Karena nila setitik rusaklah susu sebelanga Renungan persaudaraan antar umat manusia
Ungkapan di atas saya kira dapat dengan mudah dipahami maknanya oleh setiap orang, yakni bahwa suatu perbuatan seseorang yg buruk dapat merusak seluruh citra orang ybs. Namun dalam praktek hidup bersama baik sbg pribadi dan antar kelompok pesan ungkapan itu ternyata tidak mudah dipahami. Konflik2 kecil berkembang mjd konflik2 besar baik antar kelompok di lingkup group2 di RT, suku, negara, dan agama, seringkali dimulai dr kecurigaan yg timbul dari suatu keburukan atau kelemahan kecil/sepele. Adalah kenyataan bahwa sulit menjumpai orang yg sempurna, ada-ada saja kelemahannya; tetapi bukan krn satu dua kelemahannya itu menjadikannya sama sekali buruk dan jahat. Kita sering mendengar orang solo/jogya dikatakan halus, sopan, lembut tetapi sekaligus karakter itu mjd bahan olok2 wong jogya/solo kelawat lamban, atau ttg orang batak yg tegas dan cepat, tetapi seing jadi bahan olokan sbg nekad dan memaksa. Konflik antar agama juga sering timbul oleh karena cap2 semacam itu, padahal tdk ada di dunia ini agama yg mengajarkan ttg perilaku buruk melainkan selalu mendorong semangat persaudaraan, saling tolong dan saling mengasihi. Refotnya, seringkali karena berita burung yg tdk jelas, atau hanya oleh kerena suatu perilaku yg lemah dari seorang anggota atau sekelompok anggota, para pemeluk agama saling tuding keburukan agama2 lain. Contoh praktis adalah dukun klenik yg praktek santet atau dukun cabul, selama ini menjadikan banyak orang jawa/Nusantara menganggap spiritualitas2 jawa/Nusantara seperti kejawen, sunda kawitan, samin, badui, paliman, agama2 dayak, agama2 asli sulawesi/makasar dll. sebagai bentuk2 spiritual yg menyimpang dan sesat. Orang jawa/Nusantara mjd asing dengan spiritualitas asli bangsanya sendiri bahkan menganggap diri sbg keturunan orang2 liar dan kafir yg tdk mengenal Tuhan shg pasti jahat pengikut setan. Hal ini mendorong manusia2 Jawa/Nusantara mengimpor produk2 luar negeri, namun yang lebih parah adalah hilangnya martabat dan harga diri, terlebih krn anggapan-anggapan demikian itu menjadikan manusia2 jawa/Nusantara terpecah-pecah dalam kelompok2 yg saling mencurigai berdasarkan agama2 yg mereka anut itu. Lah wong ajaran agamanya saja sering kali belum paham, sudah menilai ajaran agama lain, kok ya yg dilihat dan disorot2 dari ajaran lain kelemahannya saja. Namun dalam hidup bersama toh dapat dengan mudah dijumpai masyarakat plural beda suku agama yg hidup rukun saling tolong dan dukung baik di perkantoran ataupun di lingkup kelompok masyarakat kecil spt RT/RW. Ternyata orang jawa yg baik banyak tapi mereka sekaligus punya kelemahan ini itu. Tenyata orang Palembang yg baik banyak tapi mereka sekaligus punya kelemahan ini itu. Ternyata orang Papua yg baik banyak tapi mereka sekaligus punya kelemahan ini itu. Tenyata orang Islam yg baik banyak tapi mereka sekaligus punya kelemahan ini itu. Tenyata orang Hindu yg baik banyak tapi mereka sekaligus punya kelemahan ini itu. Tenyata orang Kristen/Katolik yg baik banyak tapi mereka sekaligus punya kelemahan ini itu; dst. dst. Semoga manusia2 Indonesia makin menyadari kenyataan ini dan berbalik saling menghargai kelebihan dan keunggulan kelompok2 lain serta saling menambal utk mengisi kelemahan antar kelompok. Jayalah Bangsaku, Jayalah Nusantaraku. Salam persaudaraan universal dalam damai selaras, Sony H Waluyo * You are what you think about. Beware of your mind.

