dan menolak aneka godaan setan’.
· “Seketika itu
juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia
bangun lalu dibaptis. Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. Saulus
tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu
juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus
adalah Anak Allah” (Kis 9:18-20) , demikian berita perihal Saulus yang menerima
anugerah baptisan dan Roh Kudus. Peristiwa ini kiranya mengingatkan kita semua
perihal rahmat baptisan yang telah kita terima, maka kita juga dipanggil untuk
‘memberitakan Yesus’, mewartakan cara
hidup dan cara bertindak Yesus, terutama dan pertama-tama melalui cara hidup
dan cara bertindak kita. Salah satu atau mungkin yang utama dari cara bertindak
Yesus antara lain adalah memperhatikan dan mengasihi mereka yang miskin, sakit,
terlantar, lapar dan haus, dipenjara, anak-anak, dst., apa-apa yang duniawi.
Demikian pula ketika mengajar Yesus juga memanfaatkan peristiwa-peristiwa
duniawi sebagai wahana menyampaikan ajaran-ajaranNya. Maka marilah kita
perhatikan dan kasihi saudara-saudari kita yang miskin, terlantar, sakit, lapar
dan haus, terasing, dst.., kita kasihi dan dampingi sebaik mungkin anak-anak
yang dianugerahkan kepada kita, dst.. Fungsikan apa-apa yang duniawi, misalnya
harta benda/uang, jabatan/kedudukan, kehormatan duniawi, sebagai jalan atau
wahana untuk semakin memuji, mengabdi, menghormati dan memuliakan Tuhan di
dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain hayati tugas perutusan, entah belajar
atau bekerja, sebagai ibadah kepada Tuhan, sehingga tempat belajar atau bekerja
bagaikan tempat ibadah, suasana belajar atau bekerja bagaikan suasana ibadah,
sikap dalam bekerja atau belajar bagaikan sikap dalam beribadah, perawatan
sarana kerja atau belajar bagaikan perawatan sarana-sarana ibadah, rekan kerja
dan belajar adalah rekan beribadah. Catatan: Bulan Mei adalah bulan Maria.
Dianjurkan agar devosi kepada Maria
ditingkatkan. Bunda Maria adalah teladan hidup beriman.
“Pujilah TUHAN, hai segala bangsa,
megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan
kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya! “(Mzm 117)
Jakarta, 1 Mei 2009
.
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/