kalau membaca ini kelihatannya pak leo sudah berpengalaman ya
----- Original Message -----
From: leonardo rimba
To: undisclosed recipients:
Sent: Thursday, September 24, 2009 4:56 AM
Subject: [Mayapada Prana] Wanita Anti Poligami
PERCAKAPAN 1: WANITA ANTI POLIGAMI
T = Jika Mas Leo berkenan,
Bisakah Mas Leo menjelaskan lebih rinci, mengapa poligami dapat tetap
dan terus berjalan hingga kini meski kita tahu bahwa mudharatnya lebih besar
daripada manfaatnya? Para pria pelaku poligami tetap dan terus tumbuh seperti
jamur. Padahal, jelas mereka melakukan prostitusi yg dilembagakan secara sadar
dan terang-terangan. Menjijikan.
J = Poligami dapat terus berjalan sampai kini karena masih banyak
wanita yg mau menerima poligami. Kalau sudah tidak ada wanita yg mau menerima,
maka habislah poligami. Wanita mau menerima poligami biasanya dengan alasan
ekonomi, yaitu tergantung dari si pria. Wanita-wanita yg tidak mempunyai
penghasilan sendiri, atau yg merasa penghasillannya belum cukup, sangatlah
mudah untuk menerima menjadi salah satu istri. Motivasinya adalah uang,
ekonomi. Ada juga wanita yg mau menerima poligami dengan alasan "cinta" (dalam
tanda kutip).
Cinta sebenarnya berarti napsu berahi. Jadi si wanita merasa
gatel-gatel melihat burung si pria. Dan si pria pemilik burung ini mau saja
mematuk kanan kiri, apalagi tidak harus mengeluarkan biaya sepeserpun. Yg
dilakukannya hanyalah memberikan jatah sex kepada wanita yg mau diperistrinya.
Poligami jenis ini juga cukup banyak.
Alasan lainnya adalah pria mudah bosan. Setelah beberapa tahun menikah
dengan wanita yg sama, biasanya pria akan mulai melirik ke kiri kanan, siapa
tahu ada wanita yg mau menawarkan diri. Lampu hijau selalu diberikan oleh sang
wanita terlebih dahulu. Kalau wanita tidak memberikan green light, maka pria
tidak berani maju. Dan green light dari para wanita kesepian juga tidak kurang.
Di mana-mana kita bisa menemukan wanita-wanita yg melirik pria lain. Wanita
bersuami yg melirik pria beristri, maupun wanita single melirik pria bersuami.
Lirik-lirikan is the first step. Setelah itu curhat. And after that, apa yg
terjadi terjadilah. Bisa dilanjutkan dalan institusi poligami, bisa juga
diselesaikan di kamar hotel saja. Bisa ngamar sekali dua kali saja, bisa juga
ngamar dalam jangka waktu panjang.
T = Saya melihat dan dapat merasakan wanita-wanita yg menjadi korban
kasus ini. Bisa jadi, karena mereka bodoh dan berpikiran sempit, sehingga
merasa tidak ada jalan ke luar yg lain selain menerimanya.
J = Wanita yg menerima poligami biasanya menerimanya dengan "terpaksa"
(dalam tanda kutip). Sebenarnya keterpaksaan tetapi jarang diakui karena
masyarakat kita adalah masyarakat munafik. Bilang tidak pedahal ya...
Alasan yg umum adalah faktor ekonomi atau ketergantungan si wanita
kepada pria. Ini yg paling umum. Alasan kedua, dan sama kuatnya, adalah rasa
malu. Malu kalau menjadi janda. Jadi, daripada menjadi janda, lebih baik
menerima suaminya kawin lagi. Pedahal menjanda bukanlah suatu aib. Janda bisa
menikah lagi, bisa juga punya banyak brondong. Saya malah kenal seorang wanita
bersuami yg punya sampai dua brondong. Dan kelihatannya oke saja karena si
wanita beralasan pria suaminya dingin sekali. Dan si wanita tidak merasa harus
bercerai dengan suaminya.
Pernikahan tetap berlangsung, wanita dan pria itu tetap suami istri,
tetapi si wanita memiliki satu atau beberapa simpanan pria lain. Ini kasus yg
normal juga, walaupun, tentu saja, lebih banyak kasus pria yg memiliki satu
atau beberapa simpanan wanita lain. Perceraian tidak diinginkan karena pasangan
suami istri merasa sudah cukup stabil. Pernikahannya stabil dan bisa dicapai
saling pengertian dengan pasangan masing-masing. Dan mungkin cara ini lebih oke
dibandingkan dengan di AS di mana satu diantara dua pernikahan beakhir dengan
perceraian. Daripada kawin cerai lebih baik punya piaraan aja.
T = Namun sebagian dari mereka yg telah menemukan dirinya dapat dengan
tegas berkata TIDAK. Meski harus sambil berjuang keras untuk menyembuhkan luka
bathinnya. Akibat yg jelas muncul akibat praktek poligami yg dilakukan secara
paksa oleh sang suami adalah dampak psikologis yg menyebabkan sang wanita
kehilangan kepercayaan dirinya. Dan butuh waktu yang sangaaaaaattt lamaaaaa
untuk menyembuhkannya.
J = Banyak juga wanita yg tidak mau menerima poligami dan memilih untuk
bercerai. Ada juga yg tidak bercerai tapi berpisah. Ibu Fatmawati tidak
menerima poligami, tetapi tidak bercerai. Dia ke luar dari istana sebagai
protes dari praktek obral burung pelatuk yg dilakukan oleh Presiden Sukarno.
Fatmawati statusnya tetap sebagai istri resmi, tetapi tidak lagi hidup sebagai
suami istri. Ini juga kasus pengecualian, jarang terjadi.
Sang wanita tidak perlu trauma juga, sebenarnya. Kalau pria bisa
berpoligami, maka wanita juga bisa ber "poliandri" (dalam tanda kutip).
Poliandri artinya satu wanita yg digilir oleh banyak lelaki atawa
memiliki berbagai macam koleksi burung. Saya kenal ada satu wanita di Jakarta
yg memiliki anak hasil dari hubungan gelap dengan pria cem-cemannya. Dan suami
resmi si wanita tidak tahu. Malahan suami resmi ini sayang sekali sama anak
hasil hubungan gelap istrinya yg tentu saja tidak perlu dibeberkan kepada
khalayak ramai. Saya tahu, memang, tapi saya tidak akan melaporkan hal itu.
It's none of my business.
Cuma saya curious aja waktu itu, bagaimana caranya si wanita bisa
menentukan ini anak hasil dari hubungan gelap dan bukan dari si suami. Si
wanita bilang rasanya laen. Masuknya beda, something like that which I still
don't understand karena saya bukanlah ahli berhubungan badan, apalagi dengan
wanita istri orang.
T = Poligami paksa adalah bentuk lain dari pengkhianatan. Dan dapat
membunuh wanita secara perlahan. Tentu akibat perasaan inferior yg terus
menerus terpupuk. Adik perempuan saya memilih diceraikan setelah menerima
pengakuan suaminya yg telah menikah lagi dan punya anak dari wanita lain. Meski
harus melewati proses pengadilan yg panjang karena si suami keukeuh
mempertahankannya. Bagi adik saya hidup sendiri jauh lebih baik dibandingkan
menerima kenyataan bahwa si suami jelas-jelas pulang ke rumah after having sex
with another woman yg katanya secara sah juga merupakan istrinya.
J = Jelas jauh lebih baik karena dia sendiri tidak mau menerimanya.
Kalau tidak mau menerima di-poligami, ya bercerailah, as simple as that.
T = Secara detil adik saya mengungkapkan rasa sakitnya dengan
menggambarkan seperti kulit lepas dari dagingnya. Ia sempat kehilangan
keseimbangan, masuk rumah sakit dan dirawat, rambutnya yg hitam legam serta
merta memutih tiba tiba padahal usianya baru 34 tahun. Sedikit cerita tentang
adik saya di atas hanyalah satu dari banyak kisah menyakitkan yg dialami wanita
yg dipaksa menerima poligami.
J = Bisa dimaklumi karena adik anda ditipu mentah-mentah oleh suaminya.
Menikah lagi secara diam-diam adalah salah satu bentuk penipuan. Kalau
tidak mau terima, ya cerailah, dan tidak perlu juga merasakan trauma
berkepanjangan. Masih banyak pria lain yg mau kepada seorang janda. Mungkin
adik anda bisa menikah kembali, walaupun agak susah juga di Indonesia mengingat
usianya sudah di pertengahan 30-an tahun. Tapi, kalau mau cuma having fun saja,
kesempatannya boleh bilang tidak terbatas.
Menurut pendapat saya, kalau adik anda memiliki penghasilan sendiri,
lebih baik tidak usah menikah lagi. Kawin saja, dan tidak perlu menikah lagi.
Banyak pria-pria burung belang di luar sana yg akan menyatroni adik anda dengan
setia. Tapi harus diberikan lampu hijau dulu, green light. Lampu hijau
datangnya selalu dari sang wanita. Setelah itu mulai curhat-curhatan, dan
berakhir dengan apa yg kita kenal sebagai apa yg terjadi terjadilah...
It usually works like that.
+
PERCAKAPAN 2: WANITA ANTI KAMUFLASE
T = Mas Rimba,
Ini profile photo JADUL sampean ? Enak nggih dunia anak-anak, rukun
tidak dipolitisir ?
J = Itu udah dipolitisir juga, disuruh pake topi kerucut dan disuruh
makan kue taart, udah gitu dipotret. Namanya sosialisasi gaya hidup borjuis
atawa kelas menengah perkotaan. That was also part of politics...
T = Jujur pada diri sendiri. Berbesar jiwa. Berendah hati. Tenyata
tidak mudah karena tidak disadari sejak kecil kita diajari KAMUFLASE.
J = Bahkan sejak dalam kandungan telah di-telepati-kan kepada sang
jabang bayi bahwa kita harus menjadi semacam robot syariat. Semua pengaturan yg
dibuat manusia adalah syariat, walaupun tentu saja ada excuses semacam Allah,
adat, dsb... Robotisasi itu sosialisasi, yg anda bilang sejak kecil, dan saya
bilang bahkan sejak dalam kandungan. Robot harus selalu menggunakan program.
Kalau tidak pakai program akhirnya terbongkarlah segalanya bahwa ternyata kita
bukan robot melainkan manusia. Real human beings.
Kenapa harus terus jadi robot ? Kenapa harus terus ber-kamuflase ?
Lepaskan saja semuanya, dan kita tidak akan kemana-mana, tidak akan bablas ke
neraka para robot. Bahkan ketika segala kamuflase itu kita lepaskan, kita cuma
akan menjadi diri kita sendiri saja yg asli. Real human beings.
Kita manusia Indonesia sampai saat ini tidak real, kita ber-kamuflase,
terutama kalau berbicara tentang Tuhan. Pedahal waktu lahir kita tidak mengenal
Tuhan. Kita cuma kenal orang tua kita, sanak-saudara, dan kita ternyata
biasa-biasa saja. Tetapi mulai masuk sekolah kita diperkenalkan oleh gaya hidup
munafik, yaitu sedikit-sedikit akan berbicara tentang Tuhan. Kita diajarkan
untuk ber-kamuflase dengan mengucapkan bismillah, alhamdulilah, insyaallah,
innalilahi, minal aidin wal faizin, dll...
Ini semuanya kamuflase. Dan termasuk di sini segala belief systems
bahwa wanita adalah makhluk lemah yg harus dilindungi. Pedahal wanita aslinya
lebih kuat dibandingkan pria. Pria itu lemah sekali, makanya harus menciptakan
belief systems yg menekan wanita. Ketika wanita ditekan, maka otomotis
spiritualitas atau kerohanian kita ditekan. Agama-agama yg menekan wanita
semuanya bukanlah agama yg kultivasi spiritualitas melainkan kamuflase belaka.
Islam, Kristen masa lalu, Hindu Buddha, bahkan Kejawen... yg menekan wanita
untuk tunduk di bawah kaki pria adalah kamuflase.
Kamuflase adalah penipuan diri sendiri, dan terutama dipraktekkan oleh
mereka yg berlindung di balik agama dan adat. Para ulama dari semua agama itu
mempraktekkan kamuflase. Mereka menekan wanita dengan berbagai macam alasan,
pedahal yg mereka tekan adalah spiritualitas mereka sendiri. Karena ditekan,
wanita tidak bisa menjadi diri mereka, harus selalu berpura-pura tunduk kepada
pria. Pada pihak lain, pria yg menekan juga tidak bisa menjadi diri mereka
sendiri.
Ulama-ulama Islam yg mempraktekkan poligami cuma berimajinasi dengan
"ridho" (dalam tanda kutip)... Ridho dari Allah itu cuma fantasi yg dibuat oleh
kaum pria pencipta agama Islam. Penipuan diri sendiri. Kamuflase. Dan wanita
merasa tidak berdaya menghadapinya. Pedahal bisa berdaya juga. Bisa minta
cerai, bisa ke luar dari Islam. Bisa minta asylum di kedutaan negara Barat yg
menghormati HAM.
Sampai sekarang banyak wanita Indonesia yg diinjak-injak HAM-nya oleh
para pria dengan alasan Islam belum tahu bahwa kita bisa minta perlindungan PBB
dan negara maju. Caranya mudah saja, yaitu masuk ke salah satu kedutaan besar
negara Barat, dan setelah ada di dalam lalu membacakan pernyataan tentang
segala macam kebiadaban pria berdasarkan Islam yg telah dilakukan terhadapnya.
Lalu si wanita menyatakan mencari perlindungan karena dirinya tidak aman.
Istilahnya meminta asylum atawa suaka politik.
Kalau permohonan itu dikabulkan, maka si wanita akan eng ing eng...
ber-indehoy ke negara maju secara gratis atawa cuma-cuma, dan di sana akan
dielu-elukan sebagai seorang pejuang HAM yg berani melawan kesewenang-wenangan
para pria.
Dan, ini bonusnya, you would later know that, as a matter of fact,
bahwa ternyata pria bule itu jauh lebih manusiawi dalam memperlakukan wanita.
Dibandingkan pria beraliran Wahabi, pria bule sangat manusiawi. You shall be
treated as an equal. Sederajat. Sederajat artinya bukan budak.
Dan di negara-negara Barat yg menghormati HAM tidak perlu lagi ada
kamuflase. Kamuflase cuma perlu di negara terbelakang seperti Indonesia.
Indonesia termasuk terbelakang dalam sikap dan perilaku karena pengaruh Islam
masih cukup dirasakan. Tetapi hal ini juga berubah terus, semakin lama semakin
oke... Semakin banyak pengaruh Islam yg dibuang, maka semakin oke-lah negara
dan masyarakatnya.
We are heading toward it.
+
Leo
@ Komunitas Spiritual Indonesia
<http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.
------------------------------------------------------------------------------
Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.