HR KENAIKAN TUHAN : Kis
1:1-11; Ef  1:17-23; Mrk 16:15-20

“Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan
turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya”.



Seorang pemimpin yang akan
bepergian cukup lama, pada umumnya sebelum pergi mengumpulkan anak buah atau
para pembantunya untuk diberi tugas pekerjaan. Hal yang senada juga terjadi
ketika orangtua akan dipanggil Tuhan, yang berarti akan pergi selama-lamanya,
pada umumnya secara otomatis anak-anaknya berkumpul, dan kepada mereka diberi
pesan-pesan atau nasihat-nasihat. Pesan atau nasihat dari mereka yang akan
pergi untuk selama-lamanya pada umumnya sangat mengesan dan mereka yang
menerima pesan atau nasihat tersebut merasa harus melaksanakan pesan atau 
nasihat
tersebut. Mereka akan merasa salah jika tidak melaksanakan pesan atau nasihat
terakhir dari mereka yang akan pergi selama-lamanya tersebut. Hari ini, Hari
Raya Kenaikan Tuhan, dalam warta gembira dapat kita baca bahwa sebelum
terangkat ke surga Yesus mengumpulkan para murid dan memberi pesan kepada
mereka: “Pergilah ke seluruh dunia,
beritakanlah Injil kepada segala makhluk.Siapa yang percaya dan dibaptis akan
diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.Tanda-tanda ini akan
menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi
nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak
akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan
orang itu akan sembuh.” (Mrk 16:15-18) . Para murid
atau rasul terpanggil untuk melaksanakan pesan Yesus tersebut.

 

“Mereka
pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan
meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya” (Mrk 16:20)  


 

 “Dikumpulkan
untuk disebarluaskan”, itulah motto hidup merasul atau diutus. Para
rasul kurang lebih selama tiga tahun dikumpulkan oleh Yesus, hidup dan makan
serta tinggal bersama Yesus. Selama bersama dengan Yesus para rasul
mendengarkan ajaran-ajaran Yesus serta menyaksikan apa yang dilakukan atau
dikerjakan oleh Yesus. Setelah Yesus terangkat ke surga, para rasul diberi
tugas untuk melanjutkan karya pengutusanNya, “memberitakan Injil ke segala 
penjuru, dan Tuhan turut serta bekerja dan
meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya”.  

 

Pengalaman para rasul tersebut
kiranya juga (akan) menjadi pengalaman kita semua, dimana kita telah dididik
dan dibina, entah di dalam keluarga atau sekolah/perguruan tinggi, dan setelah
selesai mengalami proses pendidikan atau pembinaan akhirnya kita disebarluaskan
atau tersebar ke mana-mana untuk bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuan
kita, untuk mempraktekkan aneka ilmu yang telah kita timba dan geluti selama di
dalam pendidikan atau pembinaan. Selama bekerja dimanapun dan kapanpun kita
dipanggil untuk menjadi ‘pewarta-pewarta Kabar Gembira’, menggembirakan dan
menyelamatkan sesama serta lingkungan hidup dimana kita hidup dan bekerja.
Untuk itu kita diharapkan bekerja sebaik mungkin, bekerja secara efisien,
efektif dan afektif apapun yang menjadi pekerjaan kita. Bekerja erat
hubungannya dengan Tuhan, diri sendiri, keluarga, masyarakat dan alam sekitar
atau lingkungan hidup dan selama bekerja hendaknya berbudi pekerti luhur, yang
mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: ”bekerja
keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut,
berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja,
bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang
rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur,
berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai
karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah,
pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih
sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap
adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh,
tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet “(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman
Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997.. Jika kita bekerja
dengan berbudi pekerti luhur, percayalah, imanilah Tuhan pasti meneguhkan kerja
kita dengan aneka tanda atau mujizat yang membahagiakan dan menyelamatkan. 

 

“Aku
meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu,
supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan
benar.Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti 
pengharapan
apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian
yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus” (Ef 1:17-18)  .   

 

Orang yang bermata hati terang
berarti senantiasa berpandangan, berpikiran dan bersikap jernih, dan dengan
demikian senantiasa berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun. Bermata hati
terang berarti juga dapat melihat dan mencermati segala sesuatu dengan jelas,
dapat membedakan apa yang baik dan buruk, dan orang akan tergerak atau
termotivasi untuk cenderung melakukan apa yang baik serta menolak yang buruk.
Rasanya karena aneka kesibukan dan tawaran kenikmatan duniawi yang marak saat
ini, cukup banyak orang berhati remang-remang atau gelap, sehingga hidup dan
bertindak ngawur dan amburadul, maka baiklah kepada siapapun yang berhati
remang-remang atau gelap kami ajak dengan rendah hati berpartisipasi dalam
kegiatan Novena Pentekosta, ‘supaya Ia
menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang
terkandung dalam panggilanNya’. 

 

Panggilan Tuhan bagi kita semua
adalah agar kita hidup suci dengan mempersembahkan diri seutuhnya kepada
Penyelenggaraan Ilahi di dalam hidup sehari-hari. Kiranya kit semua mendambakan
hidup suci itu, maka marilah kita sungguh mengharapkannya, dengan kata lain
kita hayati keutamaan harapan. Orang yang memiliki harapan pada umumnya hidup
bergairah, terbuka, dinamis, siap sedia dan rendah hati; ia siap sedia untuk
diperbaharui, siap sedia menanggapi atau menghadapi aneka kemungkinan yang akan
terjadi. Marilah kita renungkan dan refleksikan kutipan ini, sebagai orang yang
berharap: "Engkau tidak perlu
mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu
akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai 
ke ujung bumi” (Kis 1:7-8)..   

 

Kita berharap agar “Roh Kudus turun ke atas diri kita semua”, Roh
Kudus adalah anugerah agung dari Allah, dan itulah yang menjadi pengharapan
kita semua sebagai orang beriman. Anugerah Roh Kudus akan menjadi nyata jika
kita juga siap sedia dan terbuka untuk menerimaNya. Sebagai tanda atau gejala
bahwa kita siap sedia dan terbuka untuk menerima anugerah Roh Kudus adalah
dengan rendah hati dan tiada kenal lelah kita berusaha untuk mulai menghayati
buah-buah Roh Kudus antara lain “kasih,
sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,  
kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal
5:22-23). Anugerah Allah akan menjadi nyata di dunia ini, di dalam hidup
sehari-hari butuh kerjasama dari kita yang mendambakan atau mengharapkannya.
Untuk itu memang selayaknya kita meneladan Bunda Maria, teladan umat beriman,
yang menanggapi sabda atau perintah Tuhan: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba 
Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu
itu." (Luk 1:38)

 

“Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan
diiringi bunyi sangkakala. Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah
bagi Raja kita, bermazmurlah! Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi,
bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran! Allah memerintah sebagai raja atas
bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas takhta-Nya yang kudus” (Mzm 47:6-9)

 

Jakarta, 21 Mei
2009




      Pamer gaya dengan skin baru yang keren. Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru 
sekarang! http://id.messenger.yahoo.com

Kirim email ke