Mg Paskah VI : Kis 10:25-26.34-35.44-48; 1Yoh 4:7-10; Yoh 15:9-17
“Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."
“Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat maupun
sakit. Saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup sampai maut
memisahkan kita.”, demikian kutipan dari janji pernikahan. Janji ini pada
umumnya diucapkan dengan bangga, gembira dan mungkin juga disertai lelehan air
mata kebahagiaan. Setelah mengucapkan janji tersebut maka pasangan suami-isteri
yang baru berbinar-binar, ceria, penuh senyum bahagia, apalagi ketika sedang
berbulan madu. Pada masa lima tahun hidup bersama sebagai suami-isteri kiranya
ditandai dengan munculnya hal-hal atau masalah-masalah baru yang dapat
menimbulkan ketegangan yang mengarah ke perceraian atau perpisahan. Masa lima
tahun pertama hidup baru, entah sebagai suami-isteri, imam, pekerja dst..
memang sarat dengan masalah dan tantangan baru yang tak terduga sebelumnya.
Janji untuk saling mengasihi baik dalam untung dan malang sampai mati sering
tinggal kenangan, dilupakan. Hemat saya
keberhasilan suami-isteri untuk saling mengasihi baik dalam untung dan malang
sampai mati merupakan dasar utama dan pertama serta penghayatan utama yang
paling kentara dari perintah Yesus : “Inilah perintahKu kepadamu: Kasihilah
seorang akan yang lain”.
“Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain." (Yoh 15:17)
Perintah ini hemat saya secara konkret dan mudah diindrai dan dinikmati dalam
kasih antar suami-isteri, yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap
jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau tubuh, sehingga mereka
bersehati, bersejiwa, berseakal budi dan bersetubuh (hubungan seks). Mereka
saling telanjang hati, jiwa, akal budi dan tubuh, terbuka satu sama lain dan
tiada yang disembunyikan sedikitpun. Mereka sungguh saling memboroskan waktu
dan tenaga sebagai wujud saling mengasihi. Kasih sejati memang harus diwujudkan
dengan memboroskan waktu dan tenaga bagi yang terkasih, sebaliknya jika orang
pelit dalam hal waktu dan tenaga bagi yang terkasih kiranya relasi kasih mereka
mulai terancam atau dalam bahaya.
Perintah “Kasihilah seorang akan yang lain” terarah bagi kita semua yang
beriman atau percaya kepada Yesus Kristus, maka marilah kita saling mengasihi
dimanapun dan kapanpun. Perintah ini kiranya pertama-tama dan terutama kita
hayati bersama dengan mereka yang setiap hari dekat dengan kita, terutama
sesama anggota keluarga dan kemudian dengan rekan belajar atau bekerja dimana
kita juga memboroskan waktu dan tenaga untuk belajar atau bekerja. Jika kita
mampu dan terampil mengasihi mereka yang hidup dan bekerja bersama kita setiap
hari, maka untuk mengasihi orang lain, yang jauh dari kita akan lebih mudah,
dan sikap serta tindakan kita terhadap yang lain berarti melayani, sebaliknya
jika kita tidak mampu dan tidak terampil mengasihi mereka yang dekat dengan
kita, maka mengasihi yang lain berarti melarikan diri dari tanggungjawab dan
sikap maupun tindakan terhadap yang lain adalah menguasai. Saling mengasihi
memang berarti saling melayani dan
membahagiakan atau menyelamatkan. Bentuk atau wujud kasih yang mendalam dan
sejati kiranya adalah kita tetap mengasihi sesama atau saudara-saudari kita
yang sedang dalam kemalangan (berdosa, cacat, kurangajar, dst..) atau mereka
yang miskin dan berkekurangan. Sapa, sentuh dan perlakukan mereka yang sedang
dalam kemalangan atau sakit (hati, jiwa, akal budi atau tubuh) dengan dan dalam
kasih yang lemah lembut dan rendah hati Sapa, sentuh dan perlakukan mereka
yang nampak seram dan keras dengan dan dalam kasih. Ingat binatang-binatang
buaspun ketika disapa, disentuh dan diperlakukan dengan dan dalam kasih dapat
menjadi sahabat, apalagi manusia sebagai ciptaan terluhur di dunia ini.
“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah
kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu
bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita
hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi
Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai
pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yoh 4:8-10).
Masing-masing dari kita adalah ciptaan Allah, diciptakan dalam dan oleh kasih
Allah bekerjasama dengan orangtua, bapak-ibu kita yang saling mengasihi. Allah
sangat mengasihi kita melalui orangtua atau bapak-ibu kita masing-masing. Kita
semua dipanggil untuk hidup saling mengasihi serta ‘hidup olehNya’, hidup
bersama dan bersatu dengan Yesus, meneladan cara hidup dan cara bertindak
Yesus, menjadi pembawa damai atau pendamai bagi orang-orang berdosa atau yang
saling bermusuhan, membenci atau tidak saling mengasihi. Tentu saja diri kita
masing-masing senantiasa dalam keadaan damai sejati, hidup damai dengan Tuhan,
sesama manusia serta ciptaan-ciptaan lainnya.
Bahasa Latin perdamaian adalah ‘paz, pacis’, yang dapat berarti perdamaian,
ketenteraman dan kesentosaan. Dengan kata lain hidup damai juga berarti
tenteram dan sentosa, kuat dan perkasa, maka perdamaian dapat mengalahkan
permusuhan dan balas dendam. Jika kita cermati dalam hidup sehari-hari kiranya
masih terjadi aneka.permusuhan dan balas dendam di sana-sini, yang disebabkan
oleh aneka macam egoisme dan hedonisme atau aneka perbedaan hati, jiwa, akal
budi maupun kekuatan atau tubuh, SARA atau.selera, dst..
"Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap
orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran
berkenan kepada-Nya.”(Kis 10:34-35), demikian kata Petrus. Setiap manusia atau
orang adalah sama di ‘hadirat/pandangan Allah’: kita sama-sama ciptaan Allah,
sama-sama beriman, sama-sama mendambakan hidup damai sejahatera lahir dan
batin, jasmani dan rohani. Maka untuk hidup saling mengasihi dan berdamai
dengan siapapun, marilah pertama-tama dan terutama kita hayati secara mendalam
apa yang sama di antara kita. Jika kita mampu menghayati apa yang sama di
antara kita secara mendalam, maka apa yang berbeda di antara kita akan
fungsional memperkuat dan memperteguh perdamaian atau hidup saling mengasihi.
Apa yang berbeda di antara kita menjadi daya tarik atau daya pikat untuk saling
mendekat dan saling mengasihi.
Ingat dan cermati bahwa laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tetapi
saling tertarik dan tergerak untuk saling mendekat dan mengasihi, dalam ilmu
phisika unsur minus (-) dan plus (+) dalam listrik bersatu lahirlah sinar
terang yang membahagiakan dan fungsional untuk melihat kebenaran-kebenaran.
Kebenaran insani atau ilahi maupun ilmiah ini hendaknya menjadi acuan atau
pedoman kita bahwa apa yang berbeda menjadi daya tarik dan daya pikat untuk
membangun perdamaian sejati. Kita juga dapat belajar dari hiasan atau dekorasi
bunga yang terdiri dari aneka jenis dan warna bunga sehingga menarik dan
memikat, atau belajar dari anggota-anggota tubuh kita yang berbeda satu sama
lain tetapi kerjasama dan saling membantu demi satu tujuan atau pekerjaan.
Semoga kata-kata kesakian Petrus di atas menjadi pegangan dan pedoman kita
dalam hidup dan kerja bersama dimanapun dan kapanpun.
“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan
perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh
tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan
keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata
bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel,
segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.
Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah,
bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mzm 98:1-4)
Jakarta, 17 Mei 2009
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/