Banyak orang mengira bahwa pengalaman hanya berhenti dlm emosi, dan tdk
menyadari bhw cara menangani emosinya membentuk pikirannya yg selanjutnya
membentuk pengalaman hidup.
Pada kenyataannya, think first and experiences come later.

Hari minggu lalu anak wedok jatuh di tangga saat lari ke lantai atas, dan
kakinya mengalami luka robek kecil dan berdarah. menangislah ia dg keras.
Ibunya yg lagi sakit datang menolong dg panic, melihat luka di kaki itu.
Aku bilang, kalem saja. gak papa luka kecil, namun mungkin krn kondisi
istriku yg kurang fit, krn lagi sakit, membuatnya sedikit panic dan jengkel
dg sikapku yg santai saja. Ia bersikeras menunjukkan luka yg perlu perhatian
itu..
Batinku waduh. nek terlalu panic malah anaknya makin meraung keras menangis.

Lalu anakku ditanya, pengin apa. ia jawab pengin bebek goreng. wah nek siang
begini sok susah dapet makanan jenis ini.. ditawar gimana klo ayam gepuk. si
kecil mengangguk dan segeralah aku ngabur berburu ayam..
Setelah aku pulang dg ayam si kecil makan dg lahap dan melupakan rasa sakit
di kakinya. dengan semangat ia jalan sendiri nambah nasi. wakakak.

Dalam banyak hal, seringkali emosi mempengaruhi cara berpikir dan sudut
pandang dlm menganggapi masalah dan kesulitan termasuk penderitaan. Jika
merasa tertekan dan marah, suatu keadaan nampak sedemikian menekan hidup dan
rasanya makin menderita. Padahal jika bisa melihat dr sudut pandang lain,
sering kali penderitaan hanya akan menguatkan utk mampu mengatasi banyak
masalah lainnya. 

Pikiran adalah generator pengalaman hidup, tinggal bagaimana mampu
mengendalikannya utk menciptakan pengalaman2 hidup.. Suka atau duka tinggal
bagaimana mengendalikan emosi dan pikiran itu.

Bagi seorang pemulung ia sangat bersyukur dg barang2 yg kita buang sbg
sampah di kotak sampah depan rumah kita.

Kita mungkin juga perlu berpikir dr sudut pandang lain melihat konflik
politik dan rangkaian bencana yg nampaknya masih akan terus terjadi ini.

Salam damai selaras, 

Sony H Waluyo

* You are what you think about. Beware of your mind. 

[kesadaran ada di rasa, sulit utk memahaminya dg pikiran. Kita bisa bebas
menyimpulkan apa yg kita lihat dan rasakan. Namun tetaplah sulit
mendefinisikan rasa garam dengan kata2, tapi dg rasa di lidah semua orang
sepakat itulah rasa garam, asin itu pasti asin, pahit itu pasti pahit.
Demikian juga saat dirasa di hati, kasih itu pasti kasih. 
Olah rasa akan dg jelas mendefinikan kesadaran. Olah rasa...olah
kesadaran...intuisi yg akan bermain...menyalurkan cahaya... cahaya adalah
ilmu pengetahuan dan pengetahuan mjd landasan utk bertindak bijaksana dlm
mengolah alam dan kehidupan].

================== 

 

 

 

Kirim email ke