BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
913 Belajarlah dari Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW
Pengasuh kolom ini, yang mantan Wkl Ketua I HMI Cabang Bandung pertengahan thn
sembilan belas lima puluhan, menyatakan bela sungkawa atas musibah yang menimpa
lembaga kemhasiswaan HMI, yang lahir pada zaman Revolusi, oleh ulah anggota
Densus 88 Aiptu Sutrisman dgn gerombolannya mengobrak abrik Sekretariat HMI
Cab.Makassar dan menzalimi beberapa anggota HMI, mengutuk sekeras-kerasnya
tindakan tidak beradab dari anggota Densus 88 Aiptu Sutrisman dgn gerombolannya
itu dan ta'ziah untuk semua anggota HMI yang dianiaya di Sekretariat HMI dan
dipukuli di Polwiltabes Makassar oleh Briptu Sardi, serta mendesak Kapolda
Sulselbar untuk mencopot Kapolwiltabes Makassar sebagai pertnaggung-jawaban
struktural, dan sesudah itu menyatakan pengunduran diri sebagai
pertanggung-jawaban moral. Patut diduga itu sebuah grand design
skenario/setting membenturkan mahasiswa vs polisi untuk mengalihkan focus
perhatian mahasiswa dan masyarakat dalam hal mengawal keputusan DPR yang
menetapkan memilih opsi C ttg skandal Bank Century. Dan Kapolda Sulselbar Irjen
Pol Adang Rochjana adalah korban grand design tsb.
***
Pada Selasa 2 Maret 2010 Marzuki Alie dari Partai Demokrat yang tidak
demokratis(*) dalam memimpin sidang, yang beragama Islam, tidak belajar dari
Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW bagaimana caranya memimpin sidang yang demokratis.
Palu sidang digodamkan untuk menutup sidang secara otoriter. Tidak memberi
kesempatan kepada peserta sidang untuk mengeluarkan pendapat, dan tidak tahu
menskors rapat untuk memberi kesempatan kepada mereka untuk berembuk secara
bebas (melobi) antara satu dengan yang lain.
Berfirman Allah SWT dalam Al-Quran:
-- WADz QAL RBK LLMLaKt ANY JA'AL FY ALARDh KhLYFt QALWA ATJ'AL FYHA MN YFSD
FYHA WYSFQ ALDMAa WNhN NSBh BhMDK WNQDS LK (S. ALBQRt, 2:30), dibaca: waidz
qa-la rabbuk lilmala-ikati inni- ja-'ilun fil.ardhi khali-fatan qa-lu- ataj'alu
fi-fa- may yufsidu fi-ha- wanahnu nusabbihu bihamdika wanuqaddisu laka, artinya:
-- Ingatlah ketika Maha Pengaturmu berfirman kepada Para Malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka
berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah atasnya, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"
Buat apa Allah SAW memberitahu kepada kita ummat manusia melalui wahyu yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tentang peristiwa dialog antara Allah
dengan para malaikat? Jawabnya supaya kita ini dapat belajar dari peristiwa
itu. Allah Maha Kuasa dan para malaikat adalah makhluq yang tinggi nilai
kwalitas ketaatannya kepada Allah SAW. Lalu mengapa pula Allah Yang Maha Kuasa
memberitahu kepada para malaikat yang sangat taat kepada Allah itu? Bukankah
Allah berbuat sekehendakNya? Inilah pelajaran buat kita ummat manusia (wahai
Marzuki). Sedangkan Allah Yang Mahakuasa itu memberi kesempatan kepada para
malaikat yang sangat taat itu untuk mengeluarkan uneg-uneg (brain storming)
tentang suatu keputusan yang akan diambil, maka apapula kita manusia ini yang
amat tidak kuasa tidak memberikan kesempatan kepada peserta sidang yang sangat
rendah kadar ketaatannya ketimbang ketaatan malaikat kepada Allah SWT, untuk
melibatkan mereka itu dalam proses pengambilan keputusan? Inilah gaya
kepemimpinan yang Allah ajarkan kepada kita (wahai Marzuki) melalui informasi
dialog antara Allah dengan para malaikat, yaitu gaya kepemimpinan yang terbuka,
manajemen terbuka. Dengan gaya manajemen terbuka ini yang dipimpin merasa
terlibat dalam proses pengambilan keputusan itu. Konsekwensinya mereka merasa
ikut bertanggung jawab dalam pelaksanaan hasil keputusan. Dan selanjutnya akan
merasa bertanggung jawab pula dalam memelihara / mengamankan keputusan yang
telah ditetapkan itu. Jadi gaya manajemen terbuka akan menghasilkan partisipasi
yang dipimpin dalam melaksanakan dan memelihara apa yang telah disepakati /
diputuskan itu. Inilah gaya manajemen partisipatif. Ini baru teorinya,
bagaimana dengan aplikasinya?
Untuk itu kita perlu melihat pada Sunnah RasuluLlah SAW. Pada waktu Madinah vs
Makkah yang tatkala itu berupa Negara Kota (City States)yang dalam keadaan
perang, oleh jaringan intel pihak Madinah mengendus bahwa tentara Makkah sudah
siap untuk menyerbu Madinah guna membalas kekalahan mereka dalam Perang Badar.
Maka Rasulullah SAW sebagai Kepala Negara dan Panglima Perang mengumpulkan
penduduk Madinah untuk bermusyawarah. Dalam musyawarah itu Rasulullah
mengeluarkan gagasan / tawaran bagaimana kalau bertahan dalam kota saja.
Sesudah Rasulullah SAW mengemukakan tawaran itu, beliau memberi kesempatan
kepada penduduk Madinah untuk melobi antara satu dengan yang lain, karena
tampaknya banyak yang berkasak-kusuk di antara mereka. Hasilnya ialah pada
umumnya penduduk Madinah tidak sependapat dengan gagasan Rasulullah SAW. Dengan
Hamzah RA sebagai juru bicara dikemukakanlah alasan mengapa mereka tidak
sependapat. Kota Madinah tidak terlindung seluruhnya untuk menghadapi serangan
frontal. Memang ada benteng Yahudi dan jajaran pohon-pohon kurma sebagai
benteng alam terhadap pasukan berkuda, akan tetapi ada pula bagian / lini yang
terbuka. Akhirnya diputuskanlah bahwa pasukan Quraisy dari Makkah harus
dihadang di luar kota dengan posisi bukit Uhud sebagai benteng alam yang
melindungi pasukan Madinah dari belakang.
Itulah tehnik Rasulullah SAW dalam aplikasi manajemen partisipatif itu.
Masakan Rasulullah tidak tahu bahwa bertahan di Madinah adalah tidak taktis Ini
adalah disengaja, agar gagasan tentang bertahan di luar kota bukanlah gagasan
dari atas, melainkan gagasan yang timbul dari bawah, dalam kalangan mereka
sendiri. WaLlahu a'lamu bisshawab.
---------------------------------
(*)
Demokrasi ada yang positif yaitu kedaulatan rakyat yang dibatasi menurut qaidah
ushul fiqh dalam perkara 'aadat (non ritual) yaitu mubah (dibolehkan) dan tidak
diharamkan sampai Allah dan Rasul-Nya (Nash) melarangnya. Singkatnya: Semua
boleh asal tidak dilarang Nash. Contoh: kedaulatan rakyat diharamkan membuat
Undang-Undang membolehkan homoseksual dan lesbian. Sedangkan demokrasi ada pula
yang negatif yaitu kedaulatan rakyat yang tidak terbatas (liberal) atau dengan
redaksional yang memperalat nama Tuhan: suara rakyat adalah suara Tuhan.
Contoh: kedaulatan rakyat membuat Undang-Undang membolehkan homoseksual dan
lesbian.
*** Makassar, 7 Maret 2010
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2010/03/913-belajarlah-dari-al-quran-dan-sunnah.html