Mafia Berkeley  itu mah udah lama , dah sejak jaman baheula, ada apa nih 
diributin, mo jadi pahlawan kesiangan.......
dan hare gene masih berkutat ttg jawa non jawa, waduh kasihan para pendiri 
bangsa yang telah membuat "sumpah pemuda" sampai hampir seabad nggak ada 
efeknya....
dasar kaum opportunis.....




________________________________
From: Al Faqir Ilmi <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; Umi Khasanah 
<[email protected]>; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; Mayapadaprana 
<[email protected]>; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; Mediacare <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Sent: Thursday, May 28, 2009 12:25:16 PM
Subject: [Mayapada Prana] Mafia Berkeley di Pintu Istana





Mafia Berkeley di Pintu Istana


Boediono dikhawatirkan jadi pintu masuk kepentingan ekonomi Amerika-Yahudi di 
Indonesia. Melabrak UUD 45.
 
SAAT awal-awal berkuasa, Soeharto dikerumuni tim khusus bidang ekonomi jebolan 
Universitas Berkeley, California, AS. Mereka, seperti Prof Widjojo Nitisastro, 
Ali Wardhana, Emil Salim, Soebroto, Moh Sadli, JB Soemarlin, dan Adrianus Mooy, 
bertugas menyusun sistem perekonomian di Indonesia.
 
Saking besarnya dominasi mereka dalam menerapkan konsep ekonomi liberal gaya 
AS, tim ini akhirnya mendapat julukan miring: mafia Berkeley. Bahkan, tak hanya 
doktor ekonomi lulusan Berkeley yang masuk dalam jaringan ini, tapi beberapa  
alumni universitas papan atas di AS juga dituding ikut membawa misi hegemoni AS 
di Indonesia.
 
Kini, meski Soeharto dan Orba-nya telah tumbang, jaringan mafia Berkeley tetap 
bercokol. Beberapa doktor ekonomi yang dituding masuk jaringan ini antara lain 
Sri Mulyani, Moh Ikhsan, Chatib Basri, dan Boediono. Makanya, ketika SBY 
memilih Boediono sebagai cawapresnya, lontaran penolakan langsung menggema. 
Doktor ekonomi jebolan Universitas Pennsylvania, AS itu dikhawatirkan membawa 
kepentingan ekonomi Amerika.
 
“Kita bertahun-tahun mengkhawatirkan tim ekonomi kita lagi-lagi dikuasai oleh 
Mafia Barkeley dengan paradigma ekonomi neoliberalnya. Ternyata sekarang SBY 
tidak hanya melanggengkan praktik ekonomi neoliberal dengan cara memilih tim 
ekonomi di kabinetnya saja, tapi malah menunjuk cawapresnya, Boediono yang 
sudah jelas-jelas garis ekonominya neoliberal,” cetus ekonom Indef (Institute 
for Development of Economics and Finance), Hendri Saparini kepada Indonesia 
Monitor, Sabtu (16/5).
 
Kekhawatiran Hendri cukup beralasan. Sebab, runtuhnya perekonomian nasional tak 
 bisa dilepaskan dari peran mereka. Di sisi lain, Amerika akan menghalalkan 
berbagai cara untuk mengamankan kepentingannnya di Indonesia dengan power 
ekonomi Yahudi-nya yang dikenal ambisius itu. Presiden AS Barrack Obama yang 
memiliki ayah tiri orang Indonesia, juga tak menjamin negerinya tidak akan 
mencapuri  urusan dalam negeri Indonesia. 
 
Bahkan, awal Mei lalu, saat mendeklarasikan bulan Mei sebagai bulan 
Yahudi-Amerika (May Jewish American Heritage Month), Obama secara implisit 
mengakui bahwa negara AS adalah negara Yahudi. Ia mengatakan bahwa, “AS tidak 
akan menjadi negara yang kita kenal sekarang tanpa keberhasilan yang diraih 
kaum Yahudi Amerika.”
 
Meski warga Yahudi di AS kurang dari tiga persen, tapi dominasinya sangat luar 
biasa. Terbukti, dengan populasi sekecil itu, mereka berhasil memenangkan 25 
persen hadiah nobel. Selain itu, bangsa Yahudi menguasai 20 persen eksekutif di 
AS dan 22 persen anggota mahasiswa jenius di AS adalah Yahudi.
 
Apakah tangan-tangan mereka ikut “bermain” di Pilpres 2009 dengan mendukung 
terpilihnya Boediono sebagai tandem SBY? “Kita juga khawatirkan itu,” ujar 
Hendri.
 
Namun, di mata pengamat hukum tatanegara Irman Putra Sidin, yang perlu 
dikhawatirkan justru komposisi caprescawapres yang mengabaikan keterwakilan 
Jawa dan non-Jawa. Padahal, UUD 45 mengisyaratkan perlunya komposisi yang adil 
dalam pemerintahan.
 
“Soal Jawa non-Jawa, itu memang ada konstitusional base-nya. Dalam pasal 6a 
ayat 3 UUD, disebutkan bahwa presiden yang terpilih, yang dilantik sebagai 
pasangan calon presiden, dia harus menang 50 persen lebih,” kata Irman Putra 
Sidin kepada Indonesia Monitor, Jumat (15/5).
 
Bahkan, menurut Irman, tidak cukup 50 persen lebih. Ke depan, lanjut Irman, 
jika  ada dua pasangan calon presiden, orang berpikir hanya satu kali putaran, 
padahal belum tentu. “Dia harus menang di lebih dari 50 persen provinsi di 
seluruh Indonesia. Dan minimal dia mendapatkan suara 20 persen di setiap 
provinsi. Dalam konteks ini, Jawa luar Jawa menjadi penting. Sebab mereka harus 
mendapat legitimasi di 33 provinsi, sehingga mitos Jawa luar Jawa sebenarnya 
memang memiliki basis konstitusional,” paparnya.
 
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi, 
mengatakan, Boediono diperkirakan sulit menjalankan tugas wakil presiden karena 
memiliki sifat tertutup. Sifat ini akan menghambat koordinasi menteri di 
kabinet mendatang bila SBY terpilih lagi sebagai presiden.
 
“Boediono memang pintar dan menguasai ekonomi. Tapi dia akan kesulitan untuk 
melakukan koordinasi dengan menteri-menteri lainnya,” ujar Sofjan Wanandi, 
Senin (11/5).
 
■ Moh Anshari, Sri Widodo
http://www.indonesi a-monitor. com/main/ index.php? option=com_ 
content&task=view&id=2201&Itemid=33 




      

Kirim email ke