Salam,
Indonesia juga terkenal sebagai negara TERKORUP di Asia dan ke tiga di 
dunia.Apakah itu keberhasilan agama?
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sab, 9/5/09, si Brewok [0_-] <[email protected]> menulis:


Dari: si Brewok [0_-] <[email protected]>
Topik: [Mayapada Prana] Menjadi Islam-Indonesia
Kepada: [email protected]
Tanggal: Sabtu, 9 Mei, 2009, 8:04 PM








Indonesia adalah negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia. Dengan jumlah 
penduduk yang banyak dan wilayah yang luas, Indonesia juga bisa jadi negeri 
pemilik masjid (mushalla) dan pendidikan Islam terbanyak di dunia—mulai dari 
pendidikan anak usia dini, pesantren, hingga pendidikan tinggi. Setiap tahun, 
Indonesia adalah penyumbang jama'ah haji dan umrah terbanyak di negeri 
kelahiran Rasulullah SAW. Meski tidak secara terang-terangan menyebut diri 
negara Islam, tetapi dalam setiap perhelatan negara-negara Islam di dunia, 
suara Indonesia selalu diperhitungkan.

Dengan sejumlah catatan buruk kasus-kasus kekerasan atas nama agama yang 
terjadi akhir-akhir ini, terutama menyangkut pengusiran, pembakaran, dan teror 
atas Jemaat Islam Ahmadiyyah dan gereja-gereja di berbagai daerah,  Indonesia 
masih dikenal sebagai negara yang mampu menerapkan toleransi beragama dan 
kerukunan kehidupan umat beragama terbaik dibanding dengan negara-negara muslim 
lainnya. Muslim Indonesia pun konon memiliki karakter yang khas, terutama dalam 
pergumulannya dengan kebudayaan lokal Nusantara. Meski Islam lahir di Arab, 
tetapi dalam kenyataannya Islam dapat tumbuh kembang dan bahkan sangat 
berpengaruh di bumi Nusantara yang sebelumnya diwarnai animisme dan dinamisme. 

Indonesia pun secara sadar tidak menggunakan label Islam dalam struktur dan 
sistem kenegaraannya. Meskipun Pancasila dan UUD 1945, tetapi aturan-aturan 
kenegaraan dan peraturan perundang-undangann ya tidak bertentangan dengan 
Islam, bahkan sejalan dengan misi Islam untuk mewujudkan keadilan, kedamaian, 
dan kemaslahatan. Di dalam Istana Presiden Indonesia di Jakarta terdapat Masjid 
Baiturrahim, di sampingnya ada Masjid Istiqlal, masjid nasional yang dikelola 
oleh Pemerintah. Begitu juga di hampir seluruh Kantor Gubernur dan Bupati 
se-Indonesia, di depan atau di sampingnya selalu terdapat Masjid Agung yang 
dikelola oleh Pemerintah.

Itulah "Islam Indonesia", "Islam ala Indonesia". Saya memilah term "Islam 
Indonesia" dan "Islam di Indonesia." Sekilas tidak terdapat perbedaan, tetapi 
secara paradigmatik memiliki implikasi yang jauh. Yang digambarkan di atas 
adalah "Islam Indonesia", Islam khas Indonesia, Islam berkarakter Indonesia, 
dan Islam yang menyatu dengan kebudayaan masyarakat Indonesia, tanpa bermaksud 
menundukkan dan menggantikannya menjadi Islam versi Arab. "Islam Indonesia" 
adalah Islam berbaju kebudayaan Indonesia, Islam bernalar Nusantara, Islam yang 
menghargai pluralitas, Islam yang ramah kebudayaan lokal, dan sejenisnya. 
"Islam Indonesia" bukan foto copy Islam Arab, bukan kloning Islam Timur Tengah, 
bukan flagiasi Islam Barat, dan bukan pula duplikasi Islam Eropa. "Islam 
Indonesia" adalah semua Islam itu yang tersaring ke dalam keindonesiaan.   

Berbeda dengan itu, "Islam di Indonesia" memberikan pengertian bahwa Indonesia 
hanya sebagai lokus persinggahan dari Islam. Filosofi, logika, nalar, budaya, 
simbol, bahasa, dan tata cara pergaulan semuanya diadopsi, difoto copy, 
dicangkok, diduplikasi, dan diflagiasi secara sempurna dari Islam Arab. Asumsi 
paradigma "Islam di Indonesia" adalah bahwa Islam itu Arab dengan seluruh darah 
daging kebudayaannya, sejak kelahiran hingga perkembangan dewasa ini. Di 
Indonesia, Islam hanya numpang, singgah, dan menjadi "orang lain" yang--apabila 
bisa akan--menguasai Indonesia. Indonesia harus diislamkan, artinya diubah dan 
diganti dengan Islam Arab atau pseudo-Arab: menjadi negara Islam, secara 
simbolik menyebut Syari'at Islam, berbahasa Arab atau kearab-araban, pakaian 
kearab-araban, dan sejenisnya. Islam model ini tidak ramah dengan kebudayaan 
lokal, malah cenderung memusuhinya.

Di balik "Islam Indonesia" atau "Islam di Indonesia" terdapat pilar keislaman 
yang sangat kuat di Indonesia.  Tanpa pilar ini, Islam tidak akan berkembang di 
bumi Indonesia. Pilar-pilar itu adalah organisasi-organisa si Islam yang sejak 
kelahirannya hingga sekarang terus berjuang dengan caranya sendiri untuk 
mewujudkan Islam di bumi Nusantara. Organisasi-organisa si ini memiliki akar 
jama'ah yang sangat kuat di bawah, yang secara sosiologis berbeda satu sama 
lain. Mereka juga memiliki rasion d'etre sendiri atas kehadirannya di 
Indonesia, mempunyai aset keagamaan, memiliki infrastruktur sampai ke desa, dan 
yang terpenting mereka menggunakan nalar yang berbeda satu sama lain dalam 
memahami sumber ajaran Islam, al-Qur'an dan Hadis.    

Organisasi-organisa si Islam sejenis ini di Indonesia sangat banyak. Di 
antaranya adalah Persyarikatan Muhamadiyyah, Al Irsyad, Persis, Nahdlatul 
Ulama, al-Washliyyah, Perti, Darud Da'wah wal Irsyad, Nahdlatul Wathan, 
Mathla'ul Anwar, dan lain-lain. Organisasi-organisa si Islam ini adalah bagian 
dari peradaban dan kekayaan intelektual "Islam Indonesia." Inilah Islam 
Nusantara yang membentuk kepribadian masyarakat Indonesia yang secara umum 
sangat toleran, dapat hidup rukun dengan agama-agama lain, menerima dasar 
negara Pancasila, menghargai kebudayaan lokal, dan memiliki ikatan sosial yang 
sangat kuat. 

Munculnya isu terorisme, "Islam garis keras", "Islam ekstrim", dan "Islam 
fundamentalis" , yang merongrong dasar negara Pancasila, menggunakan kekerasan 
dalam menegakkan Syari'at Islam, menyuarakan negara Islam dan khilafah 
Islamiyyah, sesungguhnya bukan produksi asli Islam-Indonesia.  Itu adalah 
gerakan Islam transnasional yang diimpor dari negara-negara Timur Tengah.  
Gejala ini muncul sepuluh tahun terakhir saja, setelah rezim Orde Baru tumbang. 
Gerakan Islam transnasional ini juga tidak memperoleh dukungan kuat dari 
mayoritas Muslim Indonesia. Demikian.

Author: Marzuki Wahid  



Penuisan adalah dosen Fak. Syari'ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ISIF 
Cirebon, dan Dewan Kebijakan Fahmina-instutute. Kini sedang riset untuk 
disertasinya selama 1 tahun di The Department of Political & Social Change, 
Research School of Pacific & Asian Studies, ANU College of Asia and the 
Pacific, Canberra Australia. Email address : marzukiwahid@ yahoo.comAlamat 
e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk 
melihatnya 
















      Yahoo! Upcoming: Singapore Arts Festival 2009 15 Mei - 14 Juni 2009. 
Lihat!  http://upcoming.yahoo.com/event/2166746/

Kirim email ke